Bareksa Update : Pasar Tertekan Omicron, Kinerja Reksadana Ini Masih Moncer

Abdul Malik • 02 Dec 2021

an image
Ilustrasi varian baru Covid-19 Omicron yang berpengaruh terhadap pasar modal, termasuk IHSG, reksadana dan SBN. (Shutterstock)

Investor global khawatir terhadap varian baru Covid-19 Omicron yang terdeteksi di Amerika Serikat untuk pertama kalinya

Bareksa.com - Analisis Bareksa memperkirakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih akan tertekan akibat kekhawatiran investor global terhadap varian baru Covid-19 Omicron yang terdeteksi di Amerika Serikat untuk pertama kalinya. Investor cemas munculnya Omicron akan mempengaruhi permintaan dan pemulihan ekonomi global.

Bursa saham regional juga dibuka melemah pada pagi hari ini. Analisis Bareksa melihat kemungkinan kinerja reksadana saham pada hari ini juga akan mengalami koreksi. IHSG kemarin (01/12/2021) turun 0,4 persen ke level 6.507,68.

Dari pasar obligasi, suku bunga obligasi Pemerintah AS kembali tertekan karena investor khawatir pemulihan ekonomi Negeri Paman Sam terhambat akibat penyebaran Omicron.

Investor di pasar obligasi juga akan memperhatikan jumlah tingkat klaim pengangguran Negeri Adidaya tersebut yang sebelumnya mencapai sekitar 199.000 orang atau terendah dalam 52 tahun terakhir.

Analisis Bareksa melihat pasar obligasi domestik hari ini kemungkinan masih akan bergerak naik setelah sebelumnya Badan Pusat Statistik mengumumkan angka inflasi Indonesia berada di level aman dan terjaga.

Berdasarkan data id.investing.com (diakses 01/12/2021 pukul 17.00 WIB) benchmark obligasi pemerintah tercatat naik ke level 6,3 persen, pada 01 Desember 2021.

Baca : Bareksa Raih Pendanaan Seri C dari Grab, Kukuhkan Sinergi Grab - Bareksa - OVO

Di tengah potensi tekanan pasar saham akibat varian baru Covid-19 dan peluang kenaikan pasar obligasi nasional, investor dengan profil risiko moderat dan agresif bisa mempertimbangkan beberapa produk reksadana pendapatan tetap, reksadana saham dan reksadana campuran yang mencatatkan kinerja moncer berikut ini :

Imbal Hasil 1 Tahun (per 1 Desember 2021)

Reksadana Saham

Eastspring Investments Value Discovery Kelas A : 17,88 persen
TRIM Kapital : 17,38 persen

Reksadana Campuran

Syailendra Balanced Opportunity Fund : 27,37 persen
Sucorinvest Flexi Fund : 25,89 persen

Imbal Hasil 3 Tahun (per 1 Desember 2021)

Reksadana Pendapatan Tetap

Syailendra Pendapatan Tetap Premium : 32,98 persen
TRIM Dana Tetap 2 : 22,79 persen

Baca : Investasi Reksadana di Bareksa dapat OVO Poin dan Voucher GrabFood

Fresh From The Press

Beberapa perstiwa penting yang diperhatikan investor dan diperkirakan bisa mempengaruhi pergerakan pasar hari ini adalah sebagai berikut :

1. Varian Covid-19 Omicron

Dalam empat pekan terakhir varian baru Covid-19 Omicron telah menyumbang 74 persen kasus positif baru Coid-19 di Afrika Selatan. Menurut data Institut Nasional untuk Penyakit Menular Afrika Selatan (NICD), data epidemiologi awal menyebut Omicron mampu menembus beberapa kekebalan.

2. Insentif PPnBM

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto mengatakan pihaknya sedang mengkaji apakah insentif PPnBM akan diperpanjang pada 2022 atau tidak. Berdasarkan data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) penjualan wholesales pada Januari-Oktober 2021 sebanyak 703.089 unit. Angka tersebut tumbuh 67 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu 421.006 unit.

Perpanjangan insentif PPnBM dapat mendorong pemulihan ekonomi. Sebab, industri mobil merupakan sektor strategis yang mempunyai multiplier effect luas terhadap sektor usaha lainnya.

3. Rasio Utang

- Kementerian Keuangan melaporkan rasio utang pemerintah terhadap produk domestik bruto (PDB) mencapai 39,69 persen hingga akhir Oktober 2021. Angka tersebut jauh di bawah outlook pemerintah di level 41-43 persen pada akhir tahun ini.

Pencapaian itu semakin membaik,  sebab pada akhir September 2021 rasio utang pemerintah mencapai 41,38 persen terhadap PDB. Adapun posisi utang pemerintah per akhir Oktober 2021 berada di angka Rp6.687,28 triliun.

Menurunnya rasio utang terhadap PDB lantaran posisi utang pemerintah pusat mengalami penurunan apabila dibandingkan posisi utang akhir September 2021 yang sebesar Rp24,24 triliun.

Perlu diingat, apapun instrumen investasi pilihan kamu, selalu seuaikan dengan profil risiko, jangka waktu dan tujuan investasi kamu ya!

(Ariyanto Dipo Sucahyo/AM)

Lihat : Ini Kata Boy William Soal Kolaborasi ThREEforGood Grab Bareksa OVO

***

Ingin berinvestasi aman di reksadana yang diawasi OJK?

- Daftar jadi nasabah, klik tautan ini
- Beli reksadana, klik tautan ini
- Download aplikasi reksadana Bareksa di App Store​
- Download aplikasi reksadana Bareksa di Google Playstore
- Belajar reksadana, klik untuk gabung Komunitas Bareksa di Facebook. GRATIS 

DISCLAIMER​
Investasi reksadana mengandung risiko. Investor wajib membaca dan memahami prospektus dan fund fact sheet dalam berinvestasi reksadana.