
Bareksa - Harga emas dunia diperkirakan masih menghadapi tekanan dalam beberapa bulan ke depan. Analis TD Securities memperkirakan harga emas spot berpotensi turun ke bawah US$3.900 per troy ounce sebelum kembali menguat hingga mencapai US$5.300 per ons pada 2027.
Menurut TD Securities, pelemahan emas dalam jangka pendek dipicu kombinasi kebijakan moneter ketat Federal Reserve (The Fed), penguatan dolar Amerika Serikat (AS), dan risiko inflasi akibat kenaikan harga minyak. Meski demikian, koreksi tersebut dinilai hanya bersifat sementara dan justru menjadi peluang akumulasi bagi investor berorientasi jangka panjang.
Dilansir Kitco News (29/6), Kepala Riset Komoditas TD Securities Bart Melek mengatakan harga emas masih berpotensi membentuk titik terendah (bottom) sebelum kembali memasuki tren bullish.
Menurut Bart Melek, risiko terbesar bagi emas saat ini berasal dari potensi lonjakan harga minyak. Jika harga minyak Brent naik ke kisaran US$90-110 per barel, inflasi berpotensi kembali meningkat sehingga The Fed kemungkinan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama.
Suku bunga yang tinggi meningkatkan opportunity cost memegang emas karena logam mulia tidak memberikan imbal hasil seperti obligasi atau deposito. Akibatnya, sebagian investor cenderung mengalihkan dana ke aset berbunga sehingga menekan harga emas.
Saat laporan diterbitkan, harga emas spot berada di sekitar US$4.022 per ons, sedangkan harga minyak Brent diperdagangkan di atas US$73 per barel.
TD Securities juga menilai ketegangan geopolitik di Timur Tengah masih menjadi faktor yang perlu dicermati investor.
Gangguan distribusi energi melalui Selat Hormuz telah mengurangi pasokan minyak dunia. Bahkan jika jalur pelayaran kembali normal, dibutuhkan waktu untuk memulihkan persediaan sehingga harga energi berpotensi tetap tinggi dalam beberapa bulan ke depan.
Kondisi tersebut dapat memperkuat dolar AS sekaligus mempertahankan kebijakan moneter ketat The Fed, yang biasanya menjadi sentimen negatif bagi harga emas.
Meski prospek jangka pendek masih penuh tantangan, TD Securities tetap optimistis terhadap tren jangka panjang emas.
Bart Melek memperkirakan harga emas dapat mencapai US$5.300 per ons pada 2027, didukung meredanya tekanan inflasi, potensi pelonggaran kebijakan moneter The Fed, serta meningkatnya kebutuhan investor terhadap aset lindung nilai (safe haven).
Selain itu, utang pemerintah Amerika Serikat yang diperkirakan mendekati US$40 triliun dan defisit fiskal yang terus melebar dinilai dapat kembali meningkatkan permintaan emas sebagai aset penyimpan nilai.
Prospek jangka panjang emas juga didukung permintaan fisik yang masih solid.
Survei World Gold Council (WGC) menunjukkan 89% bank sentral memperkirakan cadangan emas global akan meningkat dalam 12 bulan ke depan. Bahkan 45% responden menyatakan institusinya berencana menambah cadangan emas.
Sementara itu, impor emas China pada Mei 2026 mencapai sekitar 163 ton, tertinggi dalam lebih dari dua tahun. Hal ini menunjukkan permintaan dari konsumen emas terbesar dunia tetap kuat meski harga sedang terkoreksi.
Bagi investor Indonesia, proyeksi harga emas dalam dolar AS tersebut dapat memberikan gambaran mengenai potensi pergerakan harga emas di dalam negeri. Dengan menggunakan asumsi harga emas spot US$3.966,69 per ons dan kurs Rp17.900,2 per dolar AS pada Selasa (30/6/2026), estimasi nilai teoritisnya adalah sebagai berikut:
Skenario | Harga Emas | Estimasi Harga Spot/gram* |
|---|---|---|
Harga spot saat ini | US$3.966,69/ons | Rp2,28 juta |
Target koreksi TD Securities | US$3.900/ons | Rp2,24 juta |
Target TD Securities 2027 | US$5.300/ons | Rp3,05 juta |
*Perhitungan menggunakan kurs Rp17.900,2 per dolar AS dan konversi 1 troy ounce = 31,1035 gram.
Namun, harga tersebut merupakan estimasi berdasarkan harga spot internasional sehingga belum memperhitungkan premi, spread, maupun biaya yang umumnya melekat pada harga emas fisik maupun emas digital di Indonesia.
Sebagai gambaran, saat harga spot dunia setara sekitar Rp2,28 juta per gram, harga emas digital Treasury di Bareksa berada di Rp2.356.628 per gram atau sekitar 3% lebih tinggi dari nilai teoritis tersebut. Selisih tersebut mencerminkan adanya premi dan mekanisme penetapan harga di pasar domestik.
Dengan asumsi premi berada di kisaran saat ini dan kurs rupiah tidak berubah signifikan, maka apabila target US$5.300 per ons dari TD Securities tercapai, harga emas yang diperdagangkan di Indonesia berpotensi berada di kisaran Rp3,1 juta-Rp3,2 juta per gram.
Sebaliknya, jika harga emas terkoreksi ke US$3.900 per ons, harga emas domestik diperkirakan masih dapat bertahan di kisaran Rp2,3 juta per gram, meski realisasinya tetap dipengaruhi pergerakan kurs rupiah dan kebijakan masing-masing penyedia emas.
Berdasarkan data Bareksa Emas pada 30 Juni 2026 pukul sekitar 10.42 WIB, harga beli emas digital tercatat sebagai berikut:
Mitra Pengelola | Harga Beli |
|---|---|
Treasury | Rp2.356.628/gram |
Indogold | Rp2.437.068/gram |
Pegadaian | Rp2.517.690/gram |
Perbedaan harga antar mitra merupakan hal yang wajar karena dipengaruhi kebijakan spread, premi, biaya operasional, dan mekanisme penetapan harga masing-masing penyedia. Karena itu, selain mencermati arah harga emas dunia, investor juga sebaiknya membandingkan harga beli dan harga jual di setiap platform sebelum bertransaksi.
Selain emas fisik, prospek saham-saham tambang emas juga dinilai masih menarik. Bank of America memperkirakan valuasi emiten tambang emas saat ini seolah mencerminkan harga emas hanya sekitar US$3.354 per ons, atau sekitar 19% di bawah harga spot, sehingga masih memiliki ruang apresiasi apabila harga emas kembali menguat.
Meski demikian, investor tetap perlu mencermati berbagai risiko seperti kebijakan pertambangan di Ghana, Guinea, Meksiko, Kolombia, hingga Afrika Selatan yang dapat memengaruhi produksi perusahaan tambang.
TD Securities memperkirakan harga emas masih berpotensi turun di bawah US$3.900 per ons sebelum kembali menguat.
Tekanan jangka pendek berasal dari tingginya harga minyak, inflasi, penguatan dolar AS, dan kebijakan suku bunga tinggi The Fed.
Dalam jangka panjang, harga emas diproyeksikan mencapai US$5.300 per ons pada 2027.
Dengan asumsi kurs saat ini, target tersebut setara sekitar Rp3,05 juta per gram, meski harga emas domestik dapat berbeda mengikuti pergerakan kurs dan kebijakan masing-masing penyedia.
Harga emas digital di Bareksa pada 30 Juni 2026 berada di kisaran Rp2,36 juta-Rp2,52 juta per gram, tergantung mitra pengelola.
Prospek harga emas dalam jangka pendek masih dibayangi tekanan akibat tingginya harga energi, inflasi, serta kebijakan moneter ketat The Fed. Koreksi menuju level US$3.900 per ons masih mungkin terjadi apabila tekanan inflasi kembali meningkat dan dolar AS tetap menguat.
Namun dalam jangka panjang, fundamental emas dinilai tetap solid. Permintaan yang kuat dari bank sentral dan China, besarnya utang pemerintah AS, serta peluang pelonggaran kebijakan moneter menjadi faktor yang dapat mendorong harga emas mencetak rekor baru. Bagi investor Indonesia, proyeksi tersebut dapat menjadi gambaran potensi arah harga emas domestik, meski realisasinya tetap dipengaruhi oleh pergerakan kurs rupiah dan mekanisme penetapan harga di pasar dalam negeri.
Bareksa merupakan pioneer aplikasi investasi emas yang praktis dan aman untuk membeli serta menyimpan emas secara digital. Kamu bisa memantau harga emas harian, melihat tren, dan menentukan waktu beli terbaik langsung dari aplikasi. Selain emas, Bareksa juga menyediakan reksa dana, SBN, dan saham, sehingga kamu bisa mengatur strategi investasi dalam satu super app berizin OJK sejak 2016.
(Rahmat Hidayat/AM)
Tentang Penulis
*Rahmat Hidayat adalah Investment Specialist Bareksa dengan pengalaman lebih dari 7 tahun di bidang investasi dan produk finansial digital. Ia aktif mengembangkan produk pasar modal dan memberikan edukasi keuangan kepada masyarakat, serta memegang lisensi WPPE.
***
DISCLAIMER
Fitur Bareksa Emas dikelola oleh PT Bareksa Inovasi Digital, bekerja sama dengan Mitra Emas berizin.
Karena kombinasi penguatan dolar AS, suku bunga tinggi The Fed, dan kenaikan harga minyak yang dapat meningkatkan inflasi.
TD Securities memproyeksikan harga emas dapat mencapai US$5.300 per ons pada 2027.
Dengan asumsi kurs sekitar Rp17.900 per dolar AS, target tersebut setara sekitar Rp3,05 juta per gram. Nilai tersebut merupakan ilustrasi berdasarkan kurs saat ini dan dapat berubah mengikuti pergerakan nilai tukar.
Karena dipengaruhi perubahan kurs, spread, premi, pajak, serta kebijakan penetapan harga masing-masing penyedia emas.
Per 30 Juni 2026, harga beli emas digital di Bareksa tercatat Treasury Rp2.356.628/gram, Indogold Rp2.437.068/gram, dan Pegadaian Rp2.517.690/gram.