Bareksa Insight : Harga Minyak Meroket, Reksadana Ini Cemerlang

Abdul Malik • 08 Jun 2022

an image
Ilustrasi kenaikan harga minyak yang berpengaruh terhadap Indeks Harga Saham Gabungan dan kinerja reksadana serta SBN. (Shutterstock)

Turunnya persediaan minyak mentah di AS serta prospek kenaikan permintaan di China mendorong lonjakan harga minyak dunia

Bareksa.com - Turunnya persediaan minyak mentah di Amerika Serikat serta prospek kenaikan permintaan di China akibat relaksasi lockdown mendorong lonjakan harga minyak dunia (Brent Oil). 

Minyak mentah berjangka Brent untuk pengiriman Agustus naik US$1,06 atau 0,9 persen jadi US$120,57 per barel, level tertinggi sejak 31 Mei 2022. 

Menurut analisis Bareksa, lonjakan emas hitam itu turut mendongkrak kenaikan harga saham sektor energi sebagai salah satu penopang terbesar kenaikan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan kemarin. IHSG pada 07 Juni 2022 naik 0,63 persen ke level 7.141,04

Kondisi itu membuat sejumlah reksadana saham dan reksadana indeks berbasis sektor energi ikut melesat.

Di sisi lain, mayoritas harga Obligasi Negara (Surat Berharga Negara/SBN) mulai melemah pada pekan ini, ditandai dengan kenaikan imbal hasil (yield) acuan ke level 7,03 persen. Menurut analisis Bareksa, pelemahan itu akibat investor mulai melakukan aksi ambil untung bertahap, setelah sejumlah harga obligasi menguat cukup signifikan dalam 3 pekan terakhir. 

Selain itu, risiko global mulai meningkat menjelang pengumuman inflasi Amerika Serikat yang turut mendorong kenaikan yield Obligasi Pemerintah Negeri Paman Sam kembali ke level 3 persen. Hal ini mengakibatkan penurunan kinerja sejumlah reksadana pendapatan tetap berbasis SBN.

Baca : Kerahkan Sinergi Ekosistem, Grab-OVO Ikut Mendukung Perluasan Distribusi SBN Melalui Bareksa

Apa yang bisa dilakukan Investor?

Analisis Bareksa memprediksi reksadana saham dan reksadana indeks masih akan menguat pada perdagangan hari ini seiring IHSG yang berpotensi naik mengikuti penguatan bursa regional Asia. Investor dapat mencermati reksadana saham dan reksadana indeks berbasis sektor energi dan komoditas, serta berbasis saham kapitalisasi besar yang menjadi penopang IHSG.

Sementara untuk pasar obligasi, analisis Bareksa memprediksi masih akan bergerak terbatas, setelah kemarin ditutup melemah. Investor dapat mempertimbangkan reksadana pendapatan tetap berbasis obligasi korporasi, hingga Bank Sentral AS atau The Fed menilai inflasi Negara Adidaya tersebut sudah lebih terkendali.

Baca : Bareksa Raih Pendanaan Seri C dari Grab, Kukuhkan Sinergi Grab - Bareksa - OVO

Beberapa produk reksadana saham, reksadana indeks dan reksadana pendapatan tetap yang bisa dipertimbangkan oleh investor dengan profil risiko agresif dan moderat adalah sebagai berikut : 

Imbal Hasil 1 Tahun (per 7 Juni 2022)

Reksadana Indeks

BNP Paribas Sri Kehati : 18,2 persen
Syailendra MSCI Indonesia Value Index Fund Kelas A : 14,02 persen

Reksadana Saham

Eastspring Investments Value Discovery Kelas A : 13,87 persen
Sucorinvest Sharia Equity Fund : 10,56 persen

Imbal Hasil 1 Tahun (per 7 Juni 2022)

Reksadana Pendapatan Tetap

Sucorinvest Stable Fund : 7,54 persen
Syailendra Pendapatan Tetap Premium : 6,34 persen

Baca : Kolaborasi PT Pegadaian - Bareksa, Hadirkan Tabungan Emas Online untuk Investasi Terintegrasi

Investasi Sekarang

(Sigma Kinasih/Ariyanto Dipo Sucahyo/AM)

***

Ingin berinvestasi aman di emas dan reksadana secara online yang diawasi OJK?

- Daftar jadi nasabah, klik tautan ini
- Beli reksadana, klik tautan ini
- Beli emas, klik tautan ini
- Download aplikasi reksadana Bareksa di App Store​
- Download aplikasi reksadana Bareksa di Google Playstore
- Belajar reksadana, klik untuk gabung Komunitas Bareksa di Facebook. GRATIS

DISCLAIMER

Kinerja masa lalu tidak mencerminkan kinerja di masa mendatang. Investasi reksadana mengandung risiko. Investor wajib membaca dan memahami prospektus dan fund fact sheet dalam berinvestasi reksadana.