Bareksa Insight : Defisit APBN RI Lebih Rendah dari Proyeksi, Topang Cuan Reksadana Ini

Abdul Malik • 25 Nov 2022

an image
Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menyampaikan pandangan pemerintah pada Rapat Paripurna di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Jumat (18/5). (ANTARA FOTO)

Defisit APBN pada Oktober 2022 karena untuk pembayaran subsidi bahan bakar minyak

Bareksa.com - Kementerian Keuangan (24/11/2022) mengumumkan defisit Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) pada Oktober 2022 sekitar 0,91% dari produk domestik bruto (PDB), atau lebih rendah dibandingkan batas tertinggi pemerintah sekitar 4,5%. Defisit itu karena untuk pembayaran subsidi bahan bakar minyak (BBM). 

Menurut Tim Analis Bareksa, nilai defisit yang lebih rendah dari dari proyeksi tersebut bisa jadi sentimen cukup baik untuk pasar saham, serta mayoritas reksadana berbasis saham.

Sementara itu, pasca rilis risalah hasil rapat Bank Sentral Amerika Serikat (AS) Federal Reserve yang mengindikasikan perlambatan kenaikan suku bunga acuan, pasar obligasi dalam negeri menyambut positif kabar tersebut dengan penguatan yield (imbal hasil) acuan Obligasi Negara kembali menyentuh level 6,99%. 

Mayoritas reksadana pendapatan berbasis Surat Berharga Negara (SBN) mencatatkan penguatan tertinggi. Terutama dalam sebulan terakhir, terdapat beberapa produk reksadana jenis ini di Bareksa yang mencetak kenaikan kinerja hingga 3%. Hal ini juga karena didukung aksi beli investor asing di SBN sekitar Rp9,3 triliun selama tanggal 1-22 November 2022 ini. 

Pasat Saham Tanah Air yang tercermin dari Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada 24 November 2022 naik 0,37% ke level 7.080,52. Berdasarkan data id.investing.com (diakses 24/11/2022  pukul 17.00 WIB) benchmark obligasi pemerintah tercatat turun ke level 7%.

Apa yang bisa dilakukan Smart Investor?

Mempertimbangkan defisit APBN RI yang lebih rendah dari proyeksi, Tim Analis Bareksa, menyarankan agar Smart Investor bisa menerapkan 2 jurus cuan ini agar kinerja investasinya maksimal

1. Smart Investor bisa mencermati reksadana saham dan reksadana indeks berbasis sektor energi, perbankan, konsumen primer dan ritel, yang diproyeksikan bergerak menguat di akhir kuartal keempat ini, seiring dengan perbaikan ekonomi dalam negeri.

2. Tim Analis Bareksa memperkirakan yield acuan Obligasi Negara akan bergerak di level 6,97-7,05% pada perdagangan hari ini. Smart Investor bisa mempertimbangkan reksadana pendapatan tetap berbasis obligasi korporasi, hingga yield acuan SBN mengalami koreksi kembali, setelah naik signifikan selama November.

Beberapa produk reksadana pendapatan tetap, reksadana pasar uang, reksadana saham dan reksadana indeks yang bisa dipertimbangkan Smart Investor dengan profil risiko moderat, konservatif dan agresif ialah sebagai berikut : 

Imbal Hasil 3 Tahun (per 24 November 2022)

Reksadana Pendapatan Tetap

Manulife Obligasi Negara Indonesia II Kelas A : 17,17%
TRIM Dana Tetap 2 : 16,14%

Reksadana Pasar Uang

Sucorinvest Sharia Money Market Fund : 16,55%
Syailendra Dana Kas : 14,71%

Imbal Hasil Sepanjang Tahun Berjalan (YTD per 24 November 2022)

Reksadana Indeks

Allianz SRI KEHATI Index Fund : 17,35%
BNP Paribas IDX Growth30 : 12,51%

Reksadana Saham

Schroder Dana Prestasi Plus : 14,87%
Batavia Dana Saham Optimal : 8,64%

Baca juga : Bareksa Insight : Ekonomi AS di Kuartal III Membaik, Ini Dampak ke IHSG, SBN dan Reksadana

Untuk diketahui, reksadana adalah wadah untuk menghimpun dana dari masyarakat pemodal (investor). Dana yang telah terkumpul tersebut nantinya akan diinvestasikan oleh manajer investasi ke dalam beberapa instrumen investasi seperti saham, obligasi, atau deposito.

Reksadana juga diartikan sebagai salah satu alternatif investasi bagi masyarakat pemodal, khususnya pemodal kecil dan pemodal yang tidak memiliki banyak waktu dan keahlian untuk menghitung risiko atas investasi mereka. 

Lihat juga : Bareksa Insight : Suku Bunga BI Bisa Naik Jadi 4,5%, Ini Jurus Cuan Buat Investor Reksadana

Investasi Sekarang

(Sigma Kinasih/Ariyanto Dipo Sucahyo/AM)

***

Ingin berinvestasi aman di emas dan reksadana secara online yang diawasi OJK?

- Daftar jadi nasabah, klik tautan ini
- Beli reksadana, klik tautan ini
- Beli emas, klik tautan ini
- Download aplikasi reksadana Bareksa di App Store​
- Download aplikasi reksadana Bareksa di Google Playstore
- Belajar reksadana, klik untuk gabung Komunitas Bareksa di Facebook. GRATIS

DISCLAIMER

Kinerja masa lalu tidak mencerminkan kinerja di masa mendatang. Investasi reksadana mengandung risiko. Investor wajib membaca dan memahami prospektus dan fund fact sheet dalam berinvestasi reksadana.