Bareksa Insight: Lonjakan Yield SBN Mereda, Cermati Reksadana Pasar Uang & SR025

Abdul Malik • 07 Sep 2026

an image
Ilustrasi investasi di Surat Berharga Negara (SBN) Ritel salah satunya SR025. (Shutterstock)

Yield SBN 10 tahun mereda ke 7,102% pada Jumat (4/9/2026) dari 7,229% dua hari sebelumnya. Rupiah juga menguat ke Rp17.608 per dolar AS pada 7 September pagi. Namun, level yield masih tinggi dan risiko global belum reda, sehingga likuiditas tetap perlu dijaga.

Bareksa - Lonjakan yield Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun mulai mereda. Yield ditutup di 7,102% pada Jumat (4/9), turun 12,7 basis poin (bps) dari 7,229% pada Rabu (2/9). Meski begitu, posisinya masih 14,2 bps lebih tinggi dibandingkan 6,96% pada 28 Agustus. Artinya, tekanan harga obligasi berkurang, tetapi arah pasar belum sepenuhnya stabil.

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan lonjakan yield akan ditangani bersama Bank Indonesia sehingga tidak menambah beban utang negara. Ini menjadi sinyal koordinasi fiskal-moneter. Secara mekanisme, perubahan yield tidak otomatis mengubah imbalan utang yang sudah diterbitkan dengan tingkat tetap, tetapi dapat memengaruhi biaya penerbitan baru dan harga obligasi di pasar sekunder.

Ringkasan untuk Investor

  • Prioritaskan likuiditas: reksadana pasar uang relevan untuk dana jangka pendek ketika arah obligasi masih fluktuatif.

  • Akumulasi reksadana pendapatan tetap bertahap: meredanya yield dapat mendukung harga obligasi dan NAB, tetapi kenaikan yield lanjutan tetap menjadi risiko.

  • Kunci imbalan SR025: SR025-T3 menawarkan 6,8% dan SR025-T5 6,9% per tahun hingga masa penawaran berakhir 16 September 2026.

  • Diversifikasi emas: harga spot turun tipis ke US$4.423/oz; pembelian bertahap lebih terukur daripada menebak titik terendah.

Pasar Mulai Tenang, tetapi Risiko Global Bertahan

Rupiah menguat dari Rp17.635/US$ pada 4 September menjadi sekitar Rp17.608/US$ pada 7 September pagi. Di pasar saham, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terkoreksi 0,47% ke 6.636,48 pada Jumat meski investor asing membukukan beli bersih Rp30 miliar. Transportation & Logistics, Consumer Non-Cyclicals, dan Technology menjadi tiga sektor dengan tekanan terbesar, menurut riset Ciptadana Sekuritas Asia.

Tekanan eksternal belum hilang. Yield US Treasury 10 tahun ditutup 4,784% pada 4 September, sedangkan Brent naik 0,8% ke US$96,3 dan WTI 0,2% ke US$91,5 per barel. Data tenaga kerja AS yang lebih kuat dari perkiraan turut menjaga ekspektasi suku bunga tinggi. Kombinasi yield global dan minyak yang tinggi dapat memicu volatilitas pada obligasi, rupiah, serta saham domestik.

Grafik memakai indeks basis 100 karena kelima indikator berbeda satuan. Angka di ujung garis menunjukkan level aktual pada 4 September 2026; kenaikan USD/IDR berarti rupiah melemah. Sumber: data historis Investing.com, diolah Bareksa.

1. Reksadana Pasar Uang untuk Menjaga Likuiditas

Reksadana pasar uang menjadi pilihan taktis untuk kebutuhan jangka pendek karena portofolionya berisi instrumen pasar uang dan surat utang berjatuh tempo pendek. Volatilitas umumnya lebih rendah daripada reksadana pendapatan tetap, meski hasil investasi tidak dijamin.

Reksadana Pasar Uang

Return 1 Tahun

Insight Money

5,16%

Syailendra Dana Kas

4,65%

BRI Seruni Likuid Dolar

3,17%

Mandiri Money Market USD

1,71%

Sumber: Bareksa, kinerja per 4/9/2026

Produk reksadana USD memiliki risiko perubahan NAB dan kurs bagi investor yang menghitung kekayaan dalam rupiah. Pilih denominasi sesuai kebutuhan dana, bukan hanya berdasarkan return.

2. Reksadana Pendapatan Tetap: Masuk Bertahap Saat Yield Mereda

Harga obligasi umumnya bergerak berlawanan dengan yield. Karena itu, penurunan yield SBN dari puncak 2 September berpotensi mendukung NAB reksadana pendapatan tetap yang memiliki eksposur SBN. Namun, yield 7,102% masih lebih tinggi daripada akhir Agustus, sehingga strategi akumulasi bertahap lebih terukur.

Reksadana Pendapatan Tetap

Return 1 Bulan

Return 1 Tahun

Trimegah Dana Obligasi Nusantara

1,55%

6,67%

Syailendra Sharia Fixed Income Fund Kelas A

1,41%

7,18%

Allianz USD Fixed Income Fund Kelas A

0,2%

1,72%

STAR Fixed Income NEO AI Dollar

0,45%

3,12% (6 bulan)

Sumber: Bareksa, kinerja per 4/9/2026

Investor juga perlu memeriksa durasi, kualitas kredit, isi portofolio, serta risiko kurs masing-masing produk.

3. SR025 untuk Mengunci Imbalan Tetap Tinggi

Sukuk Ritel SR025 memberi kepastian imbalan bulanan: 6,8% per tahun untuk tenor tiga tahun dan 6,9% untuk lima tahun, merupakan kupon tertinggi Sukuk Ritel sejak 2020. Imbalan dan pokok dijamin negara sesuai ketentuan perundang-undangan. Karena imbalannya tetap, arus kas tidak berubah mengikuti naik-turunnya yield pasar.

Seri

Tenor

Imbalan Tetap

Masa Penawaran

SR025-T3

3 tahun

6,8% per tahun

21 Agustus-16 September 2026

SR025-T5

5 tahun

6,9% per tahun

21 Agustus-16 September 2026

Sumber: DJPPR Kemenkeu

Sesuaikan tenor dengan kebutuhan dana. Setelah minimum holding period pada 11 Oktoberv 2026, SR025 dapat diperdagangkan di pasar sekunder; harga jual dapat berada di atas atau di bawah nilai pokok.

4. Emas untuk Diversifikasi

Emas spot berada di sekitar US$4.423/oz pada 7 September pagi, turun tipis dari US$4.430,25 pada Jumat. Koreksi kecil belum cukup menjadi sinyal pembalikan tren, sehingga investor jangka panjang dapat membagi pembelian dalam beberapa tahap.

Platform

Harga Beli per Gram

Treasury

Rp2.539.652

Pegadaian

Rp2.514.000

Indogold

Rp2.503.632

Sumber: fitur Bareksa Emas per 7/9/2026 pagi

Kesimpulan

Meredanya lonjakan yield SBN dan penguatan rupiah memberi ruang pemulihan, tetapi tingginya UST serta harga minyak masih jadi risiko pasar. Reksadana pasar uang dapat menjadi jangkar likuiditas, reksadana pendapatan tetap dicermati bertahap, SR025 digunakan untuk mengunci imbalan sesuai horizon, dan emas menjadi pelengkap diversifikasi.

Investasi di Aplikasi SBN Ritel Terbaik - Bareksa

Bareksa adalah pioneer aplikasi investasi SBN resmi yang memudahkan pembelian obligasi negara seperti ORI, SR, ST, dan SBR. Kamu dapat membandingkan imbal hasil, memahami risiko, dan mengikuti jadwal penerbitan dengan jelas. Cocok untuk investor yang mencari investasi aman dengan dukungan negara, semuanya tersedia dalam satu aplikasi investasi terpercaya.

Investasi SR025 di Sini

(Sigma Kinasih CTA, CFP/Ni Putu Kurniasari/AM)

Tentang Penulis

* Sigma Kinasih adalah Investment Strategist Bareksa dengan pengalaman lebih dari 12 tahun di industri pasar modal. Memegang lisensi WMI, WPPE, CTA, dan CFP, ia berfokus pada riset makroekonomi, strategi portofolio, serta analisis reksadana, saham, emas dan SBN. Sigma meraih gelar Magister Ekonomi dari Universitas Trisakti.

DISCLAIMER​​​​​​​​

Investasi mengandung risiko dan seluruhnya menjadi tanggung jawab pribadi. Bareksa membuat informasi ini dari materi dan sumber-sumber terpercaya, serta tidak dipengaruhi pihak manapun. Informasi ini bukan merupakan ajakan, ataupun paksaan untuk melakukan transaksi dan Bareksa tidak memberikan jaminan atas transaksi yang dilakukan.

Investasi melalui reksa dana mengandung risiko. Calon pemodal wajib membaca dan memahami prospektus sebelum memutuskan untuk berinvestasi melalui reksa dana. Kinerja masa lalu tidak mencerminkan kinerja masa datang.

Pertanyaan Umum

Apakah yield SBN turun selalu membuat reksadana pendapatan tetap naik?

Tidak selalu. Dampaknya bergantung pada durasi, komposisi obligasi, risiko kredit, serta transaksi di dalam portofolio.

Apa perbedaan SR025 dan reksadana pendapatan tetap?

SR025 menawarkan imbalan tetap dan jatuh tempo tertentu. RD pendapatan tetap memiliki NAB yang berubah setiap hari dan dikelola dalam portofolio obligasi.

Mengapa reksadana pasar uang relevan saat pasar volatil?

Durasi asetnya pendek sehingga volatilitas umumnya lebih rendah dan cocok untuk kebutuhan likuiditas jangka pendek.

Apakah saat ini waktu yang tepat membeli emas?

Tidak ada kepastian titik terendah. Pembelian berkala membantu mengurangi risiko salah waktu saat harga masih berfluktuasi.

Profil Penulis

Abdul Malik

Abdul Malik adalah Managing Editor Bareksa dengan pengalaman lebih dari 20 tahun di jurnalisme pasar modal. Memegang lisensi WPPE, ia fokus pada analisis pasar modal, saham, reksadana, SBN, emas dan edukasi keuangan, serta merupakan peraih beberapa fellowship internasional.