Rekomendasi TLKM Upgrade ke BUY, Laba Kuartal I 2026 Tertekan, Operasional Tetap Solid

Abdul Malik • 04 Jun 2026

an image
Menara PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) di Jl Gatot Soebroto, Jakarta. TLKM jadi salah satu BUMN di bawah Danantara. (Shutterstock)

Ciptadana Sekuritas naikkan rekomendasi TLKM ke Beli, target Rp3.500. Laba kuartal I 2026 turun 21,7% secara tahunan karena item non-operasional, namun ARPU dan arus kas tetap solid.

Bareksa - Ciptadana Sekuritas Asia meningkatkan rekomendasi saham PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) dari Hold menjadi Buy dengan target harga Rp3.500 per saham, mencerminkan potensi kenaikan 22,8% dari harga terakhir Rp2.850. 

Peningkatan rekomendasi ini didasarkan pada laporan results update yang diterbitkan analis Christopher Rusli pada 4 Juni 2026, mengacu pada laporan keuangan TLKM kuartal I 2026. TLKM merupakan emiten telekomunikasi terbesar Indonesia milik pemerintah dengan kapitalisasi pasar sekitar Rp717 triliun.

Laporan mencatat laba bersih kuartal I 2026 sebesar Rp4,3 triliun, turun 21,7% secara tahunan. Namun penurunan ini terutama disebabkan oleh penyesuaian depresiasi akibat perubahan umur manfaat aset dan kerugian mark-to-market dari investasi, bukan deteriorasi operasional. 

Setelah mengeluarkan item non-operasional tersebut, laba bersih ternormalisasi mencapai Rp5,1 triliun, turun lebih moderat 3,7% secara tahunan namun naik signifikan 21,6% secara kuartalan, mengindikasikan kualitas laba operasional TLKM sesungguhnya lebih baik dari yang terlihat di permukaan.

ARPU Mobile & Arus Kas Jadi Penyangga Valuasi

Secara operasional, Telkomsel mencatat ARPU mobile Rp45.100, naik 6,4% secara tahunan dan 0,4% secara kuartalan, mencerminkan keberhasilan strategi disiplin penetapan harga dan inisiatif perbaikan industri (market repair). 

Segmen Data, Internet & Layanan TI tumbuh 10,9% secara tahunan menjadi Rp23,6 triliun dan tetap menjadi mesin pertumbuhan utama grup. Di sisi lain, IndiHome mencatat penurunan pendapatan 4,3% secara tahunan menjadi Rp6,4 triliun akibat tekanan kompetitif di segmen broadband tetap.

Arus kas operasional kuartal I 2026 naik 3,1% secara tahunan dan 21,4% secara kuartalan menjadi Rp17,3 triliun, sementara free cash flow to firm (FCFF) 12 bulan terakhir mencapai Rp43,3 triliun, tumbuh 15,5% secara tahunan. 

Kondisi ini menunjukkan manajemen berhasil menjaga disiplin belanja modal sambil terus meningkatkan monetisasi bisnis konektivitas inti. Arus kas yang kuat ini menjadi landasan bagi estimasi imbal hasil dividen 5–7% ke depan.

Katalis: Infranexia & Potensi Masuknya Investor Strategis

Manajemen TLKM mempertahankan target tahun buku 2026 berupa pertumbuhan pendapatan 1–3%, margin EBITDA di atas 50%, dan rasio belanja modal terhadap pendapatan sebesar 17–19%. Penyelesaian Fase 1 pemisahan (spin-off) serat optik melalui entitas Infranexia, dengan lebih dari Rp35,8 triliun aset serat yang telah dipindahkan, dinilai sebagai salah satu katalis terpenting bagi TLKM. 

Manajemen menargetkan masuknya investor strategis untuk membuka nilai tersembunyi dari portofolio infrastruktur serat optik tersebut.

Ciptadana Sekuritas merevisi turun estimasi laba bersih proyeksi 2026 menjadi Rp21,4 triliun dari sebelumnya Rp23,1 triliun, dan proyeksi 2027 menjadi Rp23,9 triliun dari Rp24,9 triliun, mencerminkan penyesuaian atas item akuntansi satu kali. 

Meski demikian, tren perbaikan laba ternormalisasi dan potensi re-rating valuasi dari monetisasi Infranexia serta diskusi kemitraan strategis di segmen pusat data tetap menjadi faktor pendukung pandangan positif analis. Risiko penurunan utama meliputi pemulihan ARPU yang lebih lambat dari ekspektasi, penundaan monetisasi Infranexia, dan potensi intervensi regulasi.

Ringkasan Data Keuangan dan Valuasi TLKM

Keterangan
Kuartal I 2026
Perubahan Tahunan
Perubahan Kuartalan

Pendapatan

Rp37,2 triliun

naik 1,5%

naik 0,2%

EBITDA

Rp17,6 triliun

turun 4,9%

turun 2,4%

Margin EBITDA

47,4%

−3,2 ppt

−1,2 ppt

Laba Bersih (Dilaporkan)

Rp4,3 triliun

turun 21,7%

naik 114,0%

Laba Bersih (Ternormalisasi)

Rp5,1 triliun

turun 3,7%

naik 21,6%

ARPU Mobile

Rp45.100

naik 6,4%

naik 0,4%

Arus Kas Operasi

Rp17,3 triliun

naik 3,1%

naik 21,4%

FCFF 12 Bulan Terakhir

Rp43,3 triliun

naik 15,5%

Sumber: riset Ciptadana Sekuritas

Estimasi Proyeksi 2026
Nilai

Pendapatan

Rp152,9 triliun

EBITDA

Rp76,8 triliun

Margin EBITDA

50,3%

Laba Bersih

Rp21,4 triliun

Laba per Saham

Rp216,3

PER

13,2x

EV/EBITDA

3,5x

Estimasi Imbal Hasil Dividen

6,6%

Estimasi Dividen per Saham

Rp188,4

Sumber: riset Ciptadana Sekuritas

Profil Saham
Nilai

Harga Terakhir

Rp2.850

Target Harga

Rp3.500

Potensi Kenaikan

22,8%

Rekomendasi

Beli (naik dari Tahan)

Harga Tertinggi/Terendah 52 Minggu

Rp3.990 / Rp2.560

Kapitalisasi Pasar

Rp717,1 triliun

Pemegang Saham Utama

PT Danantara Asset Management (52,1%)

Sumber: riset Ciptadana Sekuritas

Kesimpulan

Peningkatan rekomendasi TLKM ke Beli oleh Ciptadana Sekuritas Asia mencerminkan pandangan bahwa tekanan laba kuartal I 2026 bersifat sementara dan didorong oleh faktor akuntansi non-operasional, sementara fondasi operasional—terutama ARPU mobile, monetisasi data, dan arus kas bebas—menunjukkan tren yang menguat. Bagi investor, kombinasi antara potensi kenaikan harga 22,8%, estimasi imbal hasil dividen 6,6% untuk proyeksi 2026, dan katalis struktural dari Infranexia dapat menjadi perhatian dalam mencermati prospek TLKM ke depan.

FAQ

1. Mengapa Ciptadana menaikkan rekomendasi TLKM ke Beli? 
Ciptadana Sekuritas menilai penurunan laba kuartal I 2026 bersifat sementara akibat penyesuaian akuntansi, sementara indikator operasional seperti ARPU mobile, arus kas bebas, dan pertumbuhan segmen data tetap solid—sehingga mendukung pandangan konstruktif terhadap TLKM.

2. Berapa target harga TLKM menurut Ciptadana? 
Target harga dipertahankan di Rp3.500 per saham, mencerminkan potensi kenaikan 22,8% dari harga terakhir Rp2.850.

3. Berapa estimasi imbal hasil dividen TLKM untuk proyeksi 2026? 
Berdasarkan estimasi Ciptadana, imbal hasil dividen proyeksi 2026 diperkirakan sekitar 6,6%, dengan estimasi dividen per saham Rp188,4.

4. Apa itu Infranexia dan mengapa relevan bagi investor TLKM? 
Infranexia adalah entitas hasil pemisahan infrastruktur serat optik TLKM. Dengan lebih dari Rp35,8 triliun aset yang telah dipindahkan, masuknya investor strategis ke Infranexia berpotensi membuka nilai tersembunyi dari aset infrastruktur TLKM dan menjadi katalis re-rating valuasi.

5. Apa saja risiko utama yang perlu dicermati investor? 
Risiko utama meliputi: (1) pemulihan ARPU yang lebih lambat dari ekspektasi, (2) penundaan monetisasi Infranexia, dan (3) potensi intervensi regulasi yang dapat memengaruhi kinerja TLKM.

Investasi di Aplikasi Trading Saham Online Terbaik – Bareksa

Bareksa adalah pioneer aplikasi investasi saham yang dirancang untuk membantu investor mengambil keputusan lebih percaya diri. Dilengkapi data market, riset, dan analisis fundamental, kamu bisa memantau saham dan membandingkan kinerja emiten secara praktis. Dalam satu aplikasi, Bareksa juga menyediakan reksa dana, SBN, dan emas untuk strategi investasi yang lebih lengkap.

Beli Saham di Sini

Tentang Penulis

*Abdul Malik adalah Managing Editor Bareksa dengan pengalaman lebih dari 20 tahun di jurnalisme pasar modal. Memegang lisensi WPPE, ia fokus pada analisis pasar modal, saham, reksadana, SBN, emas dan edukasi keuangan, serta merupakan peraih beberapa fellowship internasional.

***

DISCLAIMER​​​​​​​​​

Disclaimer Ciptadana Sekuritas di Sini

Investasi saham mengandung risiko dan seluruhnya menjadi tanggung jawab pribadi. Bareksa membuat informasi ini dari materi dan sumber-sumber terpercaya, serta tidak dipengaruhi pihak manapun. Informasi ini bukan merupakan ajakan, ataupun paksaan untuk melakukan transaksi dan Bareksa tidak memberikan jaminan atas transaksi yang dilakukan.