Tujuh Peristiwa Paling Mempengaruhi Pasar di Pekan Pertama November

Abdul Malik • 02 Nov 2020

an image
Warga melintas di samping layar yang menampilkan layar grafik informasi pergerakan harga saham di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Jumat (13/3/2020). (ANTARA FOTO/Galih Pradipta)

Pasar saham Indonesia berpeluang melakukan adjust terhadap pergerakan pasar luar negeri yang cenderung terkoreksi

Bareksa.com - Bursa Efek Indonesia menyatakan menjelang libur panjang pekan lalu atau pada periode perdagangan yang cukup singkat yakni 26-27 Oktober 2020, pasar modal Indonesia masih berada di zona positif. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat 0,31 persen atau pada level 5.128,225 dari 5.112,188 sepekan lalu. Senada, nilai kapitalisasi pasar bursa turut mengalami peningkatan 0,25 persen menjadi Rp5.958,186 triliun dibandingkan pekan sebelumnya Rp5.943,032 triliun.

"Rata-rata volume transaksi harian bursa juga meningkat 2,01 persen menjadi 12,406 miliar saham dibandingkan pekan sebelumnya 12,162 miliar saham. Sedangkan rata-rata nilai transaksi harian menurun 13,11 persen menjadi Rp7,838 triliun. Data rata-rata frekuensi transaksi harian turut melemah 0,55 persen menjadi 702.764 kali transaksi," ujar Bursa Efek Indonesia dalam keterangannya akhir pekan lalu.

Investor asing pada Selasa pekan lalu mencatatkan beli bersih (net buy) Rp108,24 miliar, sedangkan sepanjang tahun 2020 mencatatkan jual bersih sebesar Rp47,299 triliun.

Untuk periode sepekan ini, yang merupakan pekan pertama November 2020, pasar saham Indonesia setelah selesai dari libur panjang, berpeluang melakukan adjust terhadap pergerakan pasar luar negeri yang cenderung terkoreksi. Pelaku pasar menanti pengumuman pertumbuhan ekonomi kuartal ke III dan lanjutan laba perusahaan. Naiknya kasus Covid-19 menjadi tekanan bagi pasar saham dunia.

"IHSG berpeluang konsolidasi melemah di pekan ini dengan support di level 5.095 sampai 5.000 dan resistance di level 5.182 sampai 5.200," ujar Direktur Anugerah Mega Investama yang juga dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Trisakti, Hans Kwee dalam keterangannya dikutip (2/11/2020).

Menurut Hans setidaknya ada 7 peristiwa yang diprediksi paling mempengaruhi pasar sepanjang pekan ini. Yakni :

1. Peningkatan kasus Covid-19

Kenaikan kasus Covid-19 menjadi berita utama beberapa pekan terakhir. Hal itu telah mendorong Jerman dan Prancis mengumumkan pembatasan di sektor bisnis. Prancis mengharuskan warga tinggal di rumah mulai Jumat. Jerman akan menutup bar, restoran, dan teater mulai 2 November hingga akhir bulan. Pemerintah Inggris di bawah tekanan untuk memperketat pembatasan dengan kenaikan kasus selama sembilan hari terkahir. Kenaikan kasus Covid-19 yang diikuti langkah penguncian akan sangat menganggu pemulihan ekonomi dan berpotensi mendorong pasar keuangan terkoreksi. Terlihat pasar Amerika dan Eropa rata-rata tertekan turun dalam sepekan akibat berita ini.

2. Laporan Produk Domestik Bruto AS

Amerika Serikat melaporkan pertumbuhan ekonomi kuartal III 2020 naik secara tahunan 33,1 persen, pertumbuhan tercepat yang pernah ada sejak pemerintah Negeri Abang Sam itu mulai mencatatnya pada 1947. Kenaikan ini terjadi setelah penurunan 31,4 persen pada kuartal II 2020. Pertumbuhan ini juga lebih baik dari ekspektasi sejumlah ekonom yang disurvei Dow Jones, yakni 32 persen. Pemulihan ekonomi yang ditunjukan pertumbuhan PDB setelah penguncian akibat kasus Covid-19 dicabut lebih baik dari yang diperkirakan sebelumnya. Banyak negara mengalami kasus yang mirip di mana terjadi pemulihan ekonomi yang cepat setelah pembukaan lockdown akibat covid 19. Tetapi kebangkitan dan ancaman wave ke-2 Covid-19 menimbulkan kekhawatiran ekonomi kembali tertekan.

3. Pasar menanti hasil Pemilu AS pada 3 November 2020

Berdasarkan hasil survei Reuters saat ini kandidat presiden dari Partai Demokrat Joe Biden di atas Presiden Donald Trump secara nasional 10 persentase. Tetapi masih ada persaingan di sejumlah negara bagian yang diperkirakan akan menentukan hasil akhir siapa yang terpilih. Hal ini ditambah pengalaman empat tahun lalu di mana jajak pendapat serupa tidak memprediksi kemenangan Trump. Ada potensi pertarungan hukum antara Partai Republik dan Partai Demokrat tentang cara menghitung suara telah meningkatkan risiko perdebatan akan hasil Pemilu AS. Hal ini merupakan faktor negatif bagi pasar keuangan.

4. Moderna mempersiapkan peluncuran secara global vaksin virus Corona

Vaksin Moderna dikembangkan dengan bantuan National Institutes of Health. Moderna menjadi salah satu perusahaan pembuat vaksin covid 19 terdepan. Pekan lalu perusahaan telah menyelesaikan pendaftaran untuk uji coba tahap akhir yang melibatkan 30.000 peserta. Pada pekan lalu ada 25.650 peserta telah menerima dosis ke dua vaksin Covid-19. Perusahaan mengharapkan penilaian dari dewan pemantauan keamanan tentang hasil uji coba. Vaksin virus Corona baru perusahaan tersebut jika berhasil, maka dapat digunakan untuk keperluaan darurat pada Desember, jika mendapat hasil positif dari uji coba sementara pada November. Sampai akhir tahun vaksin yang ada hanya untuk keperluaan darurat sehingga masalah Covid-19 masih akan menjadi perhatian pelaku pasar.

5. ECB mempertahankan suku bunga

Bank Sentral Eropa (ECB) mengindikasikan akan memberikan kebijakan tambahan di zona euro pada Desember. Hal ini tidak lepas dari perkiraan gangguan ekonomi akibat langkah penguncian baru di sebagian Negara di benua Eropa. Nampaknya langkah ini mungkin sekali di ikuti oleh bank Sentral lain mengingat terjadi peningkatan kasus covid 19 di berbagai tempat.

6. Laporan keuangan kuartal III 2020

Data dari Refinitiv menunjukan sekitar 260 perusahaan dari dalam Indeks S&P 500 telah melaporkan kinerjanya pada kuartal ke tiga. Ada 85 persen  melaporkan kinerja yang lebih baik dari perkiraan. Hal yang sama juga akan terjadi di emiten BEI karena penerapan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) transisi mendorong ekonomi naik. Tetapi sebagian saham mulai terkoreksi lebih disebabkan aksi ambil untung dan ancaman wave ke-2 Covid-19 serta langkah yang diambil banyak negara dengan melakukan penguncian kembali.

7. Perundingan Brexit

Semakin mendekati deadline Brexit membuat perundingan Inggris dan Uni Eropa mendapat perhatian. Inggris diperkirakan akan mengecam baik Uni Eropa maupun USA atas praktik perdagangan yang "merusak" karena Inggris berupaya untuk mengamankan pengaturan perdagangan pasca Brexit dengan kedua sekutu utamanya.

"Sulitnya mendapatkan kesepakatan yang saling menguntungkan bagi kedua belah pihak akan membuat sentimen ini cenderung negatif bagi pasar keuangan," ujar Hans.

***

Ingin berinvestasi aman di reksadana yang diawasi OJK?

- Daftar jadi nasabah, klik tautan ini
- Beli reksadana, klik tautan ini
- Pilih reksadana, klik tautan ini
- Belajar reksadana, klik untuk gabung di Komunitas Bareksa. GRATIS

DISCLAIMER

Semua data return dan kinerja investasi yang tertera di dalam artikel ini tidak dapat digunakan sebagai jaminan dasar perhitungan untuk membeli atau menjual suatu efek. Data-data tersebut merupakan catatan kinerja berdasarkan data historis dan bukan merupakan jaminan atas kinerja suatu efek di masa mendatang. Investasi melalui reksadana mengandung risiko. Investor wajib membaca dan memahami prospektus sebelum memutuskan untuk berinvestasi melalui reksadana