Schroders : Market November Rally, Asing Masuk di Saham US$250 Juta

Abdul Malik • 03 Dec 2020

an image
Rizky Hidayat, Investment Specialist Schroders Indonesia saat memberikan ulasan pasar di laman Schroders Indonesia yang dirilis Kamis (3/12/2020). (www.schroders.com)

Ada dua faktor pendorong market rally pada November 2020

Bareksa.com - Investment Specialist PT Schroder Investment Management Indonesia, Rizky Hidayat, menyatakan pasar modal Indonesia sepanjang November 2020 rally cukup kencang, baik di pasar saham maupun obligasi. Di pasar saham, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), naik 9,7 persen month to month pada November. Sedangkan pasar obligasi yield Surat Berharga Negara (SBN) 10 tahun sudah turun dari 6,6 persen ke 6,2 persen.

"Dilihat secara flow, untuk pertama kalinya di 2020, dana asing membukukan inflow ke pasar saham kita senilai US$250 juta. Dan di pasar obligasi asing membukukan net buy US$950 juta. Ini merupakan lanjutan dari inflow senilai US$1,5 miliiar di bulan Oktober untuk pasar Obligasi," ungkapnya dalam ulasan pasar edisi November dilansir lama resmi Schroders Indonesia (3/12/2020).

Sumber : Bareksa

Apa penyebab market rally cukup kencang pada November?

Rizky menyatakan ada dua faktor pendorong market rally pada November. Pertama, adalah faktor pemilihan umum presiden Amerika Serikat (AS), di mana Pemilu AS dimenangkan oleh Joe Biden dari Partai Demokrat. Yang secara kebijakan, Biden dinilai lebih pro negara berkembang dan negatif ke pasar AS. "Sehingga kalau kita lihat secara flow, capital keluar dari US market, masuk ke emerging market, yang salah satunya adalah Indonesia," ujar Rizky.

Faktor kedua, adalah vaksin Covid-19. Di mana ada ada kabar positif dari tiga perusahaan produsen vaksin global yakni Pfizer dan Moderna dari AS dan AstraZeneca dari Inggris. Mereka menyatakan sudah menyelesaikan fase ketiga atau merupakan fase terakhir uji coba vaksinnya. Sehingga kata Rizky, selanjutnya adalah perusahaan-perusahaan tersebut perlu mendapatkan emergency use authorization dari FDA atau BPOMnya AS.

"Sehingga mereka bisa lanjut ke vaksinasi atau distrubusi," kata Rizky.

Bagaimana strategi investasinya?

Rizky mengungkapkan jika dilihat dari sisi kelas aset secara year to date, pasar obligasi sudah rally cukup kencang. Kenaikan itu malah sudah melampaui level pra pandemi Covid-19. Bond yield juga sudah turun dari 7,1 persen ke 6,2 persen. Sehingga dari sisi upside, pasar obligasi sudah cukup terbatas. Namun untuk medium atau long term, peluangnya masih besar.

JIka dilihat dari sisi kepemilikan asing di Surat Utang Negara, sudag turun dari 39 persen ke 26 persen year to date. Sehingga apabila dana asing ini kembali masuk tahun depan, ini bisa menghasilkan upside ke pasar obligasi Indonesia. Ini didukung oleh hedging cost yang murah, kurs rupiah yang cukup stabil serta riil rate yield yang masih menarik di Indonesia.

Sedangkan untuk pasar saham, menurut Rizky, belum kembali ke level sebelum pra pandemi. Secara YtD, IHSG masih turun 11-12 persen. Sehingga peluang upside masih ada. Kalau dibandingkan dengan pasar-pasar lain di regional atau global, pasar saham Indonesia masih tertinggal dibandingkan pasar indeks saham negara lain. "Sehingga kita menunggu katalis apa yang bisa mendorong pasar saham," Rizky mengungkapkan.

Beberapa katalis yang bisa mendorong IHSG, kata dia, di antaranya implementasi Omnibus Law Undang-Undang Cipta Kerja, distribusi vaksin Covid-19, kemudian arus modal asing masuk dari pasar AS ke negara berkembang, salah satunya Indonesia. "Hal ini otomatis membantu melemahkan dolar AS dan membantu menguatkan kurs rupiah. Dan ini juga positif buat pasar equity Indonesia," ujarnya.

***

Ingin berinvestasi aman di reksadana yang diawasi OJK?
- Daftar jadi nasabah, klik tautan ini
- Beli reksadana, klik tautan ini
- Pilih reksadana, klik tautan ini
- Belajar reksadana, klik untuk gabung di Komunitas Bareksa. GRATIS

​DISCLAIMER​
Semua data kinerja investasi yang tertera di dalam artikel ini adalah kinerja masa lalu dan tidak menjamin kinerja di masa mendatang. Investor wajib membaca dan memahami prospektus dan fund fact sheet dalam berinvestasi reksadana.