Stocks Pick : IHSG Naik di Tengah Rilis Inflasi AS, Ini Rekomendasi Saham BBRI, MTEL dan PWON

Abdul Malik • 15 Nov 2023

an image
Ilustrasi rilis angka inflasi AS pada Oktober 2023 yang semakin melandai jadi sentimen utama yang mempengaruhi pasar modal, termasuk IHSG. (Shutterstock)

The Fed diprediksi akan mulai memangkas suku bunga acuannya pada Juni 2024

Bareksa.com - Berikut kinerja Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada Selasa (14/11/2023) dan beberapa saham unggulan yang direkomendasikan oleh Tim Analis Bareksa, Rabu (15/11/2023):

IHSG : last price 6.862,06

Pasar Saham Indonesia yang tercermin dari kinerja Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup menguat pada Selasa (14/11/2023). Penguatan itu karena pelaku pasar menanti rilis inflasi Amerika Serikat (AS) pada Rabu dinihari WIB, atau Selasa waktu AS. IHSG naik 0,35% atau bertambah 23,75 poin menjadi 6.862,06 pada Selasa, setelah pada Senin juga ditutup di zona hijau. Senada, indeks saham LQ45 naik 0,3% ke posisi 903,91.

Tercatat 10 sektor saham di IHSG meningkat dipimpin sektor transportasi & logistik yang naik 1,36%, sektor kesehatan dan sektor teknologi masing-masing 1,21% dan 0,66%. Namun sektor barang konsumen primer turun 0,15%. Saham-saham dengan kenaikan terbesar NATO, MBTO, PURI, TRIS, dan BBYB. Sedangkan saham-saham yang melemah terdalam SDPC, MENN, MAYA, ASMI dan BSML. Frekuensi perdagangan tercatat 1.030.548 kali transaksi, dengan jumlah saham yang diperdagangkan 17,56 miliar lembar senilai Rp7,02 triliun. Sebanyak 285 saham naik, 233 saham turun dan 234 stagnan.

Investasi Saham di Sini

Biro Statistik Tenaga Kerja AS mengumumkan inflasi pada Oktober 2023 melandai jadi 3,2% secara tahunan (YOY), atau semakin melandai dibanding September 3,7% karena turunnya harga bensin. Namun, inflasi AS masih memerlukan waktu untuk kembali ke kondisi sebelum pandemi Covid-19. 

Angka inflasi pada Oktober ini turun signifikan dari era pandemi 9,1% pada Juni 2022, yang tertinggi sejak November 1981. Karena itu, kenaikan harga-harga ini jauh lebih lambat dari sebelumnya. Meski begitu, angka inflasi tersebut masih belum sesuai target Bank Sentral AS The Federal Reserve (The Fed) 2%. Adapun indeks harga konsumen (CPI) inti AS turun jadi 4% YOY pada Oktober, atau melandai dari 4,1% pada September.

Morgan Stanley memprediksi The Fed akan menurunkan suku bunga acuannya pada Juni 2024, sehingga bisa mendorong pasar saham dan obligasi kembali bergairah. Bank Indonesia (BI) mengungkapkan kemungkinan penurunan suku bunga The Fed AS baru akan terjadi pada semester II 2024, dengan total penurunan secara kumulatif sebesar 50 basis poin (bps). Saat ini suku bunga AS di level 5,25-5,5%. 

Pasar saat ini juga menanti hasil pembicaraan antara Presiden AS Joe Biden dan Presiden China Xi Jinping untuk mendapatkan petunjuk mengenai hubungan AS dan China. Biden dan Xi dijadwalkan bertemu di sela-sela Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Kerja Sama Ekonomi Asia Pasifik atau APEC pekan ini.

Investasi Saham di Sini

Di tengah naiknya IHSG, Tim Analis Bareksa merekomendasikan beberapa saham unggulan: 

Stocks Pick

BBRI

MTEL

PWON

Last price

Rp5.075

655

414

Recomendation

Trading buy

Trading buy

Trading buy

Entry

Rp5.075

Rp655

Rp412

Rp5.000

Rp630

Rp400

Take profit (TP) 1

Rp5.175

Rp685

Rp424

Take profit (TP) 2

Rp5.250

Rp700

Rp430

Stop loss

Rp4.940

Rp610

Rp390

Sumber : Tim Analis Bareksa, last price 14/11/2023

Investasi Saham di Sini

1. BBRI : last price Rp5.075

Harga saham PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) naik 1% atau bertambah 50 poin pada Selasa (14/11/2023). Tim Analis Bareksa merekomendasikan beli (trading buy) saham BBRI di kisaran Rp5.000 hingga Rp5.075 dengan ambil untung di Rp5.175 dan Rp5.250, serta stop rugi di Rp4.940. 

2. MTEL : last price Rp655

Harga saham PT Dayamitra Telekomunikasi Tbk (MTEL) melemah 1,5% atau berkurang 10 poin menjadi Rp655 pada Selasa (14/11/2023). Tim Analis Bareksa merekomendasikan trading buy saham MTEL di kisaran Rp630 hingga Rp655, dengan ambil untung di Rp685 dan Rp700, serta stop rugi di Rp610. 

3. PWON : last price Rp414

Harga saham PT Pakuwon Jati Tbk (PWON) menguat 0,49% atau bertambah 2 poin menjadi Rp414 pada Selasa (14/11/2023). Tim Analis Bareksa merekomendasikan trading buy saham MTEL di kisaran Rp400 hingga Rp412, dengan ambil untung di Rp424 dan Rp430, serta stop rugi di Rp390.

Investasi Saham di Sini

Ringkasan Berita Pasar

DRMA

PT Dharma Polimetal Tbk (DRMA) akan membangun dua pabrik baru untuk menambah produksi komponen otomotif di kawasan Jababeka. Kedua pabrik itu diharapkan akan rampung pada 2024. Perusahaan juga sedang melakukan pengembangan ekosistem pendukung kendaraan listrik dengan battery management system dan anak usaha DRMA juga sudah memproduksi baterai untuk roda dua, tiga dan sepeda listrik. 

ISAT 

PT Indosat Tbk (ISAT) telah merealisasi belanja modal Rp7,7 triliun hingga kuartal III tahun ini. Dana itu mayoritas digunakan untuk membangun dan memperkuat jaringan perusahaan di Indonesia Timur. ISAT juga akan membangun fiber to the home (FTTH) melalui anak usaha dengan target hingga 1,5 juta rumah yang akan terlayani. 

PGEO

PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO) akan menggandeng Chevron New Energies International (Chev-ron) dan Mubadala  Energy untuk Joint Study Agreement (JSA) melakukan eksplorasi panas bumi di Sulawesi Utara. Hal itu karena saat ini pemerintah menargetkan penambahan energi panas bumi 3,3 gigawatt, sehingga kerja sama ini diharapkan akan memperkuat hasil eksplorasi dan penambahan listrik terbarukan di Indonesia.

Investasi Saham di Sini

(Sigma Kinasih/Ariyanto Dipo Sucahyo/Christian Halim/AM)​

***

Ingin berinvestasi aman di saham dan reksadana secara online yang diawasi OJK?

- Daftar jadi nasabah, klik tautan ini
- Beli reksadana, klik tautan ini
- Beli emas, klik tautan ini
- Download aplikasi reksadana Bareksa di App Store​
- Download aplikasi reksadana Bareksa di Google Playstore
- Belajar reksadana, klik untuk gabung Komunitas Bareksa di Facebook. GRATIS

DISCLAIMER​​​​​

Investasi saham mengandung risiko dan seluruhnya menjadi tanggung jawab pribadi. Bareksa membuat informasi ini dari materi dan sumber-sumber terpercaya, serta tidak dipengaruhi pihak manapun. Informasi ini bukan merupakan ajakan, ataupun paksaan untuk melakukan transaksi dan Bareksa tidak memberikan jaminan atas transaksi yang dilakukan.