Bareksa Insight : Pasar Saham Fluktuatif, Cermati Reksadana Berbasis Saham Big Caps dan Energi

Abdul Malik • 19 May 2022

an image
Ilustrasi pasar modal yang tengah bergejolak dengan fluktuasi tinggi. Investor bisa mencermati reksadana berbasis saham big caps dan energi seiring makin membaiknya fundamental ekonomi dalam negeri. (Shutterstock)

IHSG masih rawan aksi ambil untung jangka pendek setelah mengalami kenaikan signifikan pekan ini

Bareksa.com - Pasar saham yang tercermin dari kinerja Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) naik signifikan sekitar 2,24 persen pada perdagangan kemarin. Penguatan dipimpin sektor teknologi yang naik hingga 5,57 persen dan menopang penguatan reksadana saham basis sektor tersebut. 

Namun, menurut analisis Bareksa, karena sektor teknologi cukup sensitif terhadap isu terkait kenaikan suku bunga, maka fluktuasinya lebih tinggi. Karena itu, investor bisa mencermati reksadana saham dan reksadana indeks berbasis saham kapitalisasi besar (big caps) dan sektor energi yang memiliki potensi menarik seiring dengan pemulihan ekonomi dalam negeri.

IHSG pada 18 Mei 2022 kembali naik 2,24 persen ke level 6.793,41. Pasar saham menghijau dua hari terakhir pada Senin - Selasa, setelah selama sepekan sebelumnya memerah dalam 5 hari beruntun dengan akumulasi penurunan 8,7 persen. 

Sementara itu, pasar obligasi masih melanjutkan kenaikan tipis dan menopang penguatan mayoritas reksadana pendapatan tetap. Tingginya surplus neraca dagang RI menjadi sentimen positif yang mempengaruhi pergerakan harga obligasi. Imbal hasil (yield) acuan Obligasi Pemerintah Indonesia masih bertahan di level 7,3 persen. 

Namun, menurut analisis Bareksa, investor masih tetap perlu mewaspadai risiko kenaikan suku bunga acuan Bank Sentral Amerika Serikat (AS) atau The Fed. Sebab The Fed berencana kembali menaikkan Fed Fund Rate guna menekan angka inflasi Negara Paman Sam ke kisaran 2 persen secara tahunan, dari level saat ini di 8,3 persen.

Baca : Kerahkan Sinergi Ekosistem, Grab-OVO Ikut Mendukung Perluasan Distribusi SBN Melalui Bareksa

Apa yang bisa dilakukan Investor?

Analisis Bareksa melihat, reksadana saham dan reksadana indeks diprediksi bergerak terbatas hari ini mengikuti Bursa Saham AS yang ditutup melemah semalam, dengan angka penurunan terdalam sejak 2020. 

Karena itu, IHSG masih rawan aksi ambil untung jangka pendek setelah mengalami kenaikan signifikan pekan ini. Investor disarankan dapat pertimbangkan akumulasi bertahap di reksadana berbasis saham kapitalisasi besar dan sektor energi.

Sementara imbal hasil (yield) acuan Surat Berharga Negara (SBN) diproyeksikan masih akan bergerak di level 7,3 - 7,5 persen. Investor dapat mempertimbangkan akumulasi investasi di reksadana pendapatan tetap berbasis obligasi negara secara bertahap, jika yield mendekati level 8 persen.

Baca : Kerahkan Sinergi Ekosistem, Grab-OVO Ikut Mendukung Perluasan Distribusi SBN Melalui Bareksa

Beberapa produk reksadana pendapatan tetap, reksadana saham dan reksadana indeks yang bisa dipertimbangkan oleh investor dengan profil risiko moderat dan agresif adalah sebagai berikut : 

Imbal Hasil 1 Tahun (per 18 Mei 2022)

Reksadana Indeks

Syailendra MSCI Indonesia Value Index Fund Kelas A : 21,08 persen
Principal Index IDX30 Kelas O : 18,93 persen

Reksadana Saham

Manulife Saham Andalan : 17,03 persen
Eastspring Investments Value Discovery Kelas A : 13,73 persen

Imbal Hasil 3 Tahun (per 18 Mei 2022)

Reksadana Pendapatan Tetap

BNP Paribas Prima II Kelas RK1 : 19,41 persen

Eastspring Investments IDR High Grade Kelas A : 17,58 persen

Baca : Kolaborasi PT Pegadaian - Bareksa, Hadirkan Tabungan Emas Online untuk Investasi Terintegrasi

Investasi Sekarang

(Sigma Kinasih/Ariyanto Dipo Sucahyo/AM)

***

Ingin berinvestasi aman di emas dan reksadana secara online yang diawasi OJK?

- Daftar jadi nasabah, klik tautan ini
- Beli reksadana, klik tautan ini
- Beli emas, klik tautan ini
- Download aplikasi reksadana Bareksa di App Store​
- Download aplikasi reksadana Bareksa di Google Playstore
- Belajar reksadana, klik untuk gabung Komunitas Bareksa di Facebook. GRATIS

DISCLAIMER

Kinerja masa lalu tidak mencerminkan kinerja di masa mendatang. Investasi reksadana mengandung risiko. Investor wajib membaca dan memahami prospektus dan fund fact sheet dalam berinvestasi reksadana.