Strategi Batavia PAM Gaet Lebih Banyak Investor Muda

Perkembangan teknologi telah menjangkau seluruh sudut kehidupan, tidak terkecuali di dunia investasi
Abdul Malik • 25 Feb 2021
cover

Ilustrasi sejumlah investor milenial sedang melakukan transaksi investasi di reksadana menggunakan ponsel. (Shutterstock)

Bareksa.com - PT Batavia Prosperindo Aset Manajemen (Batavia PAM) menyatakan kemitraan manajer investasi dengan agen penjual reksadana daring menjadi sarana yang tepat untuk menjangkau investor, terutama yang berusia muda.

Direktur Sales dan Marketing Batavia Prosperindo Aset Manajemen (Batavia AM) Yulius Manto menuturkan, saat ini perkembangan teknologi telah menjangkau seluruh sudut kehidupan kita sehari-hari, tidak terkecuali di dunia investasi.

"Karena itu, Batavia AM bekerja sama dengan para APERD sebagai salah satu strategi untuk menjaring lebih banyak investor, terutama investor pemula dan yang berusia muda," ujarnya dilansir Bisnis (24/2/2021).

Melalui kerja sama tersebut produk-produk reksadana Batavia AM dapat ditemui di platform APERD daring seperti melalui Bareksa (PT Bareksa Portal Investasi) dan lainnya.

Yulis mengatakan melalui APERD daring investor lebih dimudahkan bertransaksi dan dengan jumlah nominal yang relatif kecil. Selain itu, MI juga dapat menyediakan produk-produk berkualitas sesuai dengan tujuan dan risk profile dari masing-masing investor.

“Menurut pandangan kami, kemudahan dalam berinvestasi ini akan mendorong dan menarik anak-anak muda untuk lebih terlibat dalam berinvestasi sehingga akan membentuk habit mereka ke depan,” katanya.

Jumlah Investor

Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) melaporkan jumlah investor reksadana sepanjang 2020 melesat 78,38 persen jadi 3,16 juta dibandingkan akhir 2019. Bahkan pada Januari 2021 investor reksadana melesat jadi 3,5 juta, atau bertambah sekitar 400.000 investor hanya dalam waktu sebulan.

Direktur Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) Supranoto Prajogo, mengatakan pandemi Covid-19 membuat frekuensi transaksi reksadana meningkat. Sebelumnya, frekuensi transaksi hanya mencapai 500-800 ribu per hari. Sedangkan saat ini sudah mencapai 1-2 juta transaksi per hari.

"Adanya fintech mengakselerasi banyak hal, termasuk transaksi di pasar modal," ujarnya di Jakarta awal Februari lalu.

Laporan Bareksa Mutual Fund Industry, Data Market – Monthly Report December 2020 yang mengolah data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) juga mencatat dana kelolaan industri reksadana nasional pada Desember 2020 juga berhasil melesat 5,79 persen secara year to date (YtD) jadi Rp573,5 triliun.

Nilai itu merupakan rekor tertinggi sepanjang sejarah industri reksadana nasional. Rekor asset under management (AUM) pada Desember 2020 mengalahkan catatan rekor sebelumnya pada Oktober 2019 yang senilai Rp553,26 triliun.

Dana kelolaan reksadana pada akhir tahun 2020 bertambah Rp31,3 triliun dibandingkan Desember 2019 yang senilai Rp542,2 triliun. Adapun secara bulanan, dana kelolaan reksadana Desember 2020 bertambah Rp25,7 triliun atau naik 5 persen dari November 2020 yang senilai Rp547,84 triliun.

Melihat antusiasme masyarakat untuk berinvestasi di reksadana, Apakah kamu sudah investasi reksadana? Demi kenyamanan berinvestasi, pastikan dulu tujuan keuangan dan profil risiko kamu ya!

***

Ingin berinvestasi aman di reksadana yang diawasi OJK?

- Daftar jadi nasabah, klik tautan ini
- Beli reksadana, klik tautan ini
- Pilih reksadana, klik tautan ini
- Belajar reksadana, klik untuk gabung di Komunitas Bareksa. GRATIS

DISCLAIMER​
Semua data kinerja investasi yang tertera di dalam artikel ini adalah kinerja masa lalu dan tidak menjamin kinerja di masa mendatang. Investor wajib membaca dan memahami prospektus dan fund fact sheet dalam berinvestasi reksadana.