
Bareksa – Sebanyak 199 emiten di Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat akumulasi kepemilikan saham sedikitnya 95% pada investor yang masing-masing memiliki minimal 1% saham. Angka tersebut berdasarkan pengolahan Bareksa terhadap laporan Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) per 30 Oktober 2026.
Menariknya, hasil pengolahan data September menunjukkan jumlah yang sama, yakni 199 emiten. Jadi, belum ada peningkatan jumlah emiten dalam kelompok tersebut selama Oktober.
Meski demikian, data ini relevan untuk memahami struktur kepemilikan saham di tengah reformasi transparansi pasar modal dan perhatian MSCI terhadap kualitas data pasar Indonesia.
Dari 961 emiten yang tercakup dalam masing-masing laporan, berikut perbandingan akumulasi persentase saham yang tercatat pada investor dengan kepemilikan individual minimal 1%.
Akumulasi Kepemilikan | September | Oktober |
|---|---|---|
Minimal 90% | 414 emiten | 406 emiten |
Minimal 95% | 199 emiten | 199 emiten |
Minimal 99% | 31 emiten | 31 emiten |
Sumber: KSEI, laporan kepemilikan saham ≥1% per 30 September dan 30 Oktober 2026, diolah Bareksa.
Jumlah emiten dengan akumulasi minimal 90% turun delapan. Namun, kelompok minimal 95% dan 99% tidak berubah. Perubahan tersebut menggambarkan pergeseran dalam pengelompokan berdasarkan ambang kepemilikan, bukan bukti bahwa saham publik otomatis bertambah atau berkurang.
Saham Apa yang Mencatat Persentase Tertinggi?
Saham | Akumulasi Kepemilikan | Jumlah Pemegang ≥1% |
|---|---|---|
IBST | 99,99% | 1 |
EDGE | 99,98% | 3 |
SUPR | 99,98% | 2 |
DCII | 99,85% | 10 |
BNLI | 99,71% | 4 |
Sumber: KSEI, 30 Oktober 2026, diolah Bareksa.
Contohnya, pada IBST hampir seluruh saham tercatat pada satu pemegang saham yang memenuhi ambang pengungkapan. Sebaliknya, akumulasi pada DCII tersebar pada sepuluh pemegang saham. Perbedaan ini penting: persentase akumulasi yang sama-sama tinggi belum tentu berarti struktur kepemilikannya sama terkonsentrasi pada sedikit pihak.
Tidak. Perhitungan dalam laporan ini menjumlahkan kepemilikan investor yang masing-masing memiliki minimal 1% saham berdasarkan laporan KSEI. Sementara itu, free float mengikuti definisi dan ketentuan resmi BEI.
Investor yang memiliki saham minimal 1% belum tentu tergolong pengendali atau afiliasi pengendali. Sebagian tetap dapat masuk kelompok pemegang saham publik sesuai ketentuan. Karena itu, mengurangkan akumulasi kepemilikan tersebut dari 100% tidak menghasilkan angka free float resmi. Hasil pengolahan ini juga bukan daftar High Shareholding Concentration (HSC) yang ditetapkan BEI.
OJK, BEI, dan KSEI memperluas transparansi kepemilikan saham sebagai bagian dari reformasi pasar modal. Langkahnya mencakup pengungkapan pemegang saham di atas 1%, informasi status pengendali dan afiliasinya, klasifikasi investor yang lebih terperinci, serta penguatan aturan free float.
Namun, laporan KSEI sendiri menjelaskan bahwa informasi status pengendali bersumber dari pelaporan emiten periode sebelumnya. Status tersebut mungkin belum mencerminkan perubahan paling mutakhir.
Data kepemilikan dapat menjadi titik awal untuk meneliti struktur saham suatu emiten. Investor perlu melengkapinya dengan informasi free float resmi, pengumuman HSC, volume transaksi, nilai perdagangan, serta selisih harga beli-jual di pasar.
Saham dengan struktur kepemilikan tertentu dapat memiliki karakteristik likuiditas berbeda. Namun, data kepemilikan saja tidak cukup untuk memprediksi arah harga saham.
Sebanyak 199 emiten mencatat akumulasi kepemilikan minimal 95% pada investor yang masing-masing memiliki sedikitnya 1%.
Jumlah tersebut tidak berubah dibandingkan September.
Kelompok akumulasi minimal 90% berkurang dari 414 menjadi 406 emiten.
Akumulasi kepemilikan ≥1% bukan ukuran resmi free float maupun penetapan HSC.
Laporan KSEI memberi transparansi tambahan mengenai pemegang saham perusahaan tercatat. Namun, investor perlu membedakan data kepemilikan individual, pengendali, free float, dan konsentrasi kepemilikan yang dinilai melalui mekanisme resmi bursa.
Bareksa adalah pioneer aplikasi investasi saham yang dirancang untuk membantu investor mengambil keputusan lebih percaya diri. Dilengkapi data market, riset, dan analisis fundamental, kamu bisa memantau saham dan membandingkan kinerja emiten secara praktis. Dalam satu aplikasi, Bareksa juga menyediakan reksa dana, SBN, dan emas untuk strategi investasi yang lebih lengkap.
***
DISCLAIMER
Investasi saham mengandung risiko dan seluruhnya menjadi tanggung jawab pribadi. Bareksa membuat informasi ini dari materi dan sumber-sumber terpercaya, serta tidak dipengaruhi pihak manapun. Informasi ini bukan merupakan ajakan, ataupun paksaan untuk melakukan transaksi dan Bareksa tidak memberikan jaminan atas transaksi yang dilakukan.
Sebanyak 199 emiten per September dan Oktober 2026.
Tidak. Jumlahnya tetap 199 emiten.
Tidak dapat disimpulkan dari data ini. Perhitungan free float memiliki kriteria tersendiri.
Data KSEI mencatat posisi kepemilikan, sedangkan HSC merupakan pengungkapan khusus mengenai konsentrasi kepemilikan berdasarkan mekanisme BEI.
Bisa menjadi bahan analisis tambahan, tetapi tetap perlu dikombinasikan dengan fundamental, valuasi, dan likuiditas.