
Bareksa - Sucor Sekuritas dalam risetnya (13/7) merekomendasikan alokasi defensif namun tetap bertumbuh untuk menghadapi ketidakpastian pasar Indonesia: 30% obligasi global pemerintah Indonesia, 20% emas fisik, 30% saham berorientasi ekspor, serta 20% kas dan likuiditas.
Strategi ini ditujukan untuk menjaga kekayaan riil dan daya beli, bukan semata mengejar imbal hasil nominal. Pendekatannya memadukan pendapatan dolar AS, aset lindung nilai, eksposur pada emiten berpendapatan valuta asing, dan cadangan likuiditas.
Investor perlu memprioritaskan diversifikasi, ketahanan arus kas, serta kecukupan dana likuid. Alokasi tersebut adalah pandangan riset Sucor, bukan formula yang otomatis sesuai untuk seluruh investor.
Di tengah ketidakpastian ekonomi global, volatilitas pasar, dan tekanan terhadap nilai tukar, Sucor Sekuritas menyarankan investor mengubah fokus dari mengejar return semata menjadi menjaga daya beli (preserving purchasing power) melalui portofolio yang terdiversifikasi.
Alih-alih mengambil risiko berlebihan, Sucor menilai kombinasi obligasi global pemerintah Indonesia, emas fisik, saham berorientasi ekspor, dan kas menjadi strategi yang lebih optimal menghadapi kondisi pasar saat ini.
Sucor Sekuritas merekomendasikan komposisi aset sebagai berikut:
Aset | Porsi |
Obligasi Global RI (USD/EUR) | 30% |
Emas Fisik | 20% |
Saham Berorientasi Ekspor | 30% |
Kas & Likuiditas | 20% |
Sumber: riset Sucor Sekuritas
Strategi tersebut bertujuan menjaga nilai kekayaan riil sekaligus meningkatkan ketahanan portofolio menghadapi berbagai skenario pasar.
Sucor menilai obligasi global pemerintah Indonesia layak menjadi salah satu pilar portofolio setelah pemerintah berhasil menerbitkan obligasi global bertenor 5 tahun dan 10 tahun senilai sekitar US$2 miliar dan EUR1,25 miliar.
Permintaan investor mencapai hampir tiga kali nilai penawaran, mencerminkan kepercayaan terhadap fundamental Indonesia. Saat ini, obligasi global tenor 5 tahun menawarkan yield sekitar 4,98%, sehingga dinilai menarik bagi investor yang ingin memperoleh pendapatan sekaligus memiliki eksposur terhadap dolar AS.
Meski harga emas berpotensi menghadapi tekanan jangka pendek akibat kebijakan China terhadap investasi emas berbasis kertas, kenaikan margin CME, hingga prospek suku bunga The Fed yang masih tinggi, Sucor tetap mempertahankan rekomendasi alokasi 20% pada emas fisik.
Menurut Sucor, emas tetap efektif sebagai:
lindung nilai terhadap pelemahan mata uang;
proteksi inflasi;
pelindung dari risiko geopolitik; dan
diversifikasi dari aset finansial.
Selain alokasi aset, Sucor Sekuritas juga menyoroti lima saham dengan keyakinan (high conviction) tertinggi yang dinilai memiliki prospek pertumbuhan menarik di tengah ketidakpastian global. Kelima saham tersebut didominasi emiten komoditas, energi, dan material yang memperoleh manfaat dari pendapatan berbasis dolar AS maupun kenaikan permintaan logam.
Yang paling menarik adalah TPIA dengan target harga Rp6.200, mencerminkan potensi kenaikan sekitar 176% dari harga saat laporan diterbitkan. Di posisi berikutnya terdapat AMMN dengan target Rp9.000 atau upside sekitar 110%, disusul ANTM dengan target Rp5.500 atau potensi kenaikan hampir 80%.
Sementara itu, AADI dan BRMS juga tetap memperoleh rekomendasi Buy, masing-masing dengan target harga Rp12.600 dan Rp880, didukung valuasi yang dinilai menarik serta prospek pertumbuhan bisnis ke depan.
Saham | Harga Terakhir (Rp) | Target Harga (Rp) | Potensi Kenaikan | Rating | P/E 2026F | PBV 2026F | Alasan Utama |
TPIA | 2.250 | 6.200 | +175,6% | BUY | 14,5x | 1,9x | Prospek petrokimia membaik, pertumbuhan laba tinggi |
AMMN | 4.290 | 9.000 | +109,8% | BUY | 16,0x | 2,7x | Eksposur tembaga & emas, pertumbuhan laba kuat |
ANTM | 3.060 | 5.500 | +79,7% | BUY | 6,7x | 1,8x | Valuasi murah, diuntungkan permintaan logam |
AADI | 9.000 | 12.600 | +40,0% | BUY | 4,3x | 0,9x | Arus kas kuat, dividen tinggi, bisnis batu bara |
BRMS | 620 | 880 | +41,9% | BUY | 47,1x | 3,6x | Produksi emas meningkat dan ekspansi tambang |
Sumber: riset Sucor Sekuritas
Selain itu, target IHSG 12 bulan dipatok di 8.029, dibanding level indeks saat laporan disusun di sekitar 6.372, yang mengindikasikan potensi kenaikan sekitar 26% berdasarkan pendekatan bottom-up.
Sucor juga menyarankan investor mempertahankan 20% kas atau aset likuid.
Menurut analis, volatilitas pasar dapat memicu aksi jual berlebihan sehingga menciptakan peluang membeli saham berkualitas pada valuasi yang lebih menarik. Dengan memiliki kas yang cukup, investor memiliki fleksibilitas untuk memanfaatkan momentum tersebut.
Strategi Sucor Sekuritas menunjukkan bahwa kondisi pasar saat ini lebih menuntut manajemen risiko dibanding mengejar return tinggi.
Bagi investor Indonesia, diversifikasi dapat dilakukan melalui kombinasi:
reksa dana pendapatan tetap atau obligasi;
investasi emas;
reksa dana saham yang memiliki eksposur ke sektor komoditas dan ekspor; serta
dana likuid untuk mengantisipasi peluang investasi ketika pasar terkoreksi.
Sucor Sekuritas mengingatkan bahwa tujuan utama investasi saat ini bukan hanya menghasilkan keuntungan nominal, tetapi menjaga nilai kekayaan dari inflasi, pelemahan mata uang, dan ketidakpastian global. Portofolio yang terdiversifikasi dinilai menjadi strategi yang lebih tangguh menghadapi dinamika pasar sepanjang 2026.
Bareksa adalah pioneer aplikasi investasi saham yang dirancang untuk membantu investor mengambil keputusan lebih percaya diri. Dilengkapi data market, riset, dan analisis fundamental, kamu bisa memantau saham dan membandingkan kinerja emiten secara praktis. Dalam satu aplikasi, Bareksa juga menyediakan reksa dana, SBN, dan emas untuk strategi investasi yang lebih lengkap.
***
DISCLAIMER
Investasi saham mengandung risiko dan seluruhnya menjadi tanggung jawab pribadi. Bareksa membuat informasi ini dari materi dan sumber-sumber terpercaya, serta tidak dipengaruhi pihak manapun. Informasi ini bukan merupakan ajakan, ataupun paksaan untuk melakukan transaksi dan Bareksa tidak memberikan jaminan atas transaksi yang dilakukan.
Karena emas tetap efektif sebagai aset lindung nilai terhadap inflasi, depresiasi mata uang, dan risiko geopolitik.
Pendapatan berbasis valuta asing dapat membantu menjaga kinerja saat rupiah melemah.
Pendapatan berbasis valuta asing dapat membantu menjaga kinerja saat rupiah melemah.
Agar memiliki fleksibilitas membeli aset berkualitas ketika terjadi koreksi pasar.
Sucor memproyeksikan IHSG berpotensi mencapai sekitar 8.029 dalam 12 bulan.