US Treasury Dongkrak Imbalan SBN, Saatnya Investasi Reksadana Pendapatan Tetap?

Abdul Malik • 22 Mar 2021

an image
Ilustrasi lonjakan US Treasury Yield yang mendongkrak imbal hasil Obligasi Pemerintah Indonesia, sehingga berpeluang mendorong kinerja reksadana pendapatan tetap. (Shutterstock)

Imbal hasil riil obligasi Indonesia masih menjadi salah satu yang tertinggi di kawasan

Bareksa.com - Lonjakan imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat telah menyeret imbal hasil obligasi Indonesia dan menyebabkan harga surat utang terus turun. Di tengah tren ini, bagaimana prospek reksadana berbasis obligasi negara? ​

Head of Investment Specialist PT Manulife Aset Manajemen Indonesia (MAMI) Freddy Tedja menjelaskan kenaikan imbal hasil atau yield obligasi pemerintah AS alias US Treasury disebabkan kekhawatiran meningkatnya inflasi dan suku bunga akibat pemulihan ekonomi.

Proses vaksinasi yang berjalan lancar di AS dan pengesahan stimulus ekonomi senilai US$1,9 triliun mendorong ekspektasi pemulihan ekonomi akan lebih cepat terjadi.

Adapun, pemulihan ekonomi diikuti juga oleh kenaikan inflasi dan suku bunga dan pada akhirnya mendorong kenaikan imbal hasil obligasi. US Treasury menjadi kiblat bagi obligasi negara-negara lainnya.

“Imbal hasil obligasi dunia juga meningkat, tidak terkecuali imbal hasil obligasi Indonesia,” ujar Freddy dalam publikasinya, dilansir Bisnis (21/3/2021).

Namun ekspektasi atas pemulihan tersebut belum memperhitungkan kondisi lain, seperti tingkat pengangguran yang masih sangat tinggi yang membuat inflasi sulit untuk naik secara konsisten dan kebijakan bank sentral yang tetap mempertahankan suku bunga rendah.

“Artinya masih sangat mungkin volatilitas imbal hasil obligasi dunia kembali reda,” jelas dia.

Sementara itu, obligasi Indonesia juga tidak terhindar dari kenaikan yield. Akan tetapi di tengah kenaikan imbal hasil yang terjadi sepanjang tahun berjalan ini, imbal hasil riil (real yield) obligasi Indonesia masih menjadi salah satu yang tertinggi di kawasan.

“Ini sangat menarik terutama dilihat oleh investor asing di negara maju,” imbuh Freddy.

Menurut Freddy, gabungan kondisi inflasi yang rendah, imbal hasil dan suku bunga riil yang menjadi salah satu tertinggi di dunia, likuiditas domestik yang melimpah, dan potensi meningkatnya arus dana asing di tengah kepemilikan yang sudah rendah menjadi faktor pendukung pasar obligasi Indonesia di tahun 2021 ini.

Alhasil, dengan kondisi tersebut ditambah dengan perbaikan fundamental Indonesia dan potensi ekonomi Indonesia sedang menuju ke dalam tahap jalur pemulihan, Freddy menilai saat ini menjadi momen bagi investor untuk mendiversifikasikan investasinya ke reksadana pendapatan tetap.

Di tengah tren suku bunga dunia yang tetap rendah, obligasi dapat menjadi pilihan untuk mengoptimalkan dana yang dimiliki dengan eksposur risiko yang lebih rendah dibandingkan investasi saham.

“Memang diperkirakan tahun 2021 ini imbal hasil investasi obligasi tidak akan sespektakuler tahun 2020. Namun potensi hasil dan peluang di pasar obligasi masih menarik bagi investor yang ingin meminimalkan risiko dan volatilitas,” kata Freddy.

Bagaimana Kinerja Reksadana Pendapatan Tetap?

Saat ini terdapat 46 produk reksadana pendapatan tetap yang tersedia di Bareksa. Berdasarkan daftar reksadana yang dijual di Bareksa, top 10 di antaranya berhasil membukukan imbalan 11,87 persen hingga 32,14 persen setahun terakhir.

Imbalan tertinggi setahun dibukukan Mega Asset Mantap Plus dengan imbal hasil 32,14 persen. Kemudian disusul Sucorinvest Bond Fund dengan imbalan 17,81 persen, Capital Fixed Income Fund 15,41 persen, Syailendra Pendapatan Tetap Premium 14,39 persen dan Cipta Bond 13,37 persen.

Top 10 Reksadana Pendapatan Tetap Imbalan Tertinggi 1 Tahun (per

Sumber : Bareksa

Reksadana pendapatan tetap adalah jenis reksadana yang menginvestasikan sekurang-kurangnya 80 persen dari asetnya dalam bentuk efek utang atau obligasi. Obligasi atau surat utang ini bisa yang diterbitkan oleh perusahaan (korporasi) maupun obligasi pemerintah.

Tujuannya untuk menghasilkan tingkat pengembalian yang stabil. Risikonya relatif lebih besar daripada reksadana pasar uang tetapi lebih moderat dibandingkan saham, sehingga reksadanapendapatan tetap cocok untuk jangka waktu 1 sampai 3 tahun.

​***

Ingin berinvestasi aman di reksadana yang diawasi OJK?

- Daftar jadi nasabah, klik tautan ini
- Beli reksadana, klik tautan ini
- Pilih reksadana, klik tautan ini
- Belajar reksadana, klik untuk gabung di Komunitas Bareksa. GRATIS

DISCLAIMER​
Semua data kinerja investasi yang tertera di dalam artikel ini adalah kinerja masa lalu dan tidak menjamin kinerja di masa mendatang. Investor wajib membaca dan memahami prospektus dan fund fact sheet dalam berinvestasi reksadana.