Dua Strategi Maksimalkan Keuntungan Investasi di Reksadana Pendapatan Tetap

Abdul Malik • 23 Nov 2020

an image
Ilustrasi investasi di reksadana pendapatan tetap. (Shutterstock)

Berdasarkan data per 20 November 2020, Sucorinvest Bond Fund merupakan reksadana pendapatan tetap return tertinggi YtD

Bareksa.com - Perfoma positif pasar obligasi Indonesia berlanjut di pekan lalu. Dalam 1 bulan terakhir, indeks reksadana pendapatan tetap di Bareksa telah naik 1,4 persen. Reksadana pendapatan tetap adalah suatu portofolio investasi yang berisi surat utang (obligasi) dan produk pasar uang. Portofolio reksadana pendapatan tetap harus terdiri dari surat utang minimal 80 persen dari portofolionya dan sisanya adalah produk pasar uang.

Sejumlah strategi dapat dilakukan untuk memaksimalkan keuntungan dari investasi reksadana pendapatan tetap. Salah satu yang bisa dilakukan adalah dengan aktif memantau pergerakan harga obligasi dan tren suku bunga. Dengan begitu, maka kita bisa memperkirakan kapan nilai reksadana pendapatan tetap akan naik apa turun.

Top 5 Return Reksadana Pendapatan Tetap Year to Date

Sumber : Bareksa.com

Berdasarkan data per 20 November 2020 tersebut, reksadana Sucorinvest Bond Fund merupakan reksadana pendapatan tetap dengan return tertinggi year to date, yang dapat dibeli di Bareksa.

Strategi Memaksimalkan Keuntungan Reksadana Pendapatan tetap

Berdasarkan Fund Fact Sheet per Oktober 2020, alokasi aset terbesar Sucorinvest Bond Fund berada pada obligasi pemerintah dengan seri FR0072, FR0075,FR0080, FR0083, FR0087.

Apa yang bisa dipelajari dari strategi investasi pada penempatan aset Sucorinvest Bond Fund ?

1. Tingkat Suku Bunga

Obligasi memiliki sensitivitas yang tinggi terhadap naik turunnya suku bunga sehingga pengetahuan dan kemampuan memprediksi tingkat suku bunga akan sangat bermanfaat untuk mengoptimalkan kinerja reksadana pendapatan tetap. Pada prinsipnya, harga obligasi akan turun bila suku bunga naik, dan sebaliknya jika suku bunga turun maka harga obligasi akan naik.

Seperti diketahui, tingkat suku bunga di tahun ini telah turun 125bps menjadi 3,75 persen, salah satunya disebabkan oleh data inflasi yang kurang dari 2 persen di tahun 2020. Dengan begitu, ketika inflasi rendah dan terkendali serta tingkat suku bunga turun, maka harga obligasi pun naik, begitupun sebaliknya.

Karena hubungan yang erat ini, maka investor reksadana pendapatan tetap harus jeli memperkirakan tingkat suku bunga untuk membantunya mengambil keputusan atas investasinya.

2. Durasi dan Jatuh Tempo

Secara teori, durasi menyatakan sensitivitas obligasi terhadap tingkat bunga. Jika terjadi perubahan (kenaikan atau penurunan) tingkat bunga yang berlaku, berapa perubahan harga dari obligasi tersebut.

Untuk merespons pergerakan suku bunga dan inflasi, biasanya manajer investasi akan mengambil sejumlah langkah strategis. Dalam hal ini, alokasi aset terbesar Sucorinvest Bond Fund berada pada obligasi pemerintah dengan seri FR0072, FR0075,FR0080, FR0083, FR0087 yang merupakan seri obligasi dengan jatuh tempo lebih dari 10 tahun.

Pada kondisi suku bunga dan inflasi yang turun, maka manajer investasi akan menempatkan dana pada obligasi yang memiliki masa jatuh tempo panjang, karena obligasi yang memiliki jatuh tempo lebih panjang akan mengalami perubahan harga yang lebih besar sehingga dapat memaksimalkan keuntungan.

Nah, dengan memperhatikan dua hal tersebut, kita bisa memaksimalkan investasi di reksadana pendapatan tetap. Namun, perlu diingat juga investasi sebaiknya disesuaikan dengan tujuan dan profil risiko kita.

(KA02/AM)

***

Ingin berinvestasi aman di reksadana yang diawasi OJK?
- Daftar jadi nasabah, klik tautan ini
- Beli reksadana, klik tautan ini
- Pilih reksadana, klik tautan ini
- Belajar reksadana, klik untuk gabung di Komunitas Bareksa. GRATIS

DISCLAIMER
Semua data kinerja investasi yang tertera di dalam artikel ini adalah kinerja masa lalu dan tidak menjamin kinerja di masa mendatang. Investor wajib membaca dan memahami prospektus dan fund fact sheet dalam berinvestasi reksadana.