Bareksa Insight : Suku Bunga BI Tetap 3,5 Persen, IHSG dan Cuan Reksadana Melesat

Abdul Malik • 24 Jun 2022

an image
Gedung Bank Indonesia. (Shutterstock)

Suku bunga acuan di level terendah sepanjang sejarah ini sudah dipertahankan BI sejak Februari 2021, atau sudah berlaku 17 bulan terakhir

Bareksa.com - Indeks Harga Saham Gabungan serta sejumlah reksadana saham dan reksadana indeks menguat setelah Bank Indonesia (BI) mengumumkan untuk mempertahankan suku bunga acuan di level 3,5 persen kemarin. Suku bunga acuan di level terendah sepanjang sejarah ini sudah dipertahankan BI sejak Februari 2021, atau sudah berlaku 17 bulan terakhir. IHSG pada 23 Juni 2022 naik 0,2 persen ke level 6.998,27. 

Menurut analisis Bareksa, investor menilai keputusan BI tersebut mempertimbangkan perekonomian dalam negeri masih stabil di tengah sejumlah isu global. Selain itu, BI juga mempertahankan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia di kisaran 4,5 - 5,3 persen untuk tahun 2022.

Baca juga : Bareksa Insight : Pasar Tunggu Hasil Rapat BI, Reksadana Ini Cuan 16 - 26 Persen

Senada, pasar obligasi juga naik pasca rilis suku bunga acuan BI tersebut. Imbal hasil (yield) obligasi menguat ke level 7,43 persen dan menopang kenaikan sejumlah reksadana pendapatan tetap, terutama yang berbasis Surat Berharga Negara (SBN). 

Menurut analisis Bareksa, harga obligasi masih memiliki peluang penguatan hingga rilis suku bunga Bank Sentral Amerika Serikat (AS) The Fed bulan Juli yang diproyeksikan masih agresif untuk menekan tingginya inflasi di Negara Paman Sam. 

Lihat juga : Bareksa Insight : Harga Batu Bara Meroket, Reksadana Berbasis Komoditas Cuan 10 - 20 Persen

Apa yang bisa dilakukan Investor?

Analisis Bareksa memprediksi reksadana saham dan reksadana indeks berpotensi bergerak terbatas hari ini, karena minimnya sentimen dari dalam negeri. Selain itu kekhawatiran investor global juga meningkat ihwal ancaman perlambatan ekonomi beruntun (resesi) AS yang dapat berkepanjangan. 

Para pelaku pasar menanti rilis neraca perdagangan nasional bulan Juni yang masih dipengaruhi pergerakan harga minyak dan harga batu bara. Investor disarankan masih bisa cermati reksadana berbasis saham sektor energi.

Kebijakan BI menahan suku bungan acuan juga angin segar bagi kinerja reksadana pendapatan tetap berbasis Obligasi Negara. Analisis Bareksa memperkirakan yield acuan Obligasi Pemerintah Indonesia masih akan bergerak di level 7,4 - 7,6 persen, hingga Rapat Dewan Gubernur Bank Sentral AS berikutnya.

Simak juga : Bareksa Insight : Pasar Minim Sentimen, Investor Bisa Terapkan Strategi Ini

Berapa produk reksadana pendapatan tetap, reksadana saham dan reksadana indeks yang bisa dipertimbangkan oleh investor dengan profil risiko moderat dan agresif adalah sebagai berikut : 

Imbal Hasil 1 Tahun (per 23 Juni 2022)

Reksadana Indeks

Allianz SRI KEHATI Index Fund : 23,2 persen
BNP Paribas Sri Kehati : 22,97 persen

Reksadana Saham

Batavia Dana Saham Syariah : 12,56 persen
BNP Paribas Ekuitas : 11,28 persen

Imbal Hasil 3 Tahun (per 23 Juni 2022)

Reksadana Pendapatan Tetap

Manulife Obligasi Negara Indonesia II Kelas A : 19,41 persen
BNP Paribas Prima II Kelas RK1 : 15,77 persen

Baca juga : Bareksa Insight : Ekonomi Dunia Berpotensi Melambat, Ini Jurus Agar Investor Tetap Cuan

(Sigma Kinasih/Ariyanto Dipo Sucahyo/AM)

***

Ingin berinvestasi aman di emas dan reksadana secara online yang diawasi OJK?

- Daftar jadi nasabah, klik tautan ini
- Beli reksadana, klik tautan ini
- Beli emas, klik tautan ini
- Download aplikasi reksadana Bareksa di App Store​
- Download aplikasi reksadana Bareksa di Google Playstore
- Belajar reksadana, klik untuk gabung Komunitas Bareksa di Facebook. GRATIS

DISCLAIMER

Kinerja masa lalu tidak mencerminkan kinerja di masa mendatang. Investasi mengandung risiko. Investor wajib membaca dan memahami prospektus dan fund fact sheet dalam berinvestasi reksadana.