Hadapi Tantangan Global, Ini Potensi Investasi Keuangan di Indonesia

Hanum Kusuma Dewi • 29 Mar 2022

an image
Ilustrasi investasi di pasar keuangan seperti reksadana saham obligasi negara dan emas dengan latar kondisi ekonomi global yang digambarkan dengan bola dunia dan grafik investasi. (shutterstock)

Aliran dana asing terus masuk ke Bursa Saham Indonesia sepanjang 2022

Bareksa.com - Indonesia sedang menghadapi berbagai tantangan global seperti kenaikan inflasi yang tinggi serta rencana kenaikan suku bunga acuan yang lebih agresif dari The Fed. 

Namun, melihat kondisi ekonomi domestik yang terus pulih, efek dari risiko global diproyeksikan masih bisa diatasi. Sehingga, aset investasi keuangan seperti reksa dana yang berbasis saham maupun obligasi masih cukup menarik di Indonesia untuk tahun 2022.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), yang mencerminkan pasar modal Indonesia, saat ini telah menyentuh level tertinggi sepanjang masa. Meski secara teknikal IHSG rawan mengalami penurunan, aliran dana asing terus masuk ke Bursa Indonesia hingga Rp36,7 triliun sejak awal tahun hingga 23 Maret 2022.

Lalu, apa yang menyebabkan derasnya aliran dana asing tersebut?

Data Makro Ekonomi Indonesia

Sumber: Bank Indonesia, Bareksa Research Team

Secara fundamental makro ekonomi bisa dikatakan saat ini sudah lebih baik jika dibandingkan tahun lalu. Apalagi, Bank Indonesia yakin bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun ini bisa mencapai 4,7-5,5 persen YoY seiring tingginya tingkat vaksinasi.

Efeknya, mobilitas masyarakat serta keyakinan konsumsi masyarakat diharapkan akan semakin meningkat tahun ini. Tentu ini akan turut mendorong kinerja keuangan serta menaikkan nilai (valuasi) perusahaan di IHSG. Hal inilah yang mendorong investor asing tertarik berinvestasi di Indonesia.

Karena dorongan dana asing yang masuk ke pasar modal tersebut, kinerja indeks reksa dana saham Bareksa juga mengalami kenaikan sekitar 3,3 persen untuk tahun berjalan hingga 23 Maret 2022.

Lihat juga IHSG Mulai Stabil di Atas 7.000, Bagaimana Prospek Cuan Reksadana Saham?

Tantangan Global

Di sisi lain, saat ini terdapat beberapa tantangan dari ekonomi global yang secara tidak langsung juga dapat mempengaruhi Indonesia seperti berikut:

IMF mengungkapkan bahwa negara-negara di Asia yang rata-rata merupakan importir minyak menghadapi ancaman inflasi tinggi. Harga minyak mentah sempat menyentuh level tertinggi di kisaran US$130/barel beberapa minggu yang lalu dan saat ini diperdagangkan di US$111/barel. 

Bank Sentral AS menilai inflasi AS sudah terlalu tinggi sehingga muncul pertimbangan untuk menaikkan suku bunga lebih agresif lagi. Hal ini akan membuat nilai tukar Dolar AS menguat terhadap mata uang lainnya.

Tantangan tersebut membuat momentum perbaikan pertumbuhan ekonomi kawasan Asia yang merupakan salah satu kunci rantai pasokan global berisiko melambat akibat tingkat suku bunga pinjaman yang akan lebih tinggi dan tekanan nilai tukar mata uang. 

Namun, dengan potensi pemulihan Indonesia seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, diproyeksikan risiko tersebut relatif terjaga dan kinerja reksa dana juga akan ikut terdorong naik hingga akhir tahun 2022.

Baca Bareksa Insight : Perundingan Damai Rusia - Ukraina Buat IHSG Cerah, Reksadana Ini Sumringah

Apa yang harus dilakukan investor?

Di tengah ketidakpastian yang masih tinggi seperti China yang tiba-tiba melakukan lockdown akibat kenaikan jumlah kasus Covid-19 dan Perang Ukraina-Rusia yang berlarut-larut, ada baiknya investor melakukan diversifikasi portofolio dengan menyisihkan sebagian dana di instrumen yang relatif aman seperti emas dan reksadana pasar uang serta sebagian lagi diinvestasikan di instrumen yang lebih berisiko seperti reksadana pendapatan tetap dan reksadana saham.

Investor dengan profil risiko agresif dapat mempertimbangkan untuk akumulasi reksa dana saham berbasis saham kapitalisasi besar yang diborong oleh investor asing, jika IHSG mengalami penurunan.

Sementara itu, investor profil risiko moderat dapat terus melakukan akumulasi secara bertahap di reksadana pendapatan tetap yang berinvestasi di obligasi pemerintah dan obligasi korporasi. 

Lalu untuk investor konservatif dapat melakukan investasi dengan alokasi yang lebih besar di reksadana pasar uang dan porsi yang lebih rendah di reksadana pendapatan tetap.

Mutual Fund Performance

Daftar Reksa Dana

Imbal Hasil (Return)

Reksa Dana Pasar Uang

1 Tahun

3 Tahun

TRIM Kas 2

3.88%

14.49%

Syailendra Dana Kas

3.92%

16.59%

Sucorinvest Sharia Money Market Fund

4.55%

19.42%

Reksa Dana Pendapatan Tetap

1 Tahun

3 Tahun

TRIM Dana Tetap 2

6.77%

20.57%

Syailendra Pendapatan Tetap Premium

5.52%

31.03%

Eastspring Syariah Fixed Income Amanah Kelas A

5.48%

25.29%

Reksa Dana Saham

6 Bulan

1 Tahun

Eastspring Investments Alpha Navigator Kelas A

15.08%

13.59%

TRIM Kapital Plus

13.56%

17.96%

Manulife Saham Andalan

5.95%

24.56%

Sumber: Bareksa Research Team, Return per 23 Maret 2021

Perlu diingat kembali, investasi mengandung risiko, sehingga investor juga perlu membekali diri mengenai peluang keuntungan maupun risiko yang ada di pasar keuangan.

Lihat Promo Gajian Beli Reksadana, Raih Voucher hingga Rp1,25 Juta

(Ariyanto Dipo Sucahyo/Sigma Kinasih/hm)

***

Ingin berinvestasi aman di emas dan reksadana secara online yang diawasi OJK?

- Daftar jadi nasabah, klik tautan ini
- Beli reksadana, klik tautan ini
- Beli emas, klik tautan ini
- Download aplikasi reksadana Bareksa di App Store​
- Download aplikasi reksadana Bareksa di Google Playstore
- Belajar reksadana, klik untuk gabung Komunitas Bareksa di Facebook. GRATIS

DISCLAIMER

Kinerja masa lalu tidak mencerminkan kinerja di masa mendatang. Investasi reksadana mengandung risiko. Investor wajib membaca dan memahami prospektus dan fund fact sheet dalam berinvestasi reksadana.