Temasek: Investasi Sektor Fintech Asia Tenggara Masih Besar Saat Pandemi

Investasi di Indonesia mencapai US$2,8 miliar di semester pertama 2020
Hanum Kusuma Dewi • 26 Nov 2020
cover

Pemandangan air mancur Fountain of Wealth dengan latar belakang gedung Temasek di Singapura, 5 Januari 2017. (khathar ranglak / Shutterstock.com)

Bareksa.com - Perusahaan investasi milik pemerintah Singapura, Temasek, menilai investasi pada teknologi keuangan atau financial technology (fintech) di Asia Tenggara masih cukup besar sepanjang tahun ini, meski ada pandemi Covid-19 yang menghambat pertumbuhan ekonomi. Ke depan, peluang pertumbuhan layanan keuangan digital di Asia Tenggara masih sangat besar. 

Managing Director Investment Temasek Connie Chan mengatakan bahwa aktivitas investasi di Asia Tenggara dan Indonesia masih terus meningkat. Sepanjang semester pertama 2020 (H1 2020), nilai investasi mencapai US$6,3 miliar dengan jumlah transaksi (deal) sebanyak 735. Dari angka tersebut, 47 persen masuk ke unicorn dan 53 persen ke perusahaan lainnya. 

Grafik Investasi di Asia Tenggara dan Indonesia

Sumber: Presentasi Temasek, Fintech Summit 2020

Sementara di Indonesia sendiri, sepanjang semester pertama tahun ini sudah ada investasi sebesar US$2,8 miliar (Rp39 triliun) dengan jumlah 202 transaksi. "Meski dalam masa pandemi, nilai investasi ini lebih tinggi daripada periode sama tahun sebelumnya yang hanya US$1,8 miliar," kata Connie dalam acara Fintech Summit 2020 yang dilakukan secara virtual, 25 November 2020. 

Hal ini juga terlihat dalam pendanaan di sektor fintech di Asia Tenggara yang terus meningkat sejak 2016 hingga 2019. Bahkan, sepanjang semester pertama 2020, funding di sektor fintech lebih tinggi daripada periode sama sebelumnya.  

Grafik Pendanaan Sektor Fintech di Asia Tenggara

Sumber: Presentasi Temasek, Fintech Summit 2020

Ke depannya, Connie melanjutkan, investor masih akan terus masuk ke sektor fintech Asia Tenggara tetapi lebih selektif. Investor akan lebih hati-hati dalam memilih bisnis yang berkelanjutan dan pertumbuhan yang memberikan laba. 

Temasek sendiri memandang Asia Tenggara memiliki populasi besar yang paham teknologi digital, tetapi masih belum terlayani bank (unbanked) atau kurang terlayani oleh bank (underbanked). "Jumlahnya sekitar 50 persen populasi, atau sebanyak 200 juta orang secara akumulasi," ujarnya. 

Perusahaan investasi yang mengelola nilai aset S$306 miliar atau setara Rp32.277 triliun ini fokus pada pertumbuhan sekuler, bukan berdasarkan siklus. Namun, pandemi ini mempercepat penetrasi dan adopsi layanan keuangan digital. Apalagi, peluang dari kebutuhan usaha kecil menengah masih relatif belum penuhi. 

Temasek juga melihat fintech yang berfokus pada pembiayaan (lending) masih populer, dengan berbagai uji coba model kredit dimulai. Sebab, pembiayaan masih menjadi sumber penghasilan bagi berbagai bisnis dalam berkompetisi dengan yang lainnya. 

Untuk memperbesar skala bisnis, dibutuhkan akses kepada nasabah yang besar. Namun, eksekusi adalah kuncinya. Bakar modal di awal masih dibutuhkan untuk menunjukkan kemampuan dalam perbaikan ekonomi dan keuntungan kompetitif jangka panjang. 

Terakhir, Temasek menilai bahwa dukungan regulator sangatlah penting, terutama dalam mendukung inovasi dan investasi infrastruktur. Ekosistem yang terbuka dan inklusif adalah inti dari pertumbuhan yang sehat dan cepat bagi semua pihak. 

"Agenda inklusi finansial, terutama untuk kalangan unbanked dan nasabah di pedesaan, membutuhkan dukungan kebijakan dan insentif yang cukup," kata Connie. 


***

Ingin berinvestasi aman di reksadana yang diawasi OJK?
- Daftar jadi nasabah, klik tautan ini
- Beli reksadana, klik tautan ini
- Pilih reksadana, klik tautan ini
- Belajar reksadana, klik untuk gabung di Komunitas Bareksa. GRATIS