BeritaArrow iconReksa DanaArrow iconArtikel

Waspada Investasi Properti Syariah Fiktif! Ini Cara Aman Beli Rumah

Bareksa07 Januari 2020
Tags:
Waspada Investasi Properti Syariah Fiktif! Ini Cara Aman Beli Rumah
Ilustrasi menabung uang koin dan investasi reksadana untuk membeli rumah

Jika ada penawaran investasi, kenali 2L-nya yakni legal dan logis

Bareksa.com - Kasus penipuan investasi berkedok penjualan perumahan syariah Multazam Islamic Residence yang dijalankan PT Cahaya Mentari Pratama, kemarin (6/1/2020), berhasil dibongkar Polisi Surabaya, Jawa Timur. Total kerugian diperkirakan ratusan miliar rupiah.

Pada kasus dimaksud, tanah perumahan yang dijanjikan ternyata tanah orang lain. Hingga saat ini, polisi masih menyelidiki kasus dimaksud termasuk siapa saja yang diduga terlibat di dalamnya.

Kasus penipuan penjualan rumah syariah, juga ditemukan pada tahun lalu. Polda Metro Jaya mengungkapkan, para tersangka telah menipu 3.680 korban dengan total kerugian mencapai Rp40 miliar. Perumahan syariah itu rencananya akan rampung dibangun pada Desember 2018, di daerah Tangerang Selatan dan Banten.

Promo Terbaru di Bareksa

Tapi, hingga saat ini perumahan syariah seperti yang dijanjikan kepada para korban belum dibangun. Para tersangka malah melarikan diri dengan menggunakan uang para korban.

Imbauan Wakil Presiden
Di sisi lain Wakil Presiden Ma'ruf Amin seperti dikutip Kompas.com (7/1), meminta pengembang perumahaan mengedukasi masyarakat dengan informasi seputar jual beli rumah yang aman. Saat menerima kunjungan Dewan Pengurus Pusat Real Estate Indonesia (DPP REI) di Kantor Wapres kemarin, Ma'ruf Amin mengatakan imbauan tersebut menyusul adanya kasus penjualan rumah secara syariah yang ternyata bodong.

"Timbul yang namanya itu berkedok investasi perumahan bodong. Bodong, bahkan syariah. Saya mohon REI supaya aktif memberikan informasi dan edukasi kepada masyarakat," ujar Ma'ruf.

Wakil Presiden mengimbau, masyarakat untuk aktif mencari informasi yang lengkap dan akurat terkait pembelian rumah sekalipun dilakukan secara syariah. Saat ini jumlah korban yang tertipu perumahan syariah juga cukup banyak dan merugikan masyarakat terutama yang berpenghasilan rendah.

"Jadi kita minta edukasi supaya tidak mudah tertipu terprovokasi oleh oknum-oknum yang melakukan kedok investasi perumahan bahkan syariah. Sehingga banyak masyarakat yang tertipu," katat Ma'ruf.

Sementara itu secara terpisah, Ketua Tim Satuan Tugas Penanganan Dugaan Tindakan Melawan Hukum di Bidang Pengelolaan Investasi (Satgas Waspada Investasi), Tongam Lumban Tobing mengimbau masyarakat untuk berhati-hati ketika ingin berinvestasi dalam bentuk apapun. "Jika ada penawaran kenali 2L-nya yakni legal dan logis. Legal artinya tanyakan izinnya (perusahaan dan bentuk investasi yang ditawarkan,red) dan logis artinya pahami rasionalitas imbal hasilnya," kata Tongam kepada Bareksa.

Beli Rumah Aman

Rumah atau properti bisa menjadi sebuah bentuk investasi. Akan tetapi, dibutuhkan uang yang tidak sedikit dan untuk itu perlu mempersiapkan dana pembelian secara khusus.

Bila kita menghindari berutang atau kredit, kita bisa mengumpulkan uang dengan cara menabung atau berinvestasi. Apapun cara yang dipilih, Bareksa mengimbau untuk mempertimbangkan saran yang disampaikan Wakil Presiden Ma'ruf Amin dan juga Ketua Tim Satgas Waspada Investasi, Tongam Lumban Tobing di atas.

Nah katakanlah cara membeli rumah yang ingin dibeli secara tunai, alias tanpa kredit. Sekali lagi, sebelum membeli rumah yang diincar pastikan dulu legalitas baik keabsahan pengembang perumahan maupun tanah yang ditawarkan untuk dibangun rumah ya.

Katakanlah kamu memilih nabung investasi reksadana di marketplace Bareksa. Adapun jenis reksadana yang kamu pertimbangkan adalah reksadana campuran.

Misalkan saja kamu memperkirakan butuh uang Rp800 juta untuk membeli rumah disekitar Bogor dan Tangerang. Katakanlah kamu memutuskan akan menyiapkan waktu selama 10 tahun untuk menyediakan uang yang dibutuhkan.

Berdasarkan daftar reksadana yang dijual di Bareksa, top 5 reksadana campuran return tertinggi mampu memberikan imbal hasil 121,47 persen hingga 233,71 persen dalam 10 tahun terakhir (per 6 Januari 2020). Secara rata-rata, top 5 reksadana tersebut memberikan imbal hasil 161,40 persen persen dalam 10 tahun atau secara rata-rata 16,14 persen dalam 1 tahun.

Perlu diingat, nilai imbal hasil tersebut adalah berdasarkan kinerja historikal, sehingga tidak menjamin kinerja imbal hasilnya akan serupa dalam satu tahun ke depan. Meski begitu kinerja return di masa mendatang bisa lebih tinggi atau lebih rendah, tergantung kondisi pasar.

Top 5 Reksadana Pasar Campuran Tertinggi 1 Tahun (per 6 Januari 2020)

Illustration

Sumber : Bareksa

Untuk mengetahui nilai investasi bulanan yang dibutuhkan, kamu bisa menggunakan tools Kalkulator Investasi Bareksa.

Dalam kolom Kalkulator Investasi Bareksa, kamu masukkan target dana yang ingin dikumpulkan, jangka waktu investasi, serta return atau imbal hasil per tahun yang diharapkan. Kemudian klik tombol hitung.

Illustration

Sumber : Bareksa

Dari total kebutuhan dana yang kamu perlukan Rp800 juta, kemudian kamu masukkan jangka waktu investasi selama 120 bulan (10 tahun). Hasilnya perkiraan nilai investasi bulanan yang harus kamu siapkan Rp2.734.383 atau setara Rp91.146 per hari.

Illustration

Sumber : Bareksa

Dengan menabung Rp91.146 per hari atau Rp2.734.383 per bulan selama 10 tahun, maka dana pokok investasi yang berhasil terkumpul Rp328.125.964. Tidak hanya itu, karena kamu menempatkannya di reksadana campuran maka berpotensi meraih imbal hasil sehingga total menjadi Rp800 juta. Dengan dana senilai itu, sudah mencukupi keinginanmu untuk membeli rumah impianmu dari pengembang yang sudah kamu cek soal legalitas perusahaan pengembang perumahaan maupun tanah tempat di bangunnya perumahan.

Jika kamu ingin memgumpulkan uang lebih cepat, maka kamu bisa ubah jangka waktu investasi selama yang dikehendaki pada kalkulator investasi. Tertarik untuk mencoba?

Perlu diketahui, reksadana adalah wadah untuk menghimpun dana dari masyarakat pemodal (investor). Dana yang telah terkumpul tersebut nantinya akan diinvestasikan oleh manajer investasi ke dalam beberapa instrumen investasi seperti saham, obligasi, atau deposito.

Reksadana juga diartikan sebagai salah satu alternatif investasi bagi masyarakat pemodal, khususnya pemodal kecil dan pemodal yang tidak memiliki banyak waktu dan keahlian untuk menghitung risiko atas investasi mereka.

Adapun reksadana campuran menempatkan asetnya maksimal 79 persen di saham atau obligasi. Di dalam portofolio reksadana campuran harus ada instrumen saham, obligasi, dan pasar uang.

Tujuan reksadana campuran adalah untuk memperoleh pertumbuhan harga dan pendapatan. Risiko reksadana campuran bersifat moderat tinggi dengan potensi tingkat pengembalian yang relatif moderat tinggi dibandingkan reksadana pendapatan tetap (yang memiliki aset mayoritas pada aset obligasi). (hm)

* * *

Ingin berinvestasi aman di reksadana yang diawasi OJK?

- Daftar jadi nasabah, klik tautan ini
- Beli reksadana, klik tautan ini
- Pilih reksadana, klik tautan ini
- Belajar reksadana, klik untuk gabung di Komunitas Bareksa Fund Academy. GRATIS

DISCLAIMER

Semua data return dan kinerja investasi yang tertera di dalam artikel ini tidak dapat digunakan sebagai jaminan dasar perhitungan untuk membeli atau menjual suatu efek. Data-data tersebut merupakan catatan kinerja berdasarkan data historis dan bukan merupakan jaminan atas kinerja suatu efek di masa mendatang. Investasi melalui reksadana mengandung risiko. Investor wajib membaca dan memahami prospektus sebelum memutuskan untuk berinvestasi melalui reksadana.

Pilihan Investasi di Bareksa

Klik produk untuk lihat lebih detail.

Produk EksklusifHarga/Unit1 Bulan6 BulanYTD1 Tahun3 Tahun5 Tahun

Capital Fixed Income Fund

1.775,04

Up0,58%
Up3,36%
Up0,03%
Up6,77%
Up17,29%
Up44,99%

Trimegah Dana Tetap Syariah

1.325,82

Up0,87%
Up4,24%
Up0,03%
Up5,87%
Up18,86%
-

STAR Stable Income Fund

1.925,53

Up0,51%
Up2,96%
Up0,02%
Up6,04%
Up29,37%
Up64,92%

I-Hajj Syariah Fund

4.821,21

Up0,54%
Up3,05%
Up0,02%
Up6,18%
Up21,87%
Up40,51%

Reksa Dana Syariah Syailendra OVO Bareksa Tunai Likuid

1.140,22

Up0,55%
Up2,80%
Up0,02%
Up4,95%
--

Video Pilihan

Lihat Semua

Artikel Lainnya

Lihat Semua