
Bareksa - Bank Indonesia (BI) mempertahankan BI Rate di 5,75% pada 19 Agustus 2026. Pada saat bersamaan, yield Surat Berharga Negara (SBN) dan US Treasury (UST) mulai melandai, sehingga tekanan terhadap harga obligasi dan reksadana pendapatan tetap (RDPT) berpotensi mereda.
Yield SBN 10 tahun turun 6 basis poin (bps) ke 7,04%, sedangkan UST 10 tahun turun 6,4 bps ke 4,642%.
Emas melonjak 4,09% ke US$4.511,85, tetapi perlu menembus 50-week moving average US$4.540 pada penutupan Jumat.
RDPT dapat dicermati bertahap, sementara RD pasar uang (RDPU) tetap relevan untuk menjaga likuiditas.
BI juga mempertahankan suku bunga Deposit Facility 4,75% dan Lending Facility 6,5%. Kebijakan ini memberi waktu bagi BI menilai dampak kenaikan suku bunga kumulatif 100 bps sejak Mei, sambil menjaga rupiah, inflasi, dan pertumbuhan.
Sentimen obligasi membaik setelah Pemerintah AS mengumumkan ukuran buyback obligasi nominal tenor panjang akan dinaikkan sedikitnya dua kali lipat, dari maksimal US$2 miliar menjadi US$4 miliar per operasi, mulai 9 September. Kebijakan untuk mendukung likuiditas ini mendorong yield UST 10 tahun turun dari 4,706% menjadi 4,642%.
Di dalam negeri, yield SBN 10 tahun turun dari 7,10% menjadi 7,04%. Spread terhadap UST 10 tahun sekitar 240 bps, sehingga SBN masih menawarkan selisih imbal hasil, meski risiko kurs dan arus modal asing tetap perlu dipantau. Rupiah menguat 0,31% dari Rp17.855 menjadi Rp17.800,4/US$.
Harga obligasi umumnya bergerak berlawanan dengan yield. Karena itu, penurunan yield dapat mendukung NAB reksadana pendapatan tetap. Namun, satu hari penurunan belum menjamin tren berlanjut. Investor perlu mencermati durasi, komposisi SBN versus obligasi korporasi, kualitas kredit, dan risiko kurs.
Reksadana Pendapatan Tetap
Produk | Return 1 bulan | Return 1 tahun |
Allianz Fixed Income Fund 2 Kelas A | 1,17% | 1,23% |
BNP Paribas Prima II Kelas RK1 | 1,17% | 1,11% |
Allianz USD Fixed Income Fund | 0,22% | 1,93% |
STAR Fixed Income NEO AI Dollar | 0,78% | - |
Reksadana Pasar Uang
Produk | Return 1 tahun |
Insight Money | 5,19% |
Syailendra Dana Kas | 4,62% |
Bahana Liquid USD | 2,74% |
Mandiri Money Market USD | 2,63% |
Sumber: Bareksa, kinerja per 19/8/2026
Produk reksadana USD lebih relevan bagi investor yang mempunyai kebutuhan dalam dolar AS. Return dalam USD tidak dapat langsung dibandingkan dengan produk rupiah karena hasil bagi investor rupiah juga dipengaruhi kurs.
Emas spot melonjak 4,09% ke US$4.511,85 pada 19 Agustus dan sempat menyentuh US$4.524,70. Pada 20 Agustus pagi, emas bergerak di sekitar US$4.500 setelah penurunan yield obligasi jangka panjang AS dan pelemahan dolar menyusul pengumuman buyback obligasi Pemerintah AS.
Acuan | Level | Makna teknikal |
Futures Desember | US$4.540 | 50-week MA; perlu ditutup di atas level ini pada Jumat untuk memperkuat momentum |
Futures Desember | US$4.625 | 200-day MA dan resistensi lanjutan |
Spot | US$4.500 | Area psikologis yang perlu dipertahankan |
Spot | US$4.200 | Support menengah jika koreksi berlanjut |
Sumber: Kitco News, Investing
Emas dapat dicermati sebagai diversifikasi melalui pembelian bertahap saat harga koreksi atau dollar cost averaging (DCA). Lonjakan satu hari tidak berarti harga akan terus naik, terlebih Brent mencapai US$91,6 per barel akibat ketegangan Selat Hormuz. Harga minyak tinggi dapat menjaga risiko inflasi dan kembali mendorong yield.
Harga Beli Emas Digital per Gram
Platform | Harga |
Treasury | Rp2.647.342 |
Pegadaian | Rp2.575.000 |
Indogold | Rp2.623.344 |
Sumber: fitur Bareksa Emas Per 20/8/2026 pagi
Konservatif: pertahankan likuiditas di RDPU sesuai mata uang kebutuhan.
Moderat: tambah RDPT secara bertahap jika yield SBN dan UST tetap stabil atau turun.
Diversifikasi: gunakan DCA untuk emas dan perhatikan US$4.540 sebagai konfirmasi momentum.
Pantau risiko: arah minyak, Selat Hormuz, rupiah, dan realisasi buyback UST mulai September.
Penurunan yield berpotensi mendukung reksadana pendapatan tetap, sementara reksadana pasar uang tetap relevan untuk likuiditas dan emas untuk diversifikasi melalui strategi dollar cost averaging (DCA). Investor tetap perlu mencermati minyak, rupiah, dan arah yield.
Bareksa adalah pioneer aplikasi investasi reksa dana terpercaya yang telah berizin OJK sejak 2016. Dengan 160+ produk reksadana dari 35 manajer investasi, kamu bisa memilih sesuai tujuan dan profil risiko. Dilengkapi fitur pembanding performa, riset pasar, dan rekomendasi ahli, Bareksa membantu kamu mulai investasi reksadana dengan mudah, aman, dan terarah dalam satu aplikasi.
(Sigma Kinasih CTA, CFP/Ni Putu Kurniasari/AM)
Tentang Penulis
* Sigma Kinasih adalah Investment Strategist Bareksa dengan pengalaman lebih dari 12 tahun di industri pasar modal. Memegang lisensi WMI, WPPE, CTA, dan CFP, ia berfokus pada riset makroekonomi, strategi portofolio, serta analisis reksadana, saham, emas dan SBN. Sigma meraih gelar Magister Ekonomi dari Universitas Trisakti.
***
Investasi mengandung risiko dan seluruhnya menjadi tanggung jawab pribadi. Bareksa membuat informasi ini dari materi dan sumber-sumber terpercaya, serta tidak dipengaruhi pihak manapun. Informasi ini bukan merupakan ajakan, ataupun paksaan untuk melakukan transaksi dan Bareksa tidak memberikan jaminan atas transaksi yang dilakukan.
Investasi melalui reksa dana mengandung risiko. Calon pemodal wajib membaca dan memahami prospektus sebelum memutuskan untuk berinvestasi melalui reksa dana. Kinerja masa lalu tidak mencerminkan kinerja masa datang.
Penurunan yield umumnya menaikkan harga obligasi sehingga dapat mendukung NAB RDPT, terutama yang berdurasi lebih panjang.
Tidak. Yield dapat kembali naik akibat inflasi, harga minyak, pelemahan rupiah, atau perubahan kebijakan moneter.
SBN menawarkan yield sekitar 2,4 poin persentase lebih tinggi daripada UST tenor sama, tetapi investor tetap memperhitungkan risiko negara, likuiditas, dan kurs.
Emas masih dapat digunakan untuk diversifikasi, tetapi pembelian bertahap lebih terukur daripada mengambil posisi besar setelah lonjakan harga.