Indeks Sektor Pertambangan Menguat 53% Sepanjang 2016, Penopang Utama IHSG?

Nilai korelasi IHSG dan indeks sektor pertambangan sejak Februari mencapai 91 persen
Senin, 17 Oktober 2016 16:03:22 WIB Evi Rahmayanti
Image
Ilustrasi pertambangan batu bara. (Peabody Energy, Inc/Wikimedia Commons)

Bareksa.com - Saham-saham berbasis pertambangan kembali menarik perhatian investor pasar modal. Setelah mengalami pelemahan pada tahun lalu, saham-saham pertambangan kali ini bisa menjadi penopang penguatan indeks saham Indonesia.

Sejak awal tahun hingga 14 Oktober 2016, indeks saham sektor pertambangan telah naik 53,35 persen, mengalahkan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang hanya naik 17,37 persen di periode yang sama.

Naiknya harga saham-saham sektor pertambangan ini tidak terlepas dari harga minyak dunia yang mulai pulih. Berdasarkan pantauan Bareksa, minyak mentah jenis WTI kembali diperdagangkan di harga $50,20 per barel pada akhir pekan lalu atau sudah naik lebih dari 91 persen dari level terendahnya $26,21 per barel di bulan Februari 2016.

Grafik Pergerakan Harga Minyak Dunia Jenis WTI

Sumber: Bloomberg.com

Membaiknya harga minyak dunia seringkali diinterpretasikan dengan perbaikan ekonomian dunia. Sebab, naiknya harga minyak mencerminkan kenaikan permintaan minyak untuk melakukan aktivitas ekonomi. Meningkatnya permintaan minyak dunia biasanya diikuti dengan naiknya permintaan komoditas hasil tambang.

Seiring dengan peningkatan harga minyak, harga batu bara dunia pun ikut menguat. Harga batu bara global di pelabuhan Newcastle, Australia sudah mencapai US$78,11 per metrik ton pada September 2016, naik 39,9 persen sepanjang tahun. Pada periode yang sama, HBA yang diterbitkan oleh Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) naik 19,5 persen menjadi US$63,93 per metrik ton. Bahkan, HBA Oktober 2016 sudah mencapai US$69,07 per metrik ton. (Baca juga: Harga Batu Bara Naik, 4 Emiten Tambang Ini Direkomendasikan)

Grafik: Pergerakan Harga Batu Bara Acuan dan FOB Newcastle (US$/metrik ton)

Sumber: Bareksa.com

Otomatis, harga saham-saham emiten pertambangan pun ikut terkerek naik yang tergabung dalam indeks pertambangan (mining index) di Bursa Efek Indonesia.

Hingga pukul 15.30 WIB hari ini 17 Oktober 2016, IHSG telah naik 0,31 persen terdorong naiknya indeks pertambangan sebesar 1,66 persen.

Saham emiten terkait batu bara yang naik paling tinggi pada perdagangan hari ini adalah PT Delta Dunia Makmur Tbk (DOID) dengan peningkatan 10,4 persen menjadi Rp530 dari penutupan sebelumnya Rp480. Lalu, pada posisi kedua adalah PT Bumi Resources Tbk (BUMI) yang naik 8 persen menjadi Rp82.

Saham produsen batu bara PT Harum Energy Tbk (HRUM) juga ikut naik sebesar 6,7 persen menjadi Rp1.590 dan PT Tambang Batubara Bukit Asam Tbk (PTBA) naik 5 persen menjadi Rp12.300.

PT Indo Tambang Raya Megah Tbk (ITMG) dan PT Adaro Energy Tbk (ADRO) juga naik masing-masing sebesar 3,7 persen dan 2,5 persen.

Grafik: Pergerakan Harga Saham Batubara Secara Intraday 17 Oktober 2016

Sumber: Bareksa

Korelasi IHSG dan Sektor Pertambangan

Menariknya, keterkaitan pergerakan indeks sektor pertambangan dengan IHSG saat ini berangsur-angsur mulai menguat lagi. Berdasarkan data Bareksa, nilai korelasi pergerakan sektor pertambangan terhadap IHSG pada periode awal Februari hingga akhir pekan lalu meningkat menjadi 91 persen. Padahal, nilai korelasi keduanya hingga akhir Juni lalu masih sekitar 67,26 persen. 

Semakin kuatnya korelasi pergerakan indeks sektor pertambangan dengan IHSG menunjukan bahwa pergerakan indeks sektor pertambangan mulai mendorong laju IHSG. Bukan tidak mungkin, saham-saham pertambangan akan kembali menopang laju IHSG jika korelasi ini terus meningkat.

Hal ini pernah terjadi pada periode Juni 2006-Februari 2008 lalu, saat saham-saham sektor pertambangan mengalami kenaikan yang signifikan seiring kenaikan harga minyak dunia.

Grafik: Pergerakan Indeks Sektor Pertambangan dan Harga Minyak Dunia jenis WTI

Sumber: Bareksa

Berdasarkan data Bareksa, pada periode tersebut saham-saham sektor pertambangan mengalami kenaikan hingga lima kali lipat pada periode tersebut. Kenaikan saham sektor pertambangan ini ikut mendorong laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ke level 2.734 pada tahun 2008 dari 1.287 pada tahun 2006.

Bahkan, pergerakan saham sektor pertambangan saat itu sangat mempengaruhi laju gerak IHSG. Sebab, nilai korelasi IHSG dengan sektor pertambangan sampai mencapai 93,45 persen yang berarti sektor pertambangan sangat mempengaruhi laju pergerakan IHSG. Saat itu, saham pertambangan seperti PT Bumi Resources Tbk (BUMI) bahkan menjadi primadona investor. (hm)



TOP
10
REKSA DANA

Jenis Reksa Dana 
loading...
Selanjutnya
BELI DAFTAR BERLANGGANAN
Kontak : 62-21-71790970 | marketing@bareksa.com
TERPOPULER