Kepemilikan Reksadana di SBN Agustus Naik Jadi Rp150 Triliun, Namun Share Turun

Secara bulanan, kepemilikan reksadana di SBN pada Agustus 2020 meningkat 7,4 persen dibandingkan akhir Juli
Bareksa • 04 Sep 2020
cover

Ilustrasi sejumlah investor analis pasar modal sedang berdiskusi melakukan analisis kinerja investasi reksadana saham obligasi surat berharga negara dengan melihat data di komputer laptop dan kertas bergambar grafik sambil menulis catatan dengan pulpen dan menghitung dengan kalkulator

Bareksa.com - Kepemilikan reksadana di Surat Berharga Negara (SBN) semakin meningkat, baik untuk Surat Utang Negara (SUN) maupun Surat Berharga Syariah Negara (SBSN).

Menurut data Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Kementerian Keuangan (DJPPR Kemenkeu), hingga 31 Agustus 2020, kepemilikan reksadana di SBN menembus Rp150,05 triliun. Nilai itu melonjak 14,6 persen secara year to date dibandingkan akhir tahun lalu yang senilai Rp130,86 triliun. Secara bulanan, kepemilikan reksadana di SBN pada Agustus 2020 meningkat 7,4 persen dibandingkan akhir Juli yang senilai Rp139,7 triliun.

Kenaikan itu ditopang meningkatnya nilai kepemilikan reksada baik di SUN maupun SBSN yang tumbuh masing-masing 6,4 persen dan 9,6 persen secara bulanan. Pada akhir Juli 2020, nilai kepemilikan reksadana di SUN senilai Rp85,77 triliun dan SBSN Rp53,93 triliun. Secara YtD nilai kepemilikan reksadana di SUN naik 3,2 persen dan SBSN melesat 38 persen. Pada akhir tahun lalu kepemilikan reksadana di SUN Rp88,39 triliun dan di SBSN Rp42,47 triliun.

Kepemilikan di SBSN menyumbang porsi 39,2 persen terhadap total kepemilikan reksadana di SBN pada Agustus 2020, atau meningkat dibandingkan akhir tahun lalu yang baru menyumbang 32,4 persen. Sebaliknya, porsi kepemilikan di SUN menurun dari 67,5 persen akhir tahun lalu jadi 60,7 persen pada akhir Agustus.

Namun secara total market share reksadana di SBN menurun dari 4,75 persen di akhir 2019 jadi 4,5 persen pada Agustus 2020.

Kepemilikan SBN Rupiah yang Dapat Diperdagangkan (Rp triliun)

Sumber : DJPPR Kemenkeu

Selain reksadana, penurunan share kepemilikan SBN juga dicatatkan Bank Indonesia (net) dari sebelumnya 9,54 persen jadi 6,74 persen, dana pensiun dari sebelumnya 9,32 persen jadi 6,99 persen dan investor non residen (asing) dari 38,57 persen anjlok jadi 28,24 persen.

Adapun lonjakan share kepemilikan SBN dibukukan perbankan dari sebelumnya 21,12 persen pada akhir 2019 jadi 35,9 persen pada Agustus 2020. Tidak berbeda kepemiikan asuransi di SBN juga naik dari sebelumnya 7,81 persen jadi 8,39 persen.

Reksadana adalah wadah untuk menghimpun dana dari masyarakat pemodal (investor). Dana yang telah terkumpul tersebut nantinya akan diinvestasikan oleh manajer investasi ke dalam beberapa instrumen investasi seperti saham, obligasi, atau deposito.

Reksadana juga diartikan sebagai salah satu alternatif investasi bagi masyarakat pemodal, khususnya pemodal kecil dan pemodal yang tidak memiliki banyak waktu dan keahlian untuk menghitung risiko atas investasi mereka.

Simak ulasan tips untuk memaksimalkan keuntungan berinvestasi di reksadana : Tips Menabung di Reksadana Agar Tujuan Investasi Dapat Tercapai. Investor disarankan untuk selalu menyesuaikan investasi dengan profil risikonya.

***

Ingin berinvestasi yang aman di reksadana dan diawasi OJK?

- Daftar jadi nasabah, klik tautan ini
- Beli reksadana, klik tautan ini
- Pilih reksadana, klik tautan ini
- Belajar reksadana, klik untuk gabung di Komunitas Bareksa Fund Academy. GRATIS

DISCLAIMER

Semua data return dan kinerja investasi yang tertera di dalam artikel ini tidak dapat digunakan sebagai jaminan dasar perhitungan untuk membeli atau menjual suatu efek. Data-data tersebut merupakan catatan kinerja berdasarkan data historis dan bukan merupakan jaminan atas kinerja suatu efek di masa mendatang. Investasi melalui reksadana mengandung risiko. Investor wajib membaca dan memahami prospektus sebelum memutuskan untuk berinvestasi melalui reksadana.