Pemerintah Lebih Optimistis Terhadap Kondisi Ekonomi 2019, Ini Alasannya

Bareksa • 23 Jan 2019

an image
Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati, menjadi pembicara dalam diskusi bertema Green Finance for Sustainable Development pada Pertemuan Tahunan IMF World Bank Group 2018, di Nusa Dua, Bali (9/10). ICom/AM IMF-WBG/Veri Sanovri/2018. ANTARA FOTO/ICom/AM IMF-WBG/Veri Sanovri

Tekanan 2019 tidak seberat 2018, pertumbuhan ekonomi 2019 ditarget 5,3-5,4 persen

Bareksa.com - Pemerintah yakin pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun ini akan lebih baik dibandingkan pada 2018, seiring dengan meredanya tekanan global, meski kondisi yang bisa memengaruhi ekspor masih harus diwaspadai.

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menilai, tekanan yang akan dihadapi Indonesia pada tahun ini tidak akan seberat pada 2018. Oleh karena itu, dia berharap pertumbuhan ekonomi bisa terjaga di angka 5,3-5,4 persen dengan tingkat inflasi di kisaran 3,5 persen.

Sri Mulyani mengatakan, sentimen dari perekonomian global seperti kebijakan The Fed akan cenderung melunak pada tahun ini sehingga kenaikan suku bunga acuan akan melambat.

“Dengan kenaikan suku bunga cepat, dia (The Fed) dikritik oleh Trump dan ekonomi shutdown, kemungkinan Amerika Serikat akan melemah. Sehingga The Fed kemungkinan tidak akan menaikkan suku bunga secepat dulu, mereka akan lebih sabar menunggu. Itu bagus untuk kita, kita tidak akan menghadapi tekanan sebesar 2018,” ujar Sri Mulyani di kawasan Cikini, Selasa (22 Januari 2019).

Dari sisi arus modal asing, Sri Mulyani berharap akan lebih terjaga pada 2019 setelah mulai agak normal pada 2018. Begitu pula dari sisi harga minyak dunia, Sri Mulyani optimistis bisa menurun lagi setelah sebelumnya sempat mendekati harga US$90 per barel.

Dengan kondisi ekonomi global yang lebih stabil tersebut, dia berharap pertumbuhan ekonomi bisa berada di angka 5,3-5,4 persen dengan tingkat inflasi di level 3,5 persen. Kementerian Keuangan pun akan melakukan stimulus untuk bisa mencapai target tersebut mulai dari tax holiday dan insentif fiskal lainnya.

“Berbagai instrumen fiskal itu diharapkan bisa menggerakkan sektor riil sehingga pertumbuhan dijaga di 5,3 persen dan inflasi di level 3,5 persen,” papar dia.

Pengamat Ekonomi Chatib Basri mengatakan, arus modal asing terlihat memang akan masuk ke emerging market termasuk Indonesia. Dengan masuknya modal ke emerging market tersebut diharapkan nilai tukar rupiah bisa lebih stabil. Dia memprediksi, pertumbuhan ekonomi tahun ini bisa berada di angka 5,1-5,2 persen.

Dari sisi domestik, pesta pemilihan umum dan pemilihan presiden yang akan dilakukan tahun ini akan membantu meningkatkan konsumsi dalam negeri. Pasalnya, perputaran uang pada masa pemilihan umum dan pemilihan presiden tersebut cukup besar.

“Keuntungan pemilu banyak, orang kampanye, bikin kaos, panggil artis. Itu distribusi uang luar biasa. Seperti dana saksi, berapa banyak saksi yang dipakai. Satu TPS mungkin dua tiga orang, mereka mesti dikasih makan. Spending-nya berapa. Jadi saya melihat konsumsinya akan naik,” ucap dia.

Namun pemerintah masih perlu berhati-hati untuk menghadapi kondisi ekonomi tahun ini, yakni kecenderungan harga kelapa sawit dan harga karet yang terus menurun sejak Agustus lalu dan bisa mempengaruhi tingkat ekspor. “Sehingga tugas Bu Sri Mulyani tidak akan mudah karena dari sisi penerimaan negara akan kena. Jadi antisipasi untuk daya beli tetap terjaga penting."

(hm)