
Bareksa - Bursa saham Indonesia melemah 0,90% ke level 6.242 pada perdagangan Jumat, 25 September 2026, tertekan aksi jual investor asing senilai Rp559 miliar. Sektor industri, infrastruktur, dan transportasi menjadi pemberat utama, dengan saham BYAN, ASII, dan DSSA menjadi penekan terbesar indeks. Di sisi lain, rupiah justru menguat tipis ke Rp17.893 per dolar AS.
Dari luar negeri, bursa saham Amerika Serikat ditutup menguat di akhir pekan, ditopang pelemahan harga minyak dunia setelah Iran mengajukan proposal gencatan senjata 7 hari untuk mengakhiri konflik dengan AS dan membuka kembali Selat Hormuz. Namun demikian, yield obligasi AS bertenor 10 tahun mencatat rekor tertinggi dalam 19 tahun, seiring pasar memperhitungkan peluang kenaikan suku bunga The Fed pada pertemuan Oktober mendatang.
Mengutip riset Ciptadana Sekuritas Asia, IHSG hari ini diperkirakan berpotensi rebound ke zona positif, bergerak di kisaran 6.200 hingga 6.380. Peluang penguatan ini muncul di tengah pelemahan harga minyak yang dapat meredakan sebagian tekanan inflasi global.
Strategi: Buy on Weakness & Speculative Buy
Harga Terakhir: Rp2.600
Target Harga: Rp2.720
Batas Rugi (Stop Loss): Rp2.530
Harga Beli Disarankan: Rp2.580
Strategi: Buy on Weakness (beli saat harga tertekan)
Analisis: Harga ADRO naik 1,56% ke Rp2.600 pada 25 September, menunjukkan potensi rebound setelah sempat turun dari level tertinggi Rp2.860. Saham ini bertahan di area support Rp2.540-2.600, dengan tren naik jangka panjang yang masih terjaga selama garis tren dan support ini tidak tertembus. Dari keempat saham, ADRO menunjukkan struktur teknikal paling solid.
Harga Terakhir: Rp4.690
Target Harga: Rp4.720
Batas Rugi (Stop Loss): Rp4.400
Harga Beli Disarankan: Rp4.470
Strategi: Buy on Weakness (beli saat harga tertekan)
Analisis: Harga ASII turun 1,68% ke Rp4.690 pada 25 September, masih dalam tren melemah dengan harga diperdagangkan di bawah rata-rata pergerakannya. Momentum masih lemah, sehingga peluang beli baru terbuka di area Rp4.470, dengan risiko pelemahan lanjutan ke Rp4.350 jika area support tertembus.
Harga Terakhir: Rp3.500
Target Harga: Rp3.600
Batas Rugi (Stop Loss): Rp3.360
Harga Beli Disarankan: Rp3.450
Strategi: Buy on Weakness (beli saat harga tertekan)
Analisis: Harga BBNI turun tipis 0,57% ke Rp3.500 pada 25 September, menunjukkan potensi rebound jangka pendek dengan indikator jenuh jual yang sudah ekstrem. Meski begitu, konfirmasi tambahan masih diperlukan karena harga masih di bawah rata-rata pergerakannya. Peluang beli terbuka di area Rp3.450 selama support ini bertahan.
Harga Terakhir: Rp1.585
Target Harga: Rp1.625
Batas Rugi (Stop Loss): Rp1.550
Harga Beli Disarankan: Rp1.585
Strategi: Speculative Buy (beli spekulatif)
Analisis: Harga LPPF naik tipis 0,32% ke Rp1.585 pada 25 September, menunjukkan potensi rebound setelah menemukan support di area Rp1.525-1.550. Saham ini sudah kembali di atas rata-rata pergerakannya, dengan momentum jangka pendek yang membaik. Dari keempat saham, LPPF satu-satunya yang direkomendasikan sebagai pembelian spekulatif, bukan beli saat tertekan.
Tabel Rekomendasi Saham Hari Ini, 28 September 2026
Kode Saham | Strategi | Harga Terakhir | Target Harga | Batas Rugi (Stop Loss) |
|---|---|---|---|---|
ADRO | Buy on Weakness | Rp2.600 | Rp2.720 | Rp2.530 |
ASII | Buy on Weakness | Rp4.690 | Rp4.720 | Rp4.400 |
BBNI | Buy on Weakness | Rp3.500 | Rp3.600 | Rp3.360 |
LPPF | Speculative Buy | Rp1.585 | Rp1.625 | Rp1.550 |
Sumber: Ciptadana Sekuritas, harga terakhir per 25/9/2026
Di sisi makro, pertumbuhan uang beredar Indonesia sedikit melambat pada Agustus, yang menurut Ciptadana mencerminkan komitmen pemerintah menjaga defisit fiskal tetap terkendali. Sementara itu, kredit perbankan justru menunjukkan akselerasi, mengindikasikan permintaan pembiayaan yang masih solid.
Di sisi emiten, BBRI dan BRIS sama-sama mencatat rebound laba pada Agustus setelah tertekan di bulan sebelumnya, didukung normalisasi biaya provisi meski margin bunga bersih masih dalam tekanan. Sementara itu, SILO menyelesaikan batch pertama akuisisi rumah sakit dari transaksi First REIT, menandai tonggak penyelesaian konkret pertama sejak kesepakatan tersebut diteken.
ASII Masih dalam Tren Turun yang Kuat: Berbeda dengan tiga saham lainnya, ASII belum menunjukkan tanda pembalikan arah yang jelas dan berisiko melemah lebih dalam jika area support tertembus, sehingga memerlukan kehati-hatian ekstra.
Yield Obligasi AS di Level Tertinggi 19 Tahun: Kenaikan yield obligasi AS bertenor 10 tahun ke level tertinggi dalam 19 tahun dapat menambah tekanan bagi arus modal ke pasar negara berkembang, termasuk Indonesia, dalam waktu dekat.
Ketidakpastian Kesepakatan Damai AS-Iran: Proposal gencatan senjata 7 hari dari Iran belum tentu terealisasi, sehingga harga minyak berpotensi kembali bergejolak jika negosiasi tidak membuahkan hasil, yang dapat memengaruhi sentimen pasar secara luas.
Empat saham pilihan hari ini menawarkan dua pendekatan: ADRO, ASII, dan BBNI cocok dibeli saat harga tertekan (Buy on Weakness) karena masing-masing menunjukkan tanda-tanda potensi rebound teknikal, sementara LPPF sudah cukup solid untuk pembelian spekulatif. Sebagai panduan, harga beli yang disarankan adalah Rp2.580 untuk ADRO, Rp4.470 untuk ASII, Rp3.450 untuk BBNI, dan Rp1.585 untuk LPPF. Tetap disiplin menjaga batas rugi, khususnya untuk ASII yang masih menunjukkan tren turun paling kuat di antara keempatnya.
Bareksa adalah pioneer aplikasi investasi saham yang dirancang untuk membantu investor mengambil keputusan lebih percaya diri. Dilengkapi data market, riset, dan analisis fundamental, kamu bisa memantau saham dan membandingkan kinerja emiten secara praktis. Dalam satu aplikasi, Bareksa juga menyediakan reksa dana, SBN, dan emas untuk strategi investasi yang lebih lengkap.
***
DISCLAIMER
Disclaimer Ciptadana Sekuritas di Sini
Investasi saham mengandung risiko dan seluruhnya menjadi tanggung jawab pribadi. Bareksa membuat informasi ini dari materi dan sumber-sumber terpercaya, serta tidak dipengaruhi pihak manapun. Informasi ini bukan merupakan ajakan, ataupun paksaan untuk melakukan transaksi dan Bareksa tidak memberikan jaminan atas transaksi yang dilakukan.
ADRO adalah perusahaan tambang batu bara terbesar di Indonesia, dengan bisnis yang juga merambah ke energi terbarukan dan pertambangan mineral lain melalui anak-anak usahanya.
LPPF adalah perusahaan ritel yang mengoperasikan jaringan department store Matahari di berbagai kota di Indonesia, menjual produk fesyen, kecantikan, dan kebutuhan rumah tangga.
Yield obligasi AS yang lebih tinggi membuat aset dolar menjadi lebih menarik secara relatif dibanding aset negara berkembang, yang dapat mendorong investor asing menarik dana dari pasar seperti Indonesia. Hal ini berpotensi menekan nilai tukar rupiah dan menambah tekanan jual di pasar saham domestik.
First REIT adalah dana investasi real estat yang sebelumnya menyewakan sejumlah rumah sakit kepada SILO. Melalui transaksi ini, SILO membeli kembali kepemilikan rumah sakit tersebut, yang diharapkan menghilangkan beban sewa progresif jangka panjang, meski dalam jangka menengah menambah beban depresiasi dan bunga dari pembiayaan akuisisi.