
Bareksa – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup anjlok 3,49% ke level 5.098,06 pada Kamis (29/10/2026). Menurut data BEI, seluruh sektor berakhir di zona merah dengan 653 saham melemah. Sepanjang Oktober, IHSG sudah terkoreksi sekitar 16% dari posisi 6.071 pada akhir September, menurut data Investing.com.
Dari Amerika Serikat, Bank Sentral AS (The Fed) memutuskan menahan suku bunga acuan di kisaran 3,75%–4,00% pada Rabu (28/10) waktu setempat. The Fed menyebut inflasi masih tinggi, dan dua anggota komite justru memilih kenaikan suku bunga. Di tengah volatilitas seperti ini, menjaga sebagian dana tetap likuid dan terdiversifikasi dalam rupiah maupun dolar AS dapat membantu investor tetap fleksibel menghadapi perubahan kondisi pasar.
Aspek | Ringkasan |
|---|---|
Yang terjadi | IHSG anjlok 3,49% ke 5.098,06; seluruh sektor melemah. |
Penyebab utama | Tekanan jual meluas di seluruh sektor, sejalan dengan pelemahan Shanghai, Hang Seng, dan KOSPI; The Fed menahan suku bunga di level tinggi. |
Yang perlu dicermati | Volatilitas IHSG dan pergerakan kurs rupiah yang berada di kisaran Rp18.100 per dolar AS. |
Yang dapat dipertimbangkan | Reksadana pasar uang IDR dan USD, serta USDT sebagai alternatif diversifikasi mata uang. |
Ringkasan Data Pasar
Indikator | Data Terakhir | Perubahan |
|---|---|---|
IHSG | 5.098,06 | -3,49% (harian); -16,03% sejak 30 Sep |
Kurs USD/IDR | Rp18.130 | -0,28% (rupiah menguat tipis); +1,43% sejak 30 Sep |
Suku bunga The Fed | 3,75%–4,00% | Ditahan |
S&P 500 | 7.720,39 | -0,30% |
Nasdaq Composite | 26.184,72 | -1,38% |
Sumber: Investing.com, Yahoo Finance, The Federal Reserve. Data penutupan 29 Oktober 2026.
Grafik 1. Pergerakan IHSG sepanjang Oktober 2026. Sumber: Investing.com, diolah Bareksa.
Pertama, volatilitas pasar saham domestik sedang tinggi. Selain penurunan 3,49% pada Kamis, IHSG sempat turun 11,57% dalam sehari pada 16 Oktober 2026 sebelum memantul 5,65% pada 20 Oktober, menurut data Investing.com. Karena itu, dana yang dibutuhkan dalam waktu dekat lebih sesuai ditempatkan pada instrumen berfluktuasi rendah.
Kedua, dolar AS cenderung kuat dalam setahun terakhir. Kurs USD/IDR naik dari sekitar Rp16.560 pada akhir Oktober 2025 menjadi Rp18.130, atau menguat sekitar 9%, berdasarkan data Yahoo Finance dan Investing.com. Sepanjang Oktober, dolar AS menguat 1,43% terhadap rupiah.
Grafik 2. Pergerakan kurs USD/IDR sepanjang Oktober 2026. Sumber: Investing.com, diolah Bareksa.
Ketiga, keputusan The Fed menahan suku bunga di 3,75%–4,00% menjaga imbal hasil instrumen pasar uang dolar AS tetap relatif tinggi. Namun, inflasi AS yang masih tinggi membuat arah suku bunga ke depan belum pasti.
Bagi investor dengan kebutuhan dana jangka pendek, instrumen pasar uang dapat menjadi tempat menempatkan dana sambil menunggu pasar lebih stabil. Diversifikasi ke aset berdenominasi dolar AS juga dapat dipertimbangkan oleh investor yang memiliki kebutuhan dana dalam dolar, dengan memperhatikan risiko nilai tukar. Pilihan instrumen perlu disesuaikan dengan tujuan dan profil risiko.
Reksadana pasar uang berinvestasi pada deposito dan surat utang bertenor di bawah satu tahun, sehingga fluktuasi nilai investasinya relatif rendah dibandingkan reksadana saham.
Produk | 1 Bln | 3 Bln | 1 Thn | Keterangan |
|---|---|---|---|---|
Insight Money | 0,45% | 1,39% | 5,13% | Dana kelolaan sekitar Rp474 miliar |
Syailendra Sharia Money Market Fund Kelas A | 0,45% | 1,40% | 4,43% | Berbasis syariah; dana kelolaan sekitar Rp892 miliar |
Sumber: Bareksa, per 29 Oktober 2026. Kinerja masa lalu tidak menjamin kinerja masa depan.
Reksadana pasar uang USD berinvestasi pada instrumen pasar uang berdenominasi dolar AS, sehingga dapat menjadi alternatif diversifikasi mata uang.
Produk | 3 Bln | 6 Bln | 1 Thn | Keterangan |
|---|---|---|---|---|
Bahana Liquid USD | 0,62% | 1,30% | 2,61% | Dana kelolaan setara sekitar Rp1,07 triliun |
TRIM Kas USD | 0,62% | 1,28% | 1,28% (6 bulan) | Dana kelolaan setara sekitar Rp105,07 miliar |
Sumber: Bareksa, per 29 Oktober 2026. Kinerja masa lalu tidak menjamin kinerja masa depan.
USDT (Tether) adalah stablecoin, yaitu aset kripto yang dirancang mempertahankan nilai 1:1 terhadap dolar AS. Nilainya dalam rupiah umumnya sejalan dengan kurs USD/IDR.
Indikator | Data | Keterangan |
|---|---|---|
Kurs USDT/IDR | Rp18.139 | Indodax, 30 Okt 2026 pukul 08.16 WIB |
Kenaikan USD/IDR 1 tahun | Sekitar 9% | Yahoo Finance & Investing.com, Okt 2025–Okt 2026 |
Sumber: Indodax, Yahoo Finance, Investing.com
Risiko pasar: IHSG masih bergerak sangat volatil dan dapat berbalik arah dengan cepat.
Risiko nilai tukar: return reksadana USD dan USDT dalam rupiah dipengaruhi pergerakan kurs; penguatan rupiah dapat mengurangi nilai investasi saat dikonversi.
Risiko suku bunga: perubahan arah kebijakan The Fed dan Bank Indonesia dapat memengaruhi imbal hasil instrumen pasar uang.
Risiko stablecoin: USDT memiliki risiko penerbit dan risiko kehilangan patokan nilai (depeg).
Pasar masih bergejolak. Reksadana pasar uang IDR dapat dipertimbangkan untuk dana jangka pendek dalam rupiah, sementara reksadana pasar uang USD dan USDT dapat dicermati sebagai alternatif diversifikasi mata uang, dengan memperhatikan risiko masing-masing.
Bareksa adalah pioneer aplikasi investasi reksa dana terpercaya yang telah berizin OJK sejak 2016. Dengan 160+ produk reksadana dari 35 manajer investasi, kamu bisa memilih sesuai tujuan dan profil risiko. Dilengkapi fitur pembanding performa, riset pasar, dan rekomendasi ahli, Bareksa membantu kamu mulai investasi reksadana dengan mudah, aman, dan terarah dalam satu aplikasi.
(Sigma Kinasih CTA, CFP/Ni Putu Kurniasari/AM)
Tentang Penulis
* Sigma Kinasih adalah Investment Strategist Bareksa dengan pengalaman lebih dari 12 tahun di industri pasar modal. Memegang lisensi WMI, WPPE, CTA, dan CFP, ia berfokus pada riset makroekonomi, strategi portofolio, serta analisis reksadana, saham, emas dan SBN. Sigma meraih gelar Magister Ekonomi dari Universitas Trisakti.
DISCLAIMER
Investasi mengandung risiko dan seluruhnya menjadi tanggung jawab pribadi. Bareksa membuat informasi ini dari materi dan sumber-sumber terpercaya, serta tidak dipengaruhi pihak manapun. Informasi ini bukan merupakan ajakan, ataupun paksaan untuk melakukan transaksi dan Bareksa tidak memberikan jaminan atas transaksi yang dilakukan.
Investasi melalui reksa dana mengandung risiko. Calon pemodal wajib membaca dan memahami prospektus sebelum memutuskan untuk berinvestasi melalui reksa dana. Kinerja masa lalu tidak mencerminkan kinerja masa datang.
Perdagangan aset kripto memiliki risiko tinggi. Harga dapat naik dan turun secara signifikan. Pastikan kamu memahami risikonya sebelum bertransaksi. Seluruh rangkaian proses transaksi aset kripto melalui sistem PT Tiga Inti Utama (TRIV). TRIV Berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
Tekanan jual meluas ke seluruh sektor, sejalan dengan pelemahan sejumlah bursa Asia seperti Shanghai, Hang Seng, dan KOSPI.
The Fed menahan suku bunga acuan di kisaran 3,75%–4% dan menyebut inflasi AS masih tinggi.
Reksadana yang berinvestasi pada deposito dan surat utang bertenor di bawah satu tahun.
Reksadana pasar uang USD dikelola manajer investasi dan diawasi OJK sebagai produk reksadana, sedangkan USDT adalah aset kripto stablecoin yang nilainya dirancang setara 1 dolar AS.
Tidak. Risikonya relatif rendah, tetapi tetap ada risiko suku bunga, risiko kredit, dan untuk produk USD, risiko nilai tukar.