Bareksa Insight: Pasar Merah, Kinerja Reksadana Pendapatan Tetap Masih Stabil

Abdul Malik • 21 Oct 2026

an image
Ilustrasi kinerja Reksa Dana pendapatan tetap relatif stabil di tengah gejolak pasar saham domestik akibat pengumuman MSCI. (Shutterstock)

IHSG masih turun 38,95% sepanjang 2026 meski rebound kemarin. Kinerja reksa dana pendapatan tetap relatif stabil. Simak pilihan reksadana pendapatan tetap, reksadana pasar uang, SBR015, emas, dan Crypto RWA.

Bareksa – Ancaman perubahan status pasar Indonesia oleh MSCI masih membayangi pergerakan saham domestik. Meski Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) rebound 5,65% ke 5.278,89 pada Selasa (20/10/2026), indeks masih turun 38,95% sejak awal tahun. Investor asing juga mencatat jual bersih Rp2,19 triliun pada perdagangan tersebut.

Di tengah tekanan pasar, reksadana pendapatan tetap (RDPT) menunjukkan kinerja yang relatif lebih stabil. Berdasarkan data Bareksa, Indeks Reksa Dana Pendapatan Tetap turun 1,66% dalam setahun terakhir, jauh lebih kecil dibandingkan penurunan IHSG 34,74% pada periode yang sama.

Sejumlah reksa dana pendapatan tetap, seperti Syailendra Sharia Fixed Income dan Trimegah Dana Obligasi Nusantara, mulai kembali stabil setelah terkoreksi di awal pekan. Investor juga dapat mencermati reksadana pasar uang untuk kebutuhan likuiditas, SBN Ritel SBR015 yang masa penawarannya berakhir 22 Oktober, serta emas dan aset global melalui Crypto RWA sebagai pilihan diversifikasi sesuai profil risiko. Produk Crypto RWA memiliki risiko tinggi dan berbeda dari reksadana.

Ringkasan Penting untuk Investor

  • Yang terjadi: Indeks RDPT hanya turun 1,66% dalam setahun terakhir, jauh lebih stabil dari IHSG yang ambles 34,74% pada periode sama, meski IHSG rebound 5,65% ke 5.278,89 kemarin.

  • Penyebab utama: rebound ditopang aksi beli saham murah dan respons BEI atas MSCI, tetapi dana asing belum berbalik; MSCI belum memutuskan.

  • Yang perlu dicermati: keputusan BI Rate hari ini, mayoritas ekonom proyeksi naik dari 5,75%, penutupan SBR015 pada 22 Oktober, rapat The Fed (bank sentral AS) 27-28 Oktober dengan peluang kenaikan bunga 16,1% menurut CME FedWatch, dan keputusan final MSCI paling lambat 30 Juni 2027.

  • Yang dapat dipertimbangkan: reksadana pasar uang dan pendapatan tetap untuk likuiditas dan stabilitas, SBR015 (penawaran sampai 22 Oktober), crypto RWA bagi yang bertoleransi risiko tinggi, dan emas untuk diversifikasi, sesuai profil risiko.

Ringkasan Data Pasar

Indikator
Data terakhir
Perubahan

IHSG (20/10)

5.278,89

Naik 5,65% harian; turun 10,92% sepekan

Jual bersih asing (20/10)

Rp2,19 triliun

Rp7,26 triliun sejak 16/10; Rp92,11 triliun sejak awal 2026

Rupiah (USD/IDR)

Rp17.968

Menguat 0,45% harian; melemah 0,43% sepekan

Emas dunia

4.118,05 dolar AS per ons

Turun 0,35% harian; turun 0,96% sepekan

Minyak Brent

109,16 dolar AS per barel

Turun 0,64% dari 16/10; naik 3,28% sepekan

Imbal hasil SBN 10 tahun

7,169%

Tidak berubah harian dan sepekan

Imbal hasil obligasi AS 10 tahun

5,133%

Turun dari 5,217% (13/10)

Peluang The Fed naikkan bunga (28/10)

16,1%

18,8% (19/10); 22,1% (13/10); 57,6% (18/9)

Sumber: Investing.com, FT.com, BEI, CME FedWatch, diolah. 

Sinyal Pasar Terkuat: Rebound IHSG Belum Didukung Dana Asing

IHSG naik 5,65%, gerak terbesar di antara aset lain: rupiah menguat 0,45%, emas turun 0,35%, Brent turun 0,64% dari 16/10. Namun, pada 20/10 asing jual Rp12,62 triliun dan beli Rp10,43 triliun; investor domestik menyerapnya dengan beli bersih Rp2,19 triliun (BEI).

MSCI mengumumkan kajian pada 15/10 dan pasar bereaksi pada 16/10. Sejak itu, dalam tiga hari bursa, asing jual bersih Rp7,26 triliun, jauh di atas Rp0,99 triliun pada lima hari sebelumnya (7-13/10).

Tanggal
Net asing (miliar rupiah)

16/10

jual bersih 3.344

19/10

jual bersih 1.719

20/10

jual bersih 2.193

Total

jual bersih 7.256

Sumber: Statistik Harian BEI.

Hari Ini Keputusan BI Rate

Rapat Dewan Gubernur BI berlangsung 20-21 Oktober dan hasilnya diumumkan hari ini. Mayoritas ekonom memproyeksikan naik. Kupon SBR015 mengambang dengan batas minimal dan mengikuti BI Rate, sehingga dapat naik jika BI Rate naik.

Pergerakan IHSG, Rupiah, Emas, Imbal Hasil SBN, Imbal Hasil Obligasi AS & Brent Sebulan

Sumber: Investing.com, FT.com.

Apa Artinya bagi Investor?

SBN Ritel SBR015

SBR015 dapat dicermati investor yang menginginkan kupon dengan batas minimal. Masa penawaran 28 September-22 Oktober 2026; kupon SBR tertinggi sejak 2020.

Seri
Tenor
Kupon minimal per tahun

SBR015T2

2 tahun

6,75%

SBR015T4

4 tahun

6,85%

Sumber: DJPPR Kemenkeu

Reksadana Pasar Uang

Berinvestasi di instrumen jangka pendek yang relatif mudah dicairkan, sehingga dapat dicermati untuk dana jangka pendek.

Reksadana
Return 1 tahun​

Setiabudi Dana Pasar Uang

5,25%

Avrist Ada Kas Mutiara

4,8%

Sumber: Bareksa, kinerja per 20/10/2026

Reksadana Pendapatan Tetap

Dapat dicermati bertahap; nilainya naik-turun mengikuti imbal hasil obligasi.

Reksadana
Return 1 tahun

Syailendra Sharia Fixed Income A

5,73%

Trimegah Dana Obligasi Nusantara

5,49%

Danamas Stabil
5,17%
Insight Renewable Energy Fund
4,54%

Sumber: Bareksa, kinerja per 20/10/2026

Crypto RWA

Kini hadir di Bareksa, aset kripto dan token saham AS untuk diversifikasi ke aset global di tengah tekanan pasar domestik. Alternatif diversifikasi investasi di luar reksadana, namun volatilitas tinggi, sesuaikan dengan profil risiko. 

Aset Crypto RWA
Return 3 Bulan

Bitcoin (BTC)

+26,78%

SpaceX Tokenized (SPCXX)

+42,80%

Apple Tokenized (AAPLX)

+4,32%

Sumber: Bareksa, kinerja per 21/10/2026 07:56

Emas

Emas dunia turun 0,35% ke 4.118,05 dolar AS per ons pada 20/10. Membeli sedikit demi sedikit secara rutin (dollar cost averaging/DCA) dapat dicermati investor jangka panjang.

Platform
Harga beli per gram

Treasury

Rp2.427.780

Pegadaian

Rp2.440.000

Indogold

Rp2.406.624

Sumber: fitur Bareksa Emas, per 21/10/2026 pagi.

Faktor Risiko

  • Keputusan MSCI: jika Indonesia menjadi standalone market, dana asing dapat keluar dari saham Indonesia; keputusan final paling lambat 30 Juni 2027.

  • Arus dana asing: jual bersih yang berlanjut dapat menahan IHSG dan menekan rupiah.

  • Bunga: kenaikan BI Rate dapat menekan harga obligasi; imbal hasil obligasi AS 5,133%, Brent 109,16 dolar AS per barel, dan peluang kenaikan bunga The Fed Oktober 16,1% (CME FedWatch) dapat menjaga bunga tinggi lebih lama.

Kesimpulan

Rebound sehari IHSG belum menghapus penurunan sepekan, asing masih jual bersih, dan BI Rate diumumkan hari ini, sehingga pasar dapat tetap bergejolak. SBR015 dan reksadana pasar uang dapat dicermati untuk likuiditas, lalu reksadana pendapatan tetap, Crypto RWA dan emas bertahap, sesuai profil risiko.

Investasi di Aplikasi SBN Ritel Terbaik - Bareksa

Bareksa adalah pioneer aplikasi investasi SBN resmi yang memudahkan pembelian obligasi negara seperti ORI, SR, ST, dan SBR. Kamu dapat membandingkan imbal hasil, memahami risiko, dan mengikuti jadwal penerbitan dengan jelas. Cocok untuk investor yang mencari investasi aman dengan dukungan negara, semuanya tersedia dalam satu aplikasi investasi terpercaya.

Investasi SBR015 di Sini

(Sigma Kinasih CTA, CFP/Ni Putu Kurniasari/AM)

Tentang Penulis

* Sigma Kinasih adalah Investment Strategist Bareksa dengan pengalaman lebih dari 12 tahun di industri pasar modal. Memegang lisensi WMI, WPPE, CTA, dan CFP, ia berfokus pada riset makroekonomi, strategi portofolio, serta analisis reksadana, saham, emas dan SBN. Sigma meraih gelar Magister Ekonomi dari Universitas Trisakti.

D​ISCLAIMER​​​​​​​​​

Investasi mengandung risiko dan seluruhnya menjadi tanggung jawab pribadi. Bareksa membuat informasi ini dari materi dan sumber-sumber terpercaya, serta tidak dipengaruhi pihak manapun. Informasi ini bukan merupakan ajakan, ataupun paksaan untuk melakukan transaksi dan Bareksa tidak memberikan jaminan atas transaksi yang dilakukan.

Investasi melalui reksa dana mengandung risiko. Calon pemodal wajib membaca dan memahami prospektus sebelum memutuskan untuk berinvestasi melalui reksa dana. Kinerja masa lalu tidak mencerminkan kinerja masa datang.

Pertanyaan Umum

Apa itu MSCI dan standalone market?

MSCI adalah penyedia indeks acuan dana global. Standalone market berarti bursa keluar dari kelompok pasar berkembang, sehingga dana pengikut indeks dapat mengurangi saham Indonesia. Keputusan belum final.

Apa kaitan BI Rate dengan SBR015?

Kupon SBR015 mengikuti BI Rate dengan batas minimal 6,75% (T2) dan 6,85% (T4), sehingga dapat naik jika BI Rate naik.

Profil Penulis

Abdul Malik

Abdul Malik adalah Managing Editor Bareksa dengan pengalaman lebih dari 20 tahun di jurnalisme pasar modal. Memegang lisensi WMI dan WPPE, ia fokus pada analisis pasar modal, saham, reksadana, SBN, emas dan edukasi keuangan, serta merupakan peraih beberapa fellowship internasional.