Rekomendasi Saham Tim Analis Bareksa Hari Ini: IMPC, AMMN dan UNTR

Abdul Malik • 15 Sep 2026

an image
Ilustrasi penjualan alat berat Komatsu milik PT United Tractors Tbk (UNTR) melesat sehingga mendongkrak harga saham perseroan dan kinerja saham dengan portofolio UNTR. (Shutterstock)

Tim Analis Bareksa merekomendasikan IMPC dan AMMN untuk Quick Trade serta UNTR untuk Speculative Buy. Ketiganya berada di atas MA20 dan MA50; UNTR memiliki rasio risiko-imbalan paling seimbang. IHSG diproyeksikan rebound dalam rentang 6.476-6.610.

Bareksa - IHSG turun 0,10% ke 6.535 pada Senin (14/9/2026). Investor asing mencatat net sell Rp338 miliar, sementara rupiah melemah 48 poin ke Rp17.648 per dolar AS. Healthcare dan Energy menjadi sektor pemberat; Financials dan Industrials menguat.

Sentimen global masih beragam: Dow Jones turun 0,29%, Nasdaq turun 0,56%, dan Kospi terkoreksi 3,26%. Brent naik 1,02% ke US$105,7 per barel akibat gangguan pasokan di Timur Tengah.

Ringkasan untuk Investor

  • IMPC dan AMMN: momentum kuat, tetapi RSI mendekati area jenuh beli; utamakan entry di area bawah.

  • UNTR: tren naik terkonfirmasi dengan momentum lebih moderat dan profil risiko-imbalan relatif seimbang.

  • IHSG: support 6.476 dan resistance 6.610; skenario rebound bergantung pada kemampuan indeks bertahan di atas 6.400.

Rekomendasi Saham Hari Ini

1. IMPC - PT Impack Pratama Industri Tbk

  • Harga terakhir: Rp1.725

  • Target harga: Rp1.815-1.865

  • Batas rugi (stop loss): Rp1.470

  • Range beli: Rp1.655-1.705

  • Prioritas entry: Rp1.655-1.670

Analisis: Quick Trade. Harga naik 0,29% dan berada di atas MA20 Rp1.485 serta MA50 Rp1.505, sehingga tren naik terkonfirmasi. RSI 60,58 mendekati area jenuh beli; momentum 20 hari mencapai 22,78%. Rasio risiko-imbalan dari entry atas sekitar 0,47:1, sehingga entry bawah lebih diutamakan.

Beli Saham IMPC di Sini

2. AMMN - PT Amman Mineral Internasional Tbk

  • Harga terakhir: Rp5.100

  • Target harga: Rp5.375-5.525

  • Batas rugi (stop loss): Rp4.300

  • Range beli: Rp4.875-5.025

  • Prioritas entry: Rp4.875-4.910

Analisis: Quick Trade. Harga naik 4,94% dan berada di atas MA20 Rp4.510 serta MA50 Rp4.330, menegaskan tren naik. RSI 65,65 mendekati area jenuh beli dan momentum 20 hari mencapai 20,85%. Rasio risiko-imbalan dari entry atas sekitar 0,48:1; hindari mengejar kenaikan.

Beli Saham AMMN di Sini

3. UNTR - PT United Tractors Tbk

  • Harga terakhir: Rp26.400

  • Target harga: Rp27.725-28.525

  • Batas rugi (stop loss): Rp24.450

  • Range beli: Rp25.325-26.125

  • Prioritas entry: Rp25.325-25.725

Analisis: Speculative Buy. Harga naik 0,38% dan bertahan di atas MA20 Rp24.875 serta MA50 Rp24.725. RSI 54,35 menunjukkan momentum baru menguat, sedangkan kenaikan 20 hari mencapai 14,41%. Profil risiko-imbalan relatif lebih seimbang dibandingkan IMPC dan AMMN.

Beli Saham UNTR di Sini

Tabel Rekomendasi Saham Tim Analis Bareksa

Kode Saham

Rekomendasi

Harga Terakhir

Target Harga

Batas Rugi (Stop Loss)

IMPC

Quick Trade

Rp1.725

Rp1.815–1.865

Rp1.470

AMMN

Quick Trade

Rp5.100

Rp5.375–5.525

Rp4.300

UNTR

Speculative Buy

Rp26.400

Rp27.725–28.525

Rp24.450

Sumber: Tim Analis Bareksa; harga terakhir per 14/9/2026

Prediksi IHSG dan Sorotan Pasar

Ciptadana Sekuritas Asia memproyeksikan IHSG bergerak pada 6.476 sebagai support dan 6.610 sebagai resistance, dengan peluang rebound pada hari ini (15/9/2026). Koreksi dinilai mulai mereda selama indeks bertahan di atas area 6.400. Skenario berikutnya mengarah ke 6.700-6.800, dengan 6.800 sebagai resistance kunci. 

Bank Indonesia memproyeksikan rupiah berada pada kisaran Rp17.300-Rp17.800 per dolar AS. Namun, kenaikan Fed Funds Rate dan tekanan harga energi dapat membatasi ruang penguatan rupiah.

Faktor Risiko Utama

  • IMPC dan AMMN memiliki RSI mendekati area jenuh beli; koreksi jangka pendek dapat terjadi setelah kenaikan tajam.

  • Rasio risiko-imbalan dari entry atas IMPC dan AMMN di bawah 0,5:1; disiplin pada prioritas entry dan batas rugi diperlukan.

  • Harga minyak dan arah suku bunga global dapat memengaruhi inflasi, rupiah, arus asing, dan sentimen IHSG.

Kesimpulan

IMPC, AMMN, dan UNTR sama-sama menunjukkan tren naik berdasarkan posisi terhadap MA20 dan MA50. IMPC dan AMMN memiliki momentum lebih kuat, tetapi juga lebih dekat ke area jenuh beli. UNTR menawarkan profil risiko-imbalan yang relatif lebih seimbang. Strategi ini ditujukan untuk trading jangka pendek dan perlu disesuaikan dengan profil risiko serta rencana investasi masing-masing.

Investasi di Aplikasi Trading Saham Online Terbaik – Bareksa

Bareksa adalah pioneer aplikasi investasi saham yang dirancang untuk membantu investor mengambil keputusan lebih percaya diri. Dilengkapi data market, riset, dan analisis fundamental, kamu bisa memantau saham dan membandingkan kinerja emiten secara praktis. Dalam satu aplikasi, Bareksa juga menyediakan reksa dana, SBN, dan emas untuk strategi investasi yang lebih lengkap.

Beli Saham di Sini

(Sigma Kinasih CTA, CFP/Reynaldi/AM)

Tentang Penulis

* Sigma Kinasih adalah Investment Strategist Bareksa dengan pengalaman lebih dari 12 tahun di industri pasar modal. Memegang lisensi WMI, WPPE, CTA, dan CFP, ia berfokus pada riset makroekonomi, strategi portofolio, serta analisis reksadana, saham, emas dan SBN. Sigma meraih gelar Magister Ekonomi dari Universitas Trisakti.

***

DISCLAIMER​​​​​​​​​

Investasi saham mengandung risiko dan seluruhnya menjadi tanggung jawab pribadi. Bareksa membuat informasi ini dari materi dan sumber-sumber terpercaya, serta tidak dipengaruhi pihak manapun. Informasi ini bukan merupakan ajakan, ataupun paksaan untuk melakukan transaksi dan Bareksa tidak memberikan jaminan atas transaksi yang dilakukan.

Pertanyaan Umum

Mengapa rekomendasi ini menggunakan strategi Quick Trade dan Speculative Buy?

Karena sinyal yang digunakan berasal dari indikator teknikal dan ditujukan untuk horizon jangka pendek, bukan penilaian fundamental jangka panjang.

Mengapa entry bawah lebih diutamakan?

Entry bawah memberi ruang risiko-imbalan yang lebih terukur, terutama pada IMPC dan AMMN yang sudah mencatat kenaikan kuat.

Kapan skenario teknikal dianggap tidak berlaku?

Skenario perlu dievaluasi jika harga menembus batas rugi atau IHSG turun di bawah area support utama.

Profil Penulis

Abdul Malik

Abdul Malik adalah Managing Editor Bareksa dengan pengalaman lebih dari 20 tahun di jurnalisme pasar modal. Memegang lisensi WPPE, ia fokus pada analisis pasar modal, saham, reksadana, SBN, emas dan edukasi keuangan, serta merupakan peraih beberapa fellowship internasional.