Begini Prospek Kinerja Reksadana di Semester II 2021

Abdul Malik • 02 Jul 2021

an image
Ilustrasi prospek kinerja pasar modal termasuk dan reksadana yang diprediksi positif jika penanggulangan Covid-19 berhasil dilakukan. (Shutterstock)

Potensi rebound dari pasar saham dan obligasi pada semester II 2021 akan turut mendorong reksadana

Bareksa.com - Perdagangan pasar modal Indonesia semester I 2021 telah resmi berakhir pada rabu (30/6/2021). Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sebagai indeks acuan pasar saham Tanah Air harus rela ditutup di bawah level psikologis 6.000, terpatnya berada di level 5.985,49. ​

Dengan level tersebut, IHSG tercatat hanya naik tipis 0,11 persen secara year to date (YtD) atau sepanjang tahun berjalan jika dibandingkan dengan penutupan akhir 2020 di level 5.979,07.

Sepanjang semester I 2021, pasar modal di seluruh negara termasuk Indonesia masih dibayangi oleh sentimen negatif penyebaran virus Covid-19.

Pada awal tahun ini, sebenarnya IHSG sempat bergerak positif dengan kenaikan yang atraktif. Tepatnya, pada perdagangan 13 Januari 2021 saat hari pertama vaksinasi Covid-19, di mana IHSG ditutup pada level 6.435,21 (7,63 persen YtD) dan menjadi yang tertinggi sepanjang semester I 2021.

Namun, pergerakan IHSG lambat laun mulai turun hingga pada 19 Mei 2021 berada di level 5.760,58 (-3,65 persen YtD). Level tersebut merupakan yang terendah sepanjang enam bulan pertama perdagangan saham tahun ini.

Seiring kinerja IHSG yang relatif flat, mayoritas kinerja indeks reksadana juga ikut tertekan. Menurut data Bareksa, sebanyak 5 dari 8 indeks reksadana mencatatkan kinerja negatif sepanjang enam bulan pertama di 2021. Hanya 3 indeks reksadana yang membukukan kinerja positif.

Tiga indeks reksadana yang berhasil bertahan di tengah gejolak pasar akibat pandemi Covid-19 di semester I 2021 ialah indeks reksadana pasar uang yang naik 1,63 persen, disusul indeks reksadana pasar uang syariah dengan imbal hasil 1,58 persen, serta indeks reksadana pendapatan tetap syariah bertambah 0,33 persen.

Indeks reksadana yang mencatatkan penurunan di antaranya indeks reksadana saham syariah yang anjlok 8,21 persen sepanjang tahun berjalan (year to date/YtD) hingga 30 Juni 2021. Kemudian disusul indeks reksadana saham turun 6,35 persen, indeks reksadana campuran syariah tertekan 2,54 persen, indeks reksadana campuran minus 2,23 persen, serta indeks reksadana pendapatan tetap berkurang 0,36 persen.

Sumber : Bareksa

Prospek Reksadana Semester II 2021

Menurut analisis Bareksa, meski paruh pertama menjadi periode yang kurang menguntungkan bagi industri reksadana, prospek kinerja reksadana akan tetap positif sepanjang tahun ini. Hal tersebut dikarenakan potensi rebound dari pasar saham dan obligasi pada semester II 2021 akan turut mendorong reksadana.

Salah satu faktor penting yang dapat membawa IHSG ke teritori positif tentunya mengenai penanganan pandemi Covid-19 yang belakangan sedang naik signifikan di Indonesia. Kesuksesan Indonesia dalam mengatasi situasi Covid-19, tentu akan berimbas positif bagi pasar keuangan domestik.

Di sisi lain, adanya langkah tegas dari pemerintah untuk menerapkan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) darurat Jawa – Bali pada 3 – 20 Juli 2021 juga seharusnya semakin meningkatkan kepercayaan pelaku pasar terhadap penanggulangan pandemi ini. Kemudian rencana distribusi vaksin yang semakin agresif juga diyakini dapat semakin menekan angka penyebaran.

Adapun sentimen lain terutama dari Amerika Serikat (AS), kenaikan imbal hasil obligasi AS diprediksi akan lebih terukur (non aggressive tapering). Hal tersebut dapat berimbas positif bagi pasar surat utang Indonesia dan terutama pada reksadana pendapatan tetap.

Selain itu, kenaikan partisipasi investor ritel yang semakin tinggi di Indonesia turut mengurangi ketergantungan pasar terhadap investor asing. Sentimen ini diyakini akan meningkatkan stabilitas pasar modal Indonesia jika terjadi hal-hal yang menimbulkan adanya capital outflow.

Dengan berbagai pertimbangan tersebut, maka kinerja instrumen-instrumen reksadana di semester II 2021 diprediksi akan jauh lebih baik dari semester pertama, dengan skenario di mana reksadana saham akan menghasilkan kinerja terbaik, disusul oleh reksadana campuran, lalu pendapatan tetap dan yang terakhir reksadana pasar uang.

Perlu diketahui, reksadana adalah wadah untuk menghimpun dana dari masyarakat pemodal (investor). Dana yang telah terkumpul tersebut nantinya akan diinvestasikan oleh manajer investasi ke dalam beberapa instrumen investasi seperti saham, obligasi, atau deposito.

Reksadana juga diartikan sebagai salah satu alternatif investasi bagi masyarakat pemodal, khususnya pemodal kecil dan pemodal yang tidak memiliki banyak waktu dan keahlian untuk menghitung risiko atas investasi mereka.

(KA01/Arief Budiman/AM)

***

Ingin berinvestasi aman di reksadana yang diawasi OJK?

- Daftar jadi nasabah, klik tautan ini
- Beli reksadana, klik tautan ini
- Download aplikasi reksadana Bareksa di App Store
- Download aplikasi reksadana Bareksa di Google Playstore
- Belajar reksadana, klik untuk gabung Komunitas Bareksa di Facebook. GRATIS 

DISCLAIMER​
Investasi reksadana mengandung risiko. Investor wajib membaca dan memahami prospektus dan fund fact sheet dalam berinvestasi reksadana.