BeritaArrow iconBerita Ekonomi TerkiniArrow iconArtikel

MARKET FLASH: Obligasi Global Sritex Batal; Penjualan Semen Baturaja Naik 15%

Bareksa11 Februari 2016
Tags:
MARKET FLASH: Obligasi Global Sritex Batal; Penjualan Semen Baturaja Naik 15%
Pekerja menyelesaiakan proyek konstruksi jalan layang tol akses Tanjung Priok di Jakarta, Selasa (5/5). BPS menilai realisasi proyek infrastruktur yang dananya cair pada Mei 2015 itu akan memperbaiki pertumbuhan ekonomi Indonesia yang mengalami perlambatan menjadi 4,71 persen pada triwulan I 2015. ANTARA FOTO/Wahyu Putro A

Pemerintah masukan 30 proyek infrastruktur jadi prioritas utama tahun ini

Bareksa.com - Berikut sejumlah berita terkait korporasi dan pasar modal yang dirangkum dari surat kabar nasional:

PT Sri Rejeki Isman Tbk (SRIL) atau Sritex

Sritex membatalkan rencana penerbitan obligasi global senilai US$420 juta karena penundaan pembangunan pembangkit listrik (power plant). Penundaan pembangunan pembangkit listrik terjadi karena pemerintah telah mengeluarkan paket kebijakan ekonomi terbaru yang berpotensi menguntungkan Sritex.

Promo Terbaru di Bareksa

Presiden Direktur Sritex Iwan Setiawan Lukminto mengatakan emisi obligasi dibatalkan dan perseroan akan memimnta izin lagi dari pemegang saham bila akan melanjutkan rencana tersebut. Sebelumnya, rencana emisi obligasi untuk refinancing dan power plant telah mendapat restu rapat umum pemegang saham luar biasa pada September 2015.

PT Semen Baturaja Tbk (SMBR)

SMBR membukukan penjualan semen 104.572 ton pada bulan Januari 2016, naik 15 persen dibandingkan dengan kinerja pada bulan pertama tahun lalu. Penjualan paling besar disumbangkan dari wilayah Sumatra Selatan dengan volume 68.364 ton, diikuti Lampung 33.001 ton dan Bengkulu 2.305 ton.

Sekretaris Perusahaan SMBR Zulfikri Subli mengatakan kinerja penjualan perseroan lebih tinggi dibandingkan rata-rata industri nasional. Data Asosiasi Semen Indonesia menunjukkan volume penjualan semen nasional pada Januari 2016 tumbuh 5 persen menjadi 5,2 juta ton dibandingkan 4,9 juta ton pada bulan sama tahun lalu.

Proyek Super Prioritas

Pemerintah memasukkan 30 proyek infrastruktur menjadi prioritas utama tahun ini dengan memberikan sejumlah insentif dan kemudahan izin sehingga proyek cepat selesai. Jaminan tersebut tertuang dalam Peraturan Menko Perekonomian Nomor 12/2015 tentang Percepatan Penyiapan Infrastruktur Prioritas. Peraturan tersebut dirilis pertengahan bulan lalu.

Proyek-proyek yang tersebar di Sumatra, Jawa, Kalimantan, Sulawesi dan Papua itu terdiri dari beragam jenis mulai jalan tol hingga infrastruktur pita lebar internet (Palapa Ring Broadband). Sejumlah proyek itu termasuk Light Rail Transit (LRT) di Sumatra Selatan yang dikerjakan oleh PT Waskita Karya Tbk (WSKT), LRT di Jabodetabek oleh PT Adhi Karya Tbk (ADHI), dan PLTA Karangkates yang dikerjakan PT Wijaya Karya Tbk (WIKA).

PT PP Properti Tbk (PPRO)

PPR akan menerbitkan obligasi senilai Rp600 miliar pada Juni 2016 dengan dua seri. Hasil dana penerbitan obligasi itu akan digunakan untuk ekspansi lahan, pendaan proyek jangka panjang dan refinancing utang.

Perusahaan sekuritas yang kemungkinan menjadi underwriter termasuk PT Danareksa dan PT Bahana Securities. Selain obligasi, PPRO juga akan menerbitkan medium term notes (MTN) senilai total Rp300 miliar. Penerbitan MTN dilakukan dalam empat tahap.

PT Sentul City Tbk (BKSL)

BKSL menjalin kerjasama dengan PPRO mengembangkan bisnis properti. Kedua emiten properti tersebut telah menandatangani pembentukan perusahaan patungan alias join venture pada 5 Februari lalu. Adrian Budi Utama, Wakil Direktur Utama BKSL mengatakan, perusahaan patungan tersebut dibentuk dengan modal dasar Rp 100 miliar.

BKSL mengambil porsi mayoritas saham pada perusahaan patungan ini, yakni 51 persen atau menyetor modal sebesar Rp 51 miliar. Sementara PPRO memegang porsi saham sebesar 49 persen atau senilai Rp 49 miliar. Rencananya, perusahaan patungan tersebut akan mengembangkan tiga tower apartemen di kawasan Sentul City.

PT Mitra Pemuda Tbk (MTRA)

MTRA membidik pertumbuhan pendapatan antara 15-17 persen menjadi sekitar Rp 325 miliar hingga Rp 335 miliar pada tahun ini. Emiten jasa konstruksi baja ini baru saja mencatatkan saham perdana di Bursa Efek Indonesia (BEI). Proyeksi tersebut akan didorong oleh kontrak proyek jasa konstruksi yang digarap pada tahun ini.

Bisman Novel Simatupang, Direktur Utama MTRA, berharap pada tahun ini bisa mencatat margin laba sekitar 7 persen. Pertumbuhan pendapatan itu berasal dari penjaringan nilai kontrak sebesar Rp 400 hingga Rp 450 miliar. Dari angka kontrak tersebut, sebesar Rp 320 miliar hingga Rp 330 miliar dapat dibukukan sebagai pendapatan.

PT Sejahteraraya Anugrahjaya Tbk (SRAJ)

SRAJ yang merupakan pengelola bisnis rumah sakit Mayapada Group berencana melanjutkan ekspansi tahun ini dengan investasi sekitar Rp800 miliar. Presiden Komisaris SRAJ Jonatahn Tahur mengatakan akan membangun dua rumah sakit baru di Jakarta dan di Surabaya yang masing masih investasinya Rp400 miliar.

Selain membangun dua rumah sakit baru, SRAJ juga akan memperluas rumah sakit yang sudah ada. Perseroan juga akan melanjutkan proses penawaran umum terbatas (rights issue) senilai Rp1 triliun yang tertunda tahun lalu.

PT Indika Energy Tbk (INDY)

INDY melalui anak usahanya PT Petrosea Tbk (PTRO) akan bersaing dengan PT Astra International Tbk (ASII) untuk meraih izin pengelolaan pusal logistik berikat (PLB). Saat ini Petrosea mengelola pelabuhan di kawasan Kariangau Tanjung Batu, Kalimantan Timur.

Petrosea dan anak usaha Astra yaitu PT Pelabuhan Penajam BUana Taka (Eastkal) masuk daftar 12 perusahaan yang mengajukan diri untuk mengelola PLB. PTRO mengatakan optimis mampu bersaing dari sisi fasilitas dan pengalaman dalam mengelolan pelabuhan Kariangau seluas 126 hektare.

PT BFI Finance Indonesia TBk (BFIN)

BFIN akan menggalang dana senilai Rp5 triliun untuk mendukung target pembiayaan Rp11 triliun tahun ini. Penggalangan dana ditargetkan melalui obligasi Rp2 triliun dan pinjaman bank Rp3 triliun.

Pendanaan pertama obligasi Rp1 triliun akan diterbitkan pada akhir Februari ini. Nilai tersebut naik dari rencana awal Rp500 miliar karena kelebihan permintaan (oversubscribed) hingga 3 kali.

Pilihan Investasi di Bareksa

Klik produk untuk lihat lebih detail.

Produk EksklusifHarga/Unit1 Bulan6 BulanYTD1 Tahun3 Tahun5 Tahun

Capital Fixed Income Fund

1.775,36

Up0,54%
Up3,36%
Up0,03%
Up6,74%
Up17,31%
Up44,99%

Trimegah Dana Tetap Syariah

1.326,18

Up0,93%
Up4,25%
Up0,03%
Up5,89%
Up18,89%
-

STAR Stable Income Fund

1.925,85

Up0,48%
Up2,96%
Up0,02%
Up6,01%
Up29,39%
Up64,87%

I-Hajj Syariah Fund

4.822,06

Up0,51%
Up3,05%
Up0,02%
Up6,14%
Up21,89%
Up40,51%

Reksa Dana Syariah Syailendra OVO Bareksa Tunai Likuid

1.140,38

Up0,49%
Up2,80%
Up0,02%
Up4,93%
--

Video Pilihan

Lihat Semua

Artikel Lainnya

Lihat Semua