
Bareksa – Imbal hasil atau yield Surat Berharga Negara (SBN) tenor dua tahun menembus 7,1%, sedangkan tenor empat tahun mencapai 7,49% pada Senin (2/11/2026). Kenaikan tersebut relevan dicermati menjelang penawaran Sukuk Tabungan seri ST017 pada 6 November, karena kedua tenor itu sesuai dengan pilihan jangka waktu ST017.
Berdasarkan Indonesia Government Securities Yield Curve (IGSYC) dari Penilai Harga Efek Indonesia (PHEI), yield SBN dua tahun mencapai 7,1013%, naik 9,15 basis poin (bps) dibandingkan perdagangan sebelumnya. Yield empat tahun meningkat 8,39 bps menjadi 7,4929%.
Kenaikan yield SBN tenor yang sama di pasar sekunder jadi salah satu pertimbangan utama pemerintah dalam menentukan imbal hasil atau kupon SBN Ritel, salah satunya ST017. Namun besaran resmi imbalan ST017 tetap menunggu keputusan pemerintah.
Pergerakan yield menunjukkan tekanan di pasar obligasi tidak hanya terjadi pada tenor panjang.
| Tenor SBN | Yield per 30 Oktober | Yield per 2 November | Kenaikan |
|---|---|---|---|
2 tahun | 7,0098% | 7,1013% | 9,15 bps |
4 tahun | 7,4090% | 7,4929% | 8,39 bps |
10 tahun | 7,6275% | 7,6894% | 6,19 bps |
Sumber: PHEI, 2 November 2026 dikutip 3/11/2026.
Jika dibandingkan dengan 27 Agustus 2026, kenaikannya lebih besar. Yield dua tahun sebelumnya masih 6,6494%, sedangkan empat tahun 6,8078%. Artinya, dalam rentang tersebut, yield tenor dua tahun telah naik sekitar 45 bps dan tenor empat tahun sekitar 69 bps. Yield yang meningkat menunjukkan investor meminta tingkat keuntungan lebih tinggi untuk memegang obligasi. Di pasar sekunder, kenaikan yield umumnya bergerak berlawanan arah dengan harga obligasi.
Tekanan pasar obligasi Indonesia berlangsung bersamaan dengan ketidakpastian global dan domestik. Menurut data Investing, yield SBN 10 tahun sempat mencapai 7,706% pada 28 Oktober 2026, level tertinggi sejak Mei 2020. Pada hari yang sama, rupiah ditutup di Rp18.180 per dolar AS. Sentimen yang memengaruhi pasar antara lain ketidakpastian kebijakan suku bunga The Fed, tekanan nilai tukar rupiah, serta kehati-hatian investor terhadap aset Indonesia.
Penawaran dalam lelang SBN pada 27 Oktober juga turun menjadi Rp31,09 triliun dari Rp64,85 triliun pada lelang sebelumnya. Penurunan minat lelang tersebut menjadi salah satu indikator yang dicermati pelaku pasar. Meski demikian, level yield tertinggi sejak 2020 tersebut merujuk pada tenor 10 tahun.
Kenaikan yield SBN dengan tenor yang sebanding dapat menjadi salah satu pertimbangan dalam penetapan imbalan penerbitan baru. Namun, ST017 memiliki karakteristik berbeda dari obligasi yang diperdagangkan di pasar sekunder. ST017 direncanakan menawarkan tenor dua dan empat tahun dengan skema imbalan mengambang yang memiliki batas minimal (floating with floor).
Artinya, pemerintah menetapkan tingkat imbalan minimal pada awal penerbitan. Imbalan dapat meningkat apabila hasil penyesuaian berdasarkan BI Rate dan selisih tetap (spread) melampaui batas tersebut, tetapi tidak turun di bawah tingkat minimal.
Sebelumnya, pada 28 Oktober 2026, Tim Analis Bareksa memperkirakan imbalan minimal ST017T2 sebesar 6,8%–6,9% dan ST017T4 sebesar 7%–7,1% per tahun. Investor tetap perlu menunggu pengumuman resmi tingkat imbalan ST017.
Perbandingan Indikator Menjelang ST017
Indikator | Tenor 2 Tahun | Tenor 4 Tahun |
|---|---|---|
Yield SBN PHEI, 2/11 | 7,1013% | 7,4929% |
Prediksi imbalan minimal ST017* | 6,8%–6,9% | 7%–7,1% |
*Sumber: PHEI dan Tim Analis Bareksa. Prediksi diterbitkan 28 Oktober 2026, sebelum pembaruan yield 2 November.
Tabel tersebut memperlihatkan perbedaan antara indikator pasar yang terus berubah dan proyeksi kupon yang belum menjadi ketetapan resmi.
Calon investor ST017 sebaiknya memperhatikan tiga hal sebelum melakukan pemesanan.
Pertama, cermati pengumuman imbalan minimal resmi dari Kementerian Keuangan. Kedua, sesuaikan pilihan tenor dengan kebutuhan dana, karena Sukuk Tabungan tidak dapat diperdagangkan di pasar sekunder. Ketiga, pahami bahwa fasilitas pencairan awal (early redemption) tersedia sesuai ketentuan.
Kenaikan yield pasar sekunder tidak berarti investor ST017 akan langsung memperoleh imbalan setinggi yield tersebut. Sebaliknya, kenaikan yield juga tidak otomatis menimbulkan kerugian harga pasar pada ST017 karena instrumen ini tidak diperdagangkan.
Yield SBN dua tahun mencapai 7,1013% dan empat tahun 7,4929% per 2 November 2026.
Sejak 27 Agustus, kedua tenor masing-masing naik sekitar 45 bps dan 69 bps.
Kenaikan yield dapat memengaruhi ekspektasi imbalan penerbitan baru, tetapi bukan penentu tunggal kupon ST017.
Imbalan resmi ST017 masih menunggu keputusan pemerintah.
Lonjakan yield SBN dua dan empat tahun menjadi perkembangan penting menjelang penawaran ST017. Pasar obligasi kini menunjukkan tingkat imbal hasil yang lebih tinggi dibandingkan beberapa bulan sebelumnya. Namun, investor perlu membedakan yield SBN pasar sekunder, prediksi analis, dan imbalan resmi Sukuk Tabungan.
Bareksa adalah pioneer aplikasi investasi SBN resmi yang memudahkan pembelian obligasi negara seperti ORI, SR, ST, dan SBR. Kamu dapat membandingkan imbal hasil, memahami risiko, dan mengikuti jadwal penerbitan dengan jelas. Cocok untuk investor yang mencari investasi aman dengan dukungan negara, semuanya tersedia dalam satu aplikasi investasi terpercaya. Pembelian SBN di Bareksa hanya melalui aplikasi Bareksa resmi. Bareksa tidak pernah meminta transfer ke rekening pribadi.
Siap-siap Investasi ST017 di Sini
(Rahmat Hidayat/AM)
Tentang Penulis
*Rahmat Hidayat adalah Investment Specialist Bareksa dengan pengalaman lebih dari 7 tahun di bidang investasi dan produk finansial digital. Ia aktif mengembangkan produk pasar modal dan memberikan edukasi keuangan kepada masyarakat, serta memegang lisensi WPPE.
***
DISCLAIMER
Investasi mengandung risiko dan seluruhnya menjadi tanggung jawab pribadi. Bareksa membuat informasi ini dari materi dan sumber-sumber terpercaya, serta tidak dipengaruhi pihak manapun. Informasi ini bukan merupakan ajakan, ataupun paksaan untuk melakukan transaksi dan Bareksa tidak memberikan jaminan atas transaksi yang dilakukan.
Berdasarkan PHEI per 2 November 2026, masing-masing sebesar 7,1013% dan 7,4929%.
Tidak. Yield pasar merupakan salah satu indikator, sedangkan imbalan ST017 ditetapkan pemerintah.
Jadwal sementara penawaran adalah 6 November hingga 2 Desember 2026.
Tidak melalui pasar sekunder. Investor hanya dapat memanfaatkan fasilitas pencairan awal sesuai persyaratan yang ditetapkan.
Pembayaran imbalan dan pokok SBN ritel merupakan kewajiban negara sesuai ketentuan penerbitan dan peraturan perundang-undangan, bukan skema penjaminan simpanan LPS.