Penyesuaian Bobot Indeks Saham Mulai Juni, Ini Dampaknya ke Reksadana

Hanum Kusuma Dewi • 21 May 2021

an image
Ilustrasi manajer investasi mengatur portofolio investasi reksadana yang digambarkan dengan timbangan dan koin. (shutterstock)

Diperkirakan akan ada aliran dana ke saham dengan kapitalisasi free float besar

Bareksa.com - Bursa Efek Indonesia akan menyeragamkan metode penghitungan indeks saham menjadi pembobotan sesuai dengan saham beredar. Reksadana saham yang mengacu pada indeks bisa terpengaruh dengan penyesuaian ini. 

Sebelumnya, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dihitung menggunakan metode full market capitalization wighted average. Artinya, semakin besar kapitalisasi pasar, semakin besar porsi bobotnya dalam indeks. Namun, dengan metode capped adjusted free float market capitalization weighted average, akan ada perubahan bobot saham dalam IHSG. 

Metode capped adjusted free float market capitalization weighted average adalah metode penghitungan indeks dengan bobot berdasarkan kapitalisasi pasar saham beredar (free float). Jadi, dengan penghitungan ini, selain market cap, saham beredar juga menjadi poin dalam penghitungan indeks. 

Bagi reksadana indeks saham pasif, yang mengacu pada indeks LQ45 dan IDX30, penghitungan ini tidak berpengaruh lagi. Sebab, indeks LQ45 dan IDX30 sudah menerapkan penghitungan bobot berdasarkan free float sejak 2019. 

Namun, reksadana saham aktif yang mengacu pada IHSG bisa saja mulai menyesuaikan bobot saham mereka. Meski penerapan penghitungan baru akan dilakukan bertahap dalam enam bulan mulai Juni 2021, manajer investasi membutuhkan waktu untuk mulai menyesuaikan portofolio reksadana mereka saat ini. 

Riset Daiwa-Bahana Sekuritas menyebutkan kemungkinan ada rotasi portofolio besar akibat penyesuaian bobot indeks ini. Sebab, 60 persen dana institusi domestik (kelolaan sekitar US$18 miliar) menggunakan IHSG sebagai acuan. "Pembobotan ulang ini bisa mengalihkan dana dari saham dengan kapitalisasi free float kecil ke saham dengan kapitalisasi free float besar," tulis Head of Research Bahana Sekuritas Hadi Soegiarto dalam riset tersebut. 

Menurut perkiraan Daiwa-Bahana, dampak penyesuaian kali ini akan lebih besar daripada penyesuaian IDX30 dan LQ45 yang terjadi pada 2019, dengan nilai dana kelolaan sekitar US$7 miliar. Namun, diperkirakan saham yang sudah mencapai batas 10 persen dalam indeks seperti BBCA akan tidak terpengaruh aliran dana rotasi ini. 

Dampak aliran dana akibat rotasi, menurut Daiwa-Bahana, dapat lebih dirasakan oleh saham berkapitalisasi menengah dan besar dengan fundamental yang diketahui, daripada saham-saham berkapitalisasi kecil. Sebab, investor institusi kemungkinan kecil menyimpang dari pembobotan IHSG untuk saham besar dengan fundamental baik. 

Daiwa-Bahana juga menghitung perkiraan dana masuk atau keluar (inflow-outflow) dari saham-saham yang terpengaruh, serta jumlah hari perdagangan yang diperlukan para investor institusi menyesuaikan pembobotan ini. 

Adapun sejumlah saham dengan kapitalisasi besar yang bobotnya makin besar dalam IHSG berkat penyesuaian ini termasuk saham BBRI, TLKM, BMRI serta ASII. Saham-saham BBRI, TLKM, BMRI dan ASII juga diperkirakan menerima banyak aliran dana akibat penyesuaian bobot indeks ini. 

Di sisi lain, saham-saham berkapitalisasi besar yang setelah penyesuaian, bobotnya mengecil dalam IHSG karena free float-nya juga kecil termasuk HMSP, ARTO, EMTK dan BRIS.  

"Sementara itu, manajer investasi tidak perlu terpaksa memegang sejumlah saham demi menyamakan bobot indeks acuan, sehingga penentuan harga saham bisa lebih sehat." 

Sebagai informasi, IHSG adalah indeks acuan pasar modal dan reksadana berbasis saham. Reksadana saham berfluktuasi tinggi dan disarankan untuk investor agresif jangka panjang. 

***

Ingin berinvestasi aman di reksadana yang diawasi OJK?

- Daftar jadi nasabah, klik tautan ini
- Beli reksadana, klik tautan ini
- Download aplikasi reksadana Bareksa di App Store
- Download aplikasi reksadana Bareksa di Google Playstore
- Belajar reksadana, klik untuk gabung Komunitas Bareksa di Facebook. GRATIS 

DISCLAIMER​
Semua data kinerja investasi yang tertera di dalam artikel ini adalah kinerja masa lalu dan tidak menjamin kinerja di masa mendatang. Investor wajib membaca dan memahami prospektus dan fund fact sheet dalam berinvestasi reksadana.