Berita Hari Ini : Asing Bakal Banjiri SBN di 2021, Rilis Produk Reksadana Marak Tahun Depan

Abdul Malik • 16 Dec 2020

an image
Budi Hikmat, Director for Investment Strategy PT Bahana TCW Investment Management (tengah) bersama Soni Wibowo Direktur Riset & Kepala Investasi Alternatif Bahana TCW sedang diskusi perkembangan terkini pasar modal. (bahanatcw.com)

IHSG berpeluang kembali menguat, harga emas naik 1 persen, vaksin dongkrak harga minyak, tanda rupiah menguat, neraca dagang surplus

Bareksa.com - Berikut adalah perkembangan penting di isu ekonomi, pasar modal dan aksi korporasi, yang disarikan dari media dan laporan keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia, Rabu, 16 Desember 2020 :

SBN

Daya tarik obligasi negara disebut Associate Director Fixed Income Anugerah Sekuritas Indonesia, Ramdhan Ario Maruto masih sangat baik ditopang daya tahannya terhadap goncangan ekonomi di pasar. Dilansir CNBC Indonesia TV, saat ini investor institusi masih melirik Surat Berharga Negara (SBN) dalam berinvestasi karena menawarkan imbal hasil menarik di tengah tren suku bunga rendah.

Potensi investor asing untuk masuk ke pasar SBN masih cukup besar di tahun 2021 didorong yield yang menarik. Menurut Ramdhan, apalagi tren suku bunga rendah di perbankan, sehingga bunga deposito juga semakin rendah seiring penurunan BI 7 Day Reverse Repo Rate. Ke depan dia melihat potensi penurunan suku bunga deposito akan terbuka, apalagi saat ini masih ada peluang suku bunga BI turun.

"Sehingga instrumen seperti SBN menjadi favorit untuk industri keuangan, selain itu SBN Ritel cukup memberikan instrumen investasi kepada masyarakat, adapun dari sisi pemerintah juga sebanyak jumlah penerbitannya serta pasarnya semakin luas. Pendalaman pasarnya cukup baik," ungkapnya.

Ramdhan menyatakan di 2021 pasar SBN masih akan menarik, potensi investor masuk di SBN masih sangat terbuka didorong oleh yield yang masih menarik dibandingkan instrumen investasi lain. Selain itu investor asing juga masih punya ruang untuk masuk ke Indonesia. Saat ini porsi investor asing di SBN sekitar 38-40 persen, sehingga masih ada peluang 4-5 persen lagi porsi mereka masuk di SBN.

"Sebelumnya mereka meninggalkan kita, mereka akan masuk lagi hanya masalah timing. Karena itu perlu kita jaga kestabilan makro ekonomi kita, sehingga menarik bagi investor. Sebab mereka melihat dari sisi risko dan pergerakan yield di kita jika makro dan mikro bisa dikelola dengan baik, otomatis aliran dana asing masuk di kita akan cukup besar. Dengan begitu akan menekan yield kita," dia menjelaskan.

Reksadana

Kalangan manajer investasi bersikap optimistis dalam memasang target untuk 2021 mendatang, termasuk menyiapkan produk reksadana baru. Direktur Riset dan Kepala Investasi Alternatif Bahana TCW Investment Management Soni Wibowo menyatakan banyak katalis positif yang akan menyokong pemulihan pasar pada 2021 mendatang. Sejumlah katalis tersebut antara lain implementasi omnibus law UU Cipta Kerja, adanya pemerintahan baru di AS dengan Presiden Joe Biden, serta penyelesaian penanganan pandemi Covid-19 seiring kehadiran vaksin.

“Ini positif buat pasar, jadi banyak yang positifnya dibanding negatifnya,” tutur dia dilansir Bisnis.com (16/12/2020).

Seiring dengan optimisme terhadap pemulihan pasar, Soni mengatakan Bahana TCW menargetkan dana kelolaan atau asset under management (AUM) untuk akhir 2021 dapat tumbuh sekitar 15 persen dari posisi penutupan tahun ini. “Sebenernya sih belum ada target karena kan baru recover, tapi kemarin kan pembicaraan dengan manajemen Bahana Group kita ditargetkan naik sekitar 15 persen dari closing Desember ini,” tutur dia.

Menurut Soni, pertumbuhan AUM salah satunya akan disumbang dari peluncuran produk baru Bahana TCW. Namun, dia menyebut saat ini pihaknya belum memutuskan akan merilis jenis produk apa untuk tahun depan.

Dia mengatakan Bahana TCW mengutamakan prinsip customer driver alih-alih product driver dalam merilis produk baru. Karena itu Bahana TCW akan terlebih dahulu melihat iklim pasar dan membuat produk yang dibutuhkan nasabah. “Jadi kita nunggu dulu dari mereka [nasabah], sinyalnya pengen apa baru kita bikin. Baik alternatif kayak RDPT, KIK EBA, atau yang simpel kayak proteksi atau ETF, semua menunggu demand-nya,” tutur Soni.

IHSG

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terkoreksi 0,04 persen ke level 6010.13 pada Selasa (15/12). Untuk perdagangan hari ini, Rabu (16/12), analis memperkirakan IHSG akan berpeluang menguat. Dilansir Kontan, Analis Binaartha Sekuritas Muhammad Nafan Aji Gusta mengatakan, berdasarkan rasio fobonacci, support maupun resistance IHSG hari ini berada pada kisaran level 5.874,89 hingga 6.157,11.

Berdasarkan indikator, adapun MACD, Stochastic maupun RSI masih menunjukkan sinyal positif. Di sisi lain, terlihat pola upward bar yang mengindikasikan adanya potensi bullish continuation pada pergerakan IHSG sehingga berpeluang menuju ke resistance terdekat.

Head of Investment Research Infovesta Utama Wawan Hendrayana mengungkapkan menjelang berakhirnya tahun 2020, sebaiknya para investor kembali menyusun ulang susunan portofolionya. Dengan tren IHSG yang masih akan positif pada tahun depan, sektor-sektor saham yang bisa dijadikan pilihan untuk tahun depan di antaranya sektor perbankan masih akan jadi salah satu saham yang kinerjanya akan membaik pada tahun depan.

Hal ini dikarenakan sektor perbankan merupakan sektor penggerak IHSG. Selain itu, dengan asumsi ekonomi yang mulai produktif, saham perbankan akan ikut terangkat kinerjanya. “Sementara dari sektor pertambangan, emiten yang berfokus pada nikel akan berpeluang punya kinerja yang baik pada tahun depan. Jika melihat dari valuasi, sektor properti saat ini salah satu yang paling murah. Apalagi diharapkan seiring pemulihan ekonomi, properti yang bergerak pada industrial akan mencatatkan kinerja yang labih baik,” ungkap Wawan.

Harga Emas

Harga emas naik lebih dari 1 persen pada perdagangan Selasa, didukung oleh ekspektasi lebih banyak paket bantuan virus Corona di Amerika Serikat karena meningkatnya kasus Covid-19 memperbarui kekhawatiran atas korban ekonomi akibat pandemi.

Dikutip dari CNBC, Rabu (16/12/2020), harga emas di pasar spot emas naik 1,4 persen menjadi US$1,852,36 per ounce. Sementara harga emas berjangka AS ditutup naik 1,3 persen pada US$1,855.30. “Ada kemungkinan stimulus lolos dan itulah yang ditunggu-tunggu oleh pasar emas,” kata Jeffrey Sica, Pendiri Circle Squared Alternative Investments dilansir liputan6.com. “Kebanyakan orang telah menerima kenyataan bahwa vaksin akan menghentikan gelombang berikutnya, tetapi tidak banyak hubungannya dengan gelombang saat ini," lanjut dia.

Angka kematian akibat Covid-19 di AS yang mengejutkan memberi tekanan pada anggota parlemen untuk memberikan bantuan, meningkatkan optimisme sekitar US$1,4 triliun. Sementara itu harga emas, yang dianggap sebagai lindung nilai terhadap kemungkinan inflasi dan penurunan nilai mata uang, telah meningkat lebih dari 22 persen sepanjang tahun ini di tengah stimulus yang belum pernah terjadi sebelumnya yang dilepaskan secara global.Infeksi yang meningkat juga menyebabkan pembatasan yang lebih ketat diberlakukan di Belanda, Jerman, dan London. Dolar AS yang lemah semakin meningkatkan daya tarik untuk emas batangan dalam denominasi greenback.

Harga Minyak

Harga minyak naik pada perdagangan Selasa karena optimisme dari peluncuran vaksin virus corona covid-19 mengimbangi penguncian (lockdown) yang lebih ketat di Eropa dan perkiraan pemulihan permintaan bahan bakar yang lebih lambat. Amerika Serikat mulai memvaksinasi warganya pada Senin ketika jumlah kematian akibat Covid-19 di negara itu melewati angka 300.000. Inggris dan Kanada juga mulai melakukan vaksinasi.

Dikutip dari CNBC, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS ditutup naik 63 sen atau 1,34 persen menjadi US$47,62. Minyak mentah Brent naik 41 sen atau 0,8 persen menjadi US$50,7 per barel. Harga minyak telah pulih dalam beberapa minggu terakhir, di mana Brent mencapai level US$51,06 pada 10 Desember, tertinggi sejak Maret, didukung oleh harapan pemulihan permintaan BBM.

Harga telah turun ke posisi terendah dalam sejarah pada bulan Maret saat pandemi mulai terjadi. "Brent terus menentang semua berita negatif," kata Carsten Fritsch, Serang Analis di Commerzbank dilansir liputan6.com."Semakin banyak negara di Eropa dan negara bagian di AS yang memperketat pembatasan Corona selama Natal dan tahun baru, yang kemungkinan akan membebani permintaan minyak," kata dia.

Rupiah

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) tampaknya akan menguat di perdagangan pasar spot hari ini. Dilansir CNBC Indonesia, tanda-tanda apresiasi rupiah sudah terlihat di pasar Non-Deliverable Market (NDF).Berikut kurs dolar AS di pasar NDF beberapa saat setelah penutupan perdagangan pasar kemarin dibandingkan hari ini, Rabu (16/12/2020), mengutip data Refinitiv:

Periode

Kurs 15 Desember (15:00 WIB)

Kurs 16 Desember (07:11 WIB)

1 Pekan

Rp14.180

Rp 14.164,5

1 Bulan

Rp14.216

Rp 14.178

2 Bulan

Rp14.253

Rp 14.231, 5

3 Bulan

Rp14.289

Rp 14.284

6 Bulan

Rp14.412

Rp 14.390

9 Bulan

Rp 14.549

Rp 14.522,5

1 Tahun

Rp 14.693

Rp 14.663

2 Tahun

Rp 15.425

Rp 15.410

Sumber : CNBC Indonesia

Berikut kurs Domestic NDF (DNDF) yang kali terakhir diperbarui pada 15 Desember pukul 14:22 WIB:

Periode

Kurs

1 Bulan

Rp 14.158

3 Bulan

Rp 14.235

Sumber : CNBC Indonesia

NDF adalah instrumen yang memperdagangkan mata uang dalam jangka waktu tertentu dengan patokan kurs tertentu pula. Sebelumnya pasar NDF belum ada di Indonesia, hanya tersedia di pusat-pusat keuangan internasional seperti Singapura, Hong Kong, New York, atau London.

Pasar NDF seringkali mempengaruhi psikologis pembentukan harga di pasar spot. Oleh karena itu, kurs di NDF tidak jarang diikuti oleh pasar spot. Padahal NDF sebelumnya murni dimainkan oleh investor asing, yang mungkin kurang mendalami kondisi fundamental perekonomian Indonesia.

Vaksin Covid-19

Vaksin Corona impor senilai Rp191 miliar atau setara US$13,6 juta (Kurs Rp14.100) sudah masuk Indonesia selama November 2020. Vaksin ini berbeda dengan 1,2 juta dosis yang masuk pada awal Desember 2020. Vaksin impor yang masuk selama November 2020 ini masuk dalam kode HS: 300022090. "Selama November nilai impor vaksin yang tergolong HS: 300022090 tercatat US$13,6 juta," kata Kepala BPS Suhariyanto dalam video conference, Jakarta, Selasa (15/12/2020) dilansir Detik Finance.

Dia menjelaskan, 1,2 juta dosis vaksin yang masuk ke Tanah Air ini akan tercatat pada kinerja impor Desember 2020 yang akan diumumkan pada tanggal 15 Januari 2020 oleh otoritas statistik nasional.Suhariyanto mengaku sampai saat ini pihak BPS belum menerima laporan terkait dengan data impor Vaksin Corona yang berasal dari Sinovac tersebut.

"Transaksi impor vaksin minggu lalu pada 6 Desember 2020 belum tercakup dalam nilai impor yang baru selesai disampaikan, tapi tercakup dalam nilai impor data bulan Desember," ujarnya.

Neraca Dagang

Neraca perdagangan Indonesia kembali mencetak surplus pada bulan November 2020. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, surplus neraca dagang pada bulan laporan sebesar US$2,62 miliar._Kepala BPS Suhariyanto mengungkapkan, kalau surplus neraca perdagangan tersebut didorong oleh nilai ekspor yang lebih besar daripada nilai impor.

“Dan kenaikan berbagai harga komoditas, terutama komoditas andalan Indonesia ini memengaruhi nilai baik ekspor maupun impor,” ujar Suhariyanto, Selasa (15/12) dilansir Kontan.

Suhariyanto pun memerinci pergerakan harga komoditas pada bulan November 2020. Menurutnya, peningkatan nampak pada harga minyak mentah Indonesia di pasar global atau Indonesia Crude Price (ICP) pada bulan November 2020 yang sebesar US$40,67 per barel atau naik 6,83 persen MoM dari bulan Oktober 2020 yang sebesar US$38,07 per barel.

“Namun, bila dibandingkan dengan harga tahun November 2019, harga minyak mentah ini masih turun 35,7 persen YoY,” tambahnya. Selain itu, ada beberapa komoditas non minyak dan gas (non migas) yang mengalami peningkatan harga cukup besar, seperti minyak kelapa sawit yang naik 12,03 persen MoM, harga batubara yang naik 7,57 persen MoM. Ada juga peningkatan harga komoditas non migas lainnya seperti minyak kernel, seng, alumunium, karet, serta tembaga. Akan tetapi, ada juga harga komoditas non migas yang mengalami penurunan pada bulan November 2020. Seperti contohnya emas yang turun 1,79 persen MoM dan harga perak yang juga terkontraksi.

(*)​​