Prediksi Sucor AM atas Kinerja Pasar Modal dan Reksadana di 2021

Abdul Malik • 29 Dec 2020

an image
Jemmy Paul Wawointana, Presiden Direktur PT Sucorinvest Asset Management saat berbicara dalam acara market outlook di Jakarta (www.sucorinvestam.com)

Per 28 Desember, mayoritas atau 5 dari 8 indeks reksadana sudah membukukan kinerja positif YtD 2020

Bareksa.com - ​Kinerja pasar saham dan reksadana sepanjang 2020 (year to date per 28 Desember) memang belum pulih benar dari dampak pandemi Covid-19. Hal ini terlihat dari kinerja Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang masih minus 3,27 persen YtD. Kondisi itu membuat indeks reksadana saham juga masih negatif 6,3 persen, indeks reksadana saham syariah minus 6,57 persen dan indeks reksadana pasar uang masih tertekan 0,4 persen.

Meski begitu, mayoritas indeks reksadana sudah membukukan kinerja positif. Tercatat 5 dari 8 indeks reksadana di Bareksa sudah membukukan kinerja positif YtD per 28 Desember. Kenaikan tertinggi dibukukan oleh indeks reksadana pendapatan tetap yang naik 7,11 persen, disusul indeks reksadana pendapatan tetap syariah naik 4,96 persen. Kemudian indeks reksadana campuran syariah naik 1,97 persen, indeks reksadana pasar uang syariah tumbuh 1,77 persen, serta indeks reksadana campuran bertambah 0,04 persen.

Sumber : Bareksa

Meskipun dari sisi kinerja nilai aktiva bersih reksadana belum pulih benar, namun sejatinya dari sisi jumlah dana kelolaan industri reksadana sudah berhasil pulih dari dampak pandemi Covid-19. Laporan Bareksa Mutual Fund Industry, Data Market – Monthly Report November 2020 yang mengolah data Otoritas Jasa Keuangan menyebutkan dana kelolaan reksadana pada November 2020 menembus Rp547,8 triliun, atau merupakan level tertinggi sepanjang tahun ini.

Nilai AUM reksadana November 2020 telah melampaui level akhir tahun lalu yang senilai Rp542,2 triliun atau naik 1,04 persen, atau merupakan yang pertama kali berhasil melampaui level sebelum pandemi Covid-19 tahun ini. Setelah Desember 2019 lalu, kemudian nilai AUM reksadana terus menurun akibat tertekan dampak pandemi Covid-19 dan mencapai level terendahnya pada Maret 2020 di Rp471,4 triliun, atau di bawah Rp500 triliun.

Sejak itu nilai AUM reksadana tidak mampu menyentuh seperti level akhir 2019, akibat turunnya nilai aset portofolio reksadana. Hingga kemudian kemudian pada November seiring tren pemulihan di pasar modal, nilai AUM reksadana kembali pulih dan melampaui level akhir tahun lalu. Secara bulanan dana kelolaan reksadana naik 3 persen pada November dibandingkan Oktober 2020, atau bertambah Rp17,9 trilun. Secara year to date dan year on year naik 1 persen. Dibandingkan Desember 2019, dana kelolaan reksadana pada November bertambah Rp5,6 triliun.

Meski kinerja industri pasar modal dan reksadana sepanjang 2020 dihantui dampak pandemi Covid-19, namun PT Sucorinvest Asset Management berhasil menjadi salah satu perusahaan manajemen investasi (MI) yang paling tahan banting dan berhasil terus bertumbuh. Perseroan berhasil membukukan lonjakan dana kelolaan tertinggi dalam daftar top 20 MI.

Secara year to date per November 2020, asset under management/AUM Sucor AM meroket hingga 89 persen, secara YoY juga naik tertinggi hingga 76 persen dan bulanan tumbuh 12 persen, yang merupakan kenaikan tertinggi kedua. 

Pada bulan lalu AUM reksadana Sucor AM mencapai Rp19,07 triliun dengan market share 3 persen. Ranking Sucor naik 1 peringkat dari sebelumnya di peringkat 13 pada Oktober jadi peringkat 12 besar MI dana kelolaan reksadana terbesar pada November.

Nilai AUM Sucor AM tersebut telah melampaui target dana kelolaan tahun ini yang sejatinya hanya ditargetkan Rp15 triliun. Kondisi itu menunjukkan kinerja AUM Sucor AM terus bertumbuh di tengah industri reksadana yang masih tertekan akibat pandemi Covid-19.

Bagaimana Sucor AM memprediksi gambaran kinerja pasar modal dan industri reksadana pada 2021? Berikut petikan wawancara Abdul Malik dari Bareksa dengan Direktur Utama PT Sucorinvest Asset Management, Jemmy Paul Wawointana dalam wawancara secara tertulis akhir pekan lalu :

Bagaimana gambaran perseroan atas kondisi pasar modal di 2021?

Kami memiliki pandangan bahwa penguatan pasar masih akan berlanjut hingga tahun depan dan tahun berikutnya. Optimisme terhadap vaksinasi yang diharapkan dapat meredam penyebaran Covid, aktivitas ekonomi yang kembali bangkit yang mendorong harga komoditas dan harapan stabilitas politik dan perdagangan global usai terpilihnya presiden Amerika Serikat (AS) yang baru akan menjadi penopang pergerakan pasar di tahun depan. Kami memproyeksikan IHSG dapat menyentuh 6700-6800 pada tahun depan.

Seiring gambaran membaiknya pasar tahun depan, bagaimana proyeksi Sucor AM atas kinerja industri reksadana tahun depan?

Industri reksadana dan pasar modal Indonesia masih punya potensi yang besar sekali untuk tumbuh melihat saat ini tingkat inklusi keuangan masyarakat masih tergolong rendah bahkan apabila dibandingkan dengan regional ASEAN. Kami melihat investasi bertemakan ESG akan menjadi tren baru pada tahun depan.

Jenis produk reksadana apa yang akan moncer kinerjanya tahun depan, dibandingkan dengan tahun ini?

Kami memiliki pandangan bahwa tahun depan reksadana saham dapat mencatatkan kinerja yang baik dibandingkan kelas aset lainnya ditopang oleh sentimen pemulihan ekonomi dan harapan pandemi dapat lebih terkendali pada tahun depan. Kami terus berkomitmen untuk menghasilkan kinerja seluruh produk reksa dana dapat lebih unggul dari tolok ukur.

Bagaimana Sucor memperkirakan gambaran investor pasar modal umumnya dan investor reksadana khususnya tahun depan?

Investor ritel masih akan terus tumbuh pada tahun depan seiring dengan meningkatnya pemahaman masyarakat terhadap produk-produk pasar modal.

(*)

***

Ingin berinvestasi aman di reksadana yang diawasi OJK?
- Daftar jadi nasabah, klik tautan ini
- Beli reksadana, klik tautan ini
- Pilih reksadana, klik tautan ini
- Belajar reksadana, klik untuk gabung di Komunitas Bareksa. GRATIS

​DISCLAIMER​
Semua data kinerja investasi yang tertera di dalam artikel ini adalah kinerja masa lalu dan tidak menjamin kinerja di masa mendatang. Investor wajib membaca dan memahami prospektus dan fund fact sheet dalam berinvestasi reksadana.