Jika BBM Naik Rp3.000/Ltr, Inflasi Naik 9%; Mirza, Deputi Gu

Jika tidak ada kenaikan harga BBM maka inflasi akhir tahun diperkirakan oleh BI dapat mencapai 5,32 persen
Bareksa • 19 Sep 2014
cover

Gubernur Bank Indonesia Agus Martowadojo (kanan) bersama Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia Mirza Adityaswara (tengah) - (ANTARA FOTO/Reno Esnir)

Update 1: Paragrf 6, tambahan opini ekonom Bank Danamon; Paragrf 9, tambahan opini dari Dirut Bosowa Corp; Paragrf 10-13, kapan sebaiknya harga BBM naik

Bareksa.com - Bank Indonesia telah membuat skenario perbandingan antara kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM), ungkap Mirza Adityaswara, Deputi Senior Gubernur Bank Indonesia dalam diskusi kenaikan BBM: dilema defisit transaksi dan inflasi siang ini.

Jika tidak ada kenaikan harga BBM maka inflasi akhir tahun diperkirakan oleh BI dapat mencapai 5,32 persen. Tetapi jika pemerintahan baru akan menaikkan harga BBM jenis premium sebesar Rp3.000 per liter, maka inflasi akan mengalami kenaikan menjadi 9 persen.

"Setiap kenaikan BBM sebesar Rp1.000 per liter dapat mendorong kenaikan inflasi sekitar 1,5 persen," tambah Mirza.

Dalam perhitungan BI, kenaikan BBM sebesar Rp3.000 per liter dapat meningkatkan inflasi sebesar 3,16 persen dengan rincian dampak inflasi langsung sebesar 1,49 persen dan sisanya merupakan dampak tidak langsung.

Menurut Mirza, inflasi tersebut akan dapat diatasi dengan dua cara yakni penambahan suplai dan melalui kebijakan moneter untuk menekan permintaan seperti menaikkan suku bunga acuan (BI Rate).

Dihubungi Bareksa.com, Dian Ayu Yustina, Ekonom PT Bank Danamon Tbk menilai kondisi kenaikan inflasi akibat meningkatnya harga BBM. "Dalam 3 bulan, masyarakat akan terbiasa dengan kenaikan inflasi tersebut dan selanjutnya mungkin inflasi bisa sedikit menurun dan bergerak normal."

"Indonesia seharusnya malu dengan Filipina. Di Filipina harga BBM menggunakan harga pasar, tidak ada subsidi," ujar Mirza.

Rasio-rasio makro ekonomi di Filipina lebih baik dibandingkan di Indonesia, seperti rasio pertumbuhan ekonomi yang lebih besar dari Indonesia yakni sebesar 6,5 persen dan juga memiliki surplus anggaran dalam APBN.

Ditemui diacara diskusi kenaikan BBM: dilema defisit transaksi dan inflasi, Erwin Aksa, Direktur Utama Bosowa Corp. menyampaikan pihak industri akan mendukung kenaikan harga BBM. "Industri hanya perlu kepastian kapan saatnya Pemerintah akan menaikkan harga BBM subsidi."

"Semakin cepat pemerintah mengurangi subsidi BBM, semakin baik," tambah Mirza kepada Bareksa.com.

Saat ini banyak arus dana dari investor asing yang masuk ke Indonesia dan menunggu keputusan Pemerintah memperbaiki melebarnya defisit transaksi berjalan. Keputusan kenaikan harga BBM tidak hanya akan berdampak pada inflasi tetapi juga berdampak pada pasar keuangan dan akan berimbas ke sektor riil.

Berbeda dengan Mirza, Dian menilai akan lebih baik jika Pemerintah menaikkan harga BBM tahun depan, pada saat siklus inflasi sedang rendah, yaitu ketika musim panen kisaran bulan Maret - April.

Selain itu juga tahun depan, Pemerintah baru memiliki kuasa penuh atas budget negara, bisa mengajukan revisi dan memasukkan anggaran kompensasi atas naiknya harga BBM dalam APBN tambah Dian.

(Laporan: Suhendra & Nurul Fauziyah)