Bareksa Insight: Yield SBN & UST Turun, Cermati Reksadana Pendapatan Tetap & Emas

Abdul Malik • 20 Aug 2026

an image
Ilustrasi US Treasury. (Shutterstock)

BI mempertahankan suku bunga 5,75%, sementara yield SBN 10 tahun turun ke 7,04% dan UST 10 tahun melandai ke 4,64%. Kondisi ini berpotensi mengurangi tekanan terhadap obligasi, sedangkan emas menembus US$4.500. Investor tetap perlu bertahap karena harga minyak masih tinggi.

Bareksa - Bank Indonesia (BI) mempertahankan BI Rate di 5,75% pada 19 Agustus 2026. Pada saat bersamaan, yield Surat Berharga Negara (SBN) dan US Treasury (UST) mulai melandai, sehingga tekanan terhadap harga obligasi dan reksadana pendapatan tetap (RDPT) berpotensi mereda.

Key Takeaways

  • Yield SBN 10 tahun turun 6 basis poin (bps) ke 7,04%, sedangkan UST 10 tahun turun 6,4 bps ke 4,642%.

  • Emas melonjak 4,09% ke US$4.511,85, tetapi perlu menembus 50-week moving average US$4.540 pada penutupan Jumat.

  • RDPT dapat dicermati bertahap, sementara RD pasar uang (RDPU) tetap relevan untuk menjaga likuiditas.

BI juga mempertahankan suku bunga Deposit Facility 4,75% dan Lending Facility 6,5%. Kebijakan ini memberi waktu bagi BI menilai dampak kenaikan suku bunga kumulatif 100 bps sejak Mei, sambil menjaga rupiah, inflasi, dan pertumbuhan.

Sentimen obligasi membaik setelah Pemerintah AS mengumumkan ukuran buyback obligasi nominal tenor panjang akan dinaikkan sedikitnya dua kali lipat, dari maksimal US$2 miliar menjadi US$4 miliar per operasi, mulai 9 September. Kebijakan untuk mendukung likuiditas ini mendorong yield UST 10 tahun turun dari 4,706% menjadi 4,642%.

Di dalam negeri, yield SBN 10 tahun turun dari 7,10% menjadi 7,04%. Spread terhadap UST 10 tahun sekitar 240 bps, sehingga SBN masih menawarkan selisih imbal hasil, meski risiko kurs dan arus modal asing tetap perlu dipantau. Rupiah menguat 0,31% dari Rp17.855 menjadi Rp17.800,4/US$.

Reksadana Pendapatan Tetap Mulai Membaik, RDPU Jaga Likuiditas

Harga obligasi umumnya bergerak berlawanan dengan yield. Karena itu, penurunan yield dapat mendukung NAB reksadana pendapatan tetap. Namun, satu hari penurunan belum menjamin tren berlanjut. Investor perlu mencermati durasi, komposisi SBN versus obligasi korporasi, kualitas kredit, dan risiko kurs.

Reksadana Pendapatan Tetap

Produk

Return 1 bulan

Return 1 tahun

Allianz Fixed Income Fund 2 Kelas A

1,17%

1,23%

BNP Paribas Prima II Kelas RK1

1,17%

1,11%

Allianz USD Fixed Income Fund

0,22%

1,93%

STAR Fixed Income NEO AI Dollar

0,78%

-

Reksadana Pasar Uang

Produk

Return 1 tahun

Insight Money

5,19%

Syailendra Dana Kas

4,62%

Bahana Liquid USD

2,74%

Mandiri Money Market USD

2,63%

Sumber: Bareksa, kinerja per 19/8/2026

Produk reksadana USD lebih relevan bagi investor yang mempunyai kebutuhan dalam dolar AS. Return dalam USD tidak dapat langsung dibandingkan dengan produk rupiah karena hasil bagi investor rupiah juga dipengaruhi kurs.

Emas Tembus US$4.500, Cermati Level US$4.540 

Emas spot melonjak 4,09% ke US$4.511,85 pada 19 Agustus dan sempat menyentuh US$4.524,70. Pada 20 Agustus pagi, emas bergerak di sekitar US$4.500 setelah penurunan yield obligasi jangka panjang AS dan pelemahan dolar menyusul pengumuman buyback obligasi Pemerintah AS.

Acuan

Level

Makna teknikal

Futures Desember

US$4.540

50-week MA; perlu ditutup di atas level ini pada Jumat untuk memperkuat momentum

Futures Desember

US$4.625

200-day MA dan resistensi lanjutan

Spot

US$4.500

Area psikologis yang perlu dipertahankan

Spot

US$4.200

Support menengah jika koreksi berlanjut

Sumber: Kitco News, Investing

Emas dapat dicermati sebagai diversifikasi melalui pembelian bertahap saat harga koreksi atau dollar cost averaging (DCA). Lonjakan satu hari tidak berarti harga akan terus naik, terlebih Brent mencapai US$91,6 per barel akibat ketegangan Selat Hormuz. Harga minyak tinggi dapat menjaga risiko inflasi dan kembali mendorong yield.

Harga Beli Emas Digital per Gram

Platform

Harga

Treasury

Rp2.647.342

Pegadaian

Rp2.575.000

Indogold

Rp2.623.344

Sumber: fitur Bareksa Emas Per 20/8/2026 pagi

Apa yang Sebaiknya Dilakukan Investor?

  1. Konservatif: pertahankan likuiditas di RDPU sesuai mata uang kebutuhan.

  2. Moderat: tambah RDPT secara bertahap jika yield SBN dan UST tetap stabil atau turun.

  3. Diversifikasi: gunakan DCA untuk emas dan perhatikan US$4.540 sebagai konfirmasi momentum.

  4. Pantau risiko: arah minyak, Selat Hormuz, rupiah, dan realisasi buyback UST mulai September.

Kesimpulan

Penurunan yield berpotensi mendukung reksadana pendapatan tetap, sementara reksadana pasar uang tetap relevan untuk likuiditas dan emas untuk diversifikasi melalui strategi dollar cost averaging (DCA). Investor tetap perlu mencermati minyak, rupiah, dan arah yield.

Investasi di Aplikasi Reksadana Terbaik - Bareksa

Bareksa adalah pioneer aplikasi investasi reksa dana terpercaya yang telah berizin OJK sejak 2016. Dengan 160+ produk reksadana dari 35 manajer investasi, kamu bisa memilih sesuai tujuan dan profil risiko. Dilengkapi fitur pembanding performa, riset pasar, dan rekomendasi ahli, Bareksa membantu kamu mulai investasi reksadana dengan mudah, aman, dan terarah dalam satu aplikasi.

Investasi Reksadana di Sini

(Sigma Kinasih CTA, CFP/Ni Putu Kurniasari/AM)

Tentang Penulis

* Sigma Kinasih adalah Investment Strategist Bareksa dengan pengalaman lebih dari 12 tahun di industri pasar modal. Memegang lisensi WMI, WPPE, CTA, dan CFP, ia berfokus pada riset makroekonomi, strategi portofolio, serta analisis reksadana, saham, emas dan SBN. Sigma meraih gelar Magister Ekonomi dari Universitas Trisakti.

***​​​​​​​​​

Investasi mengandung risiko dan seluruhnya menjadi tanggung jawab pribadi. Bareksa membuat informasi ini dari materi dan sumber-sumber terpercaya, serta tidak dipengaruhi pihak manapun. Informasi ini bukan merupakan ajakan, ataupun paksaan untuk melakukan transaksi dan Bareksa tidak memberikan jaminan atas transaksi yang dilakukan.

Investasi melalui reksa dana mengandung risiko. Calon pemodal wajib membaca dan memahami prospektus sebelum memutuskan untuk berinvestasi melalui reksa dana. Kinerja masa lalu tidak mencerminkan kinerja masa datang.

Pertanyaan Umum

Mengapa yield turun positif bagi reksadana pendapatan tetap?

Penurunan yield umumnya menaikkan harga obligasi sehingga dapat mendukung NAB RDPT, terutama yang berdurasi lebih panjang.

Apakah reksadana pendapatan tetap langsung bebas tekanan?

Tidak. Yield dapat kembali naik akibat inflasi, harga minyak, pelemahan rupiah, atau perubahan kebijakan moneter.

Apa arti spread SBN-UST sekitar 240 bps?

SBN menawarkan yield sekitar 2,4 poin persentase lebih tinggi daripada UST tenor sama, tetapi investor tetap memperhitungkan risiko negara, likuiditas, dan kurs.

Apakah emas masih menarik setelah naik 4,09%?

Emas masih dapat digunakan untuk diversifikasi, tetapi pembelian bertahap lebih terukur daripada mengambil posisi besar setelah lonjakan harga.

Profil Penulis

Abdul Malik

Abdul Malik adalah Managing Editor Bareksa dengan pengalaman lebih dari 20 tahun di jurnalisme pasar modal. Memegang lisensi WPPE, ia fokus pada analisis pasar modal, saham, reksadana, SBN, emas dan edukasi keuangan, serta merupakan peraih beberapa fellowship internasional.