Bareksa Insight: Risalah The Fed Buka Peluang Bunga Naik Lagi, Cek SBR015, Reksadana & Emas

Abdul Malik • 08 Oct 2026

an image
Ilustrasi keputusan Bank Sentral Amerika Serikat (AS) The Federal Reserve (The Fed) untuk menaikkan, menahan atau menurunkan suku bunga acuan, jadi sentimen utama yang mempengaruhi pasar modal global, termasuk harga minyak, IHSG, SBN, reksadana dan emas. (Shutterstock)

Emas dunia turun 1,25% usai risalah rapat The Fed, sementara IHSG turun 0,75% pada Rabu (7/10). Ini data, sinyal pasar, dan produk investasi yang dapat dicermati.

Bareksa - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup turun 0,75% ke 6.146,72 pada Rabu (7/10/2026), mengakhiri kenaikan tiga hari beruntun, dan masih turun 7,14% sebulan. Emas dunia turun 1,25% ke US$4.114,08 per ons setelah risalah rapat The Fed dirilis.

Ringkasan Penting untuk Investor

  • Yang terjadi: IHSG turun 0,75% ke 6.146,72, emas dunia turun 1,25% ke US$4.114,08, imbal hasil obligasi AS 10 tahun naik ke 5,284%, dan rupiah relatif datar di Rp17.873. Reksadana campuran turun tipis dan investor asing jual bersih Rp871 miliar.

  • Penyebab utama: risalah rapat The Fed menunjukkan mayoritas pejabat The Fed melihat kenaikan bunga lagi mungkin terjadi hingga akhir tahun, dan emas turun setelah risalah dirilis. IHSG sudah turun lebih dulu pada jam perdagangan Asia, sehingga pelemahannya lebih terkait saham seperti WIFI, BRPT, GOTO, dan EMTK, bukan risalah.

  • Yang perlu dicermati: rapat The Fed 28 Oktober (peluang naik bunga 19,4% menurut CME per 7/10 pagi waktu AS, sebelum risalah rilis), pemilu sela AS 3 November, dan keputusan MSCI soal status pasar Indonesia pada November. FTSE Russell sudah mempertahankan status pasar berkembang Indonesia.

  • Yang dapat dipertimbangkan: SBR015 (sampai 22 Oktober), reksadana pasar uang, reksadana pendapatan tetap bertahap, reksadana campuran dicicil untuk jangka panjang, dan emas, sesuai profil risiko.

Ringkasan Data Pasar

Indikator

Data per 7 Okt 2026

Perubahan

IHSG

6.146,72

Turun 0,75% harian; naik 1,24% sepekan; turun 7,14% sejak 7/9

Rupiah (USD/IDR)

Rp17.873

Melemah 0,04% harian; datar sepekan; melemah 1,35% sejak 7/9

Emas dunia

US$4.114,08 per ons

Turun 1,25% harian; turun 1,04% sepekan; turun 6,61% sejak 7/9

Minyak Brent (patokan harga minyak dunia)

US$101,20 per barel

Naik 0,62% harian; turun 2,25% sepekan; naik 4,33% sejak 7/9

Imbal hasil SBN 10 tahun (obligasi pemerintah RI)

7,168%

Naik tipis dari 7,167% sehari sebelumnya; naik dari 7,106% sepekan lalu; naik dari 7,088% pada 7/9

Imbal hasil obligasi AS 10 tahun

5,284%

Naik dari 5,271% sehari sebelumnya; turun dari 5,293% sepekan lalu; naik dari 4,804% pada 8/9

Peluang The Fed naikkan bunga (28 Okt)

19,4% (ditahan 80,6%)

Turun dari 19,9% sehari sebelumnya dan 37,6% sepekan lalu; data sebelum risalah rilis

Sumber: Investing, Financial Times, CME FedWatch, diolah Bareksa

Sinyal Pasar Terkuat: Peluang Suku AS Bunga Naik Lagi

Dilansir Kitco News, emas turun 1,25% ke US$4.114,08 setelah risalah rapat The Fed (bank sentral AS) 15-16 September dirilis (7/10 waktu AS). Risalah menunjukkan kenaikan bunga September disetujui bulat, dan mayoritas pejabat melihat kenaikan lagi mungkin terjadi hingga akhir tahun karena risiko inflasi condong naik. Bunga tinggi membuat imbal hasil (yield, keuntungan pemegang obligasi) obligasi AS lebih menarik, sehingga emas yang tidak memberi bunga cenderung tertekan.

IHSG turun lebih dulu pada jam perdagangan Asia, sebelum risalah dirilis. Penurunan 0,75% itu terlihat dari 390 saham turun berbanding 280 naik, dengan asing jual bersih Rp871 miliar. Dampak risalah pada pasar saham Indonesia baru dapat terlihat mulai perdagangan 8/10.

Peluang kenaikan suku bunga pada rapat 28 Oktober versi CME masih 19,4%, turun dari 37,6% sepekan lalu, tetapi data itu tercatat sebelum risalah rilis. Reksadana campuran ikut turun tipis (-0,08% dan -0,34%) dan masih turun dalam sebulan (-0,91% dan -2,35%).

Grafik Pergerakan IHSG, USD/IDR, Emas, Yield SBN 10 Tahun, Yield US Treasury & Brent

Apa Artinya bagi Investor?

Di tengah gejolak pasar akibat suku bunga AS yang berpeluang kembali naik, apa yang harus dilakukan investor? 

SBN Ritel SBR015

Surat Berharga Negara (SBN) Ritel jenis Savings Bond Ritel (SBR) seri SBR015 bisa dipertimbangkan investor untuk mengamankan dananya di tengah gejolak pasar. Masa penawaran 28 September-22 Oktober 2026; SBR015 maenawarkan kupon (bunga) tertinggi untuk seri SBR sejak 2020.

Seri
Tenor
Kupon minimal per tahun

SBR015T2

2 tahun

6,75%

SBR015T4

4 tahun

6,85%

Sumber: DJPPR Kemenkeu

Reksadana Pasar Uang

Reksadana pasar uang berinvestasi di instrumen jangka pendek yang relatif mudah dicairkan, sehingga dapat dicermati untuk dana jangka pendek dan andalan jaga likuiditas.

​Reksadana​
Return 1 tahun

Setiabudi Dana Pasar Uang

5,23%

Avrist Ada Kas Mutiara

4,81%

Sumber: Bareksa, kinerja per 7/10/2026

Reksadana Pendapatan Tetap

Reksadana ini dapat dicermati untuk masuk bertahap dengan tujuan jangka menengah. Nilainya dapat naik-turun mengikuti imbal hasil obligasi.

Reksadana
Return 1 tahun

Syailendra Sharia Fixed Income A

6,3%

Trimegah Dana Obligasi Nusantara

5,93%

Sumber: Bareksa, per 7/10/2026

Reksadana Campuran

Reksadana campuran berisi saham, obligasi, dan pasar uang sehingga lebih fluktuatif. Dapat dicermati dengan dicicil bertahap untuk tujuan investasi 3 tahun ke atas.

Reksadana
Return 1 tahun

Syailendra Balanced Opportunity

9,72%

Danapathi Balance Fund

15,82%

Sumber: Bareksa, per 7/10/2026. Kinerja masa lalu tidak mencerminkan kinerja masa datang.

Emas

Emas dunia ditutup di US$4.114,08 per ons (7/10). Membeli sedikit demi sedikit secara rutin (dollar cost averaging) dapat dicermati untuk investor jangka panjang.

Dalam survei tahunan konferensi London Bullion Market Association (LBMA), peserta memperkirakan harga emas rata-rata sekitar US$5.013 per ons dalam 12 bulan ke depan, naik sekitar 20% dari level saat survei dirilis (Kitco News, 7/10). 

Ini adalah perkiraan peserta konferensi, bukan jaminan, dan perkiraan tahun lalu (US$4.980) meleset dari realisasi. Peserta juga mengingatkan volatilitas masih akan berlanjut karena suku bunga dan imbal hasil obligasi yang tinggi.

Harga Emas Digital di Bareksa

Platform
Harga beli per gram

Treasury

Rp2.411.780

Pegadaian

Rp2.445.000

Indogold

Rp2.402.496

Sumber: Bareksa Emas, 8/10/2026 pagi.

Kesimpulan

Emas turun 1,25% setelah risalah The Fed membuka peluang kenaikan bunga lagi, dan reksadana campuran belum menunjukkan pemulihan. Produk yang dapat dicermati sesuai profil risiko: SBR015, reksadana pasar uang, pendapatan tetap, campuran (dicicil), dan emas.

Faktor Risiko Utama

  • Bunga AS bisa naik lagi. Risalah menunjukkan kenaikan lagi mungkin terjadi hingga akhir tahun, sehingga rupiah, saham, dan emas dapat kembali tertekan.

  • Reksadana campuran dan pendapatan tetap bisa naik-turun. Nilai reksadana campuran mengikuti saham dan obligasi; nilai reksadana pendapatan tetap turun saat imbal hasil obligasi naik.

  • Ketidakpastian masih tinggi. Harga minyak sekitar US$101, serta pemilu sela AS dan keputusan MSCI pada November, dapat menambah ketidakpastian.

Investasi di Aplikasi SBN Ritel Terbaik - Bareksa

Bareksa adalah pioneer aplikasi investasi SBN resmi yang memudahkan pembelian obligasi negara seperti ORI, SR, ST, dan SBR. Kamu dapat membandingkan imbal hasil, memahami risiko, dan mengikuti jadwal penerbitan dengan jelas. Cocok untuk investor yang mencari investasi aman dengan dukungan negara, semuanya tersedia dalam satu aplikasi investasi terpercaya.

Investasi SBR015 di Sini

(Sigma Kinasih CTA, CFP/Ni Putu Kurniasari/AM)

Tentang Penulis

* Sigma Kinasih adalah Investment Strategist Bareksa dengan pengalaman lebih dari 12 tahun di industri pasar modal. Memegang lisensi WMI, WPPE, CTA, dan CFP, ia berfokus pada riset makroekonomi, strategi portofolio, serta analisis reksadana, saham, emas dan SBN. Sigma meraih gelar Magister Ekonomi dari Universitas Trisakti.

D​ISCLAIMER​​​​​​​​​

Investasi mengandung risiko dan seluruhnya menjadi tanggung jawab pribadi. Bareksa membuat informasi ini dari materi dan sumber-sumber terpercaya, serta tidak dipengaruhi pihak manapun. Informasi ini bukan merupakan ajakan, ataupun paksaan untuk melakukan transaksi dan Bareksa tidak memberikan jaminan atas transaksi yang dilakukan.

Investasi melalui reksa dana mengandung risiko. Calon pemodal wajib membaca dan memahami prospektus sebelum memutuskan untuk berinvestasi melalui reksa dana. Kinerja masa lalu tidak mencerminkan kinerja masa datang.

Pertanyaan Umum

Apa itu risalah rapat The Fed dan kenapa bisa memengaruhi emas?

Risalah adalah catatan diskusi rapat The Fed (bank sentral AS) yang dirilis beberapa pekan setelah rapat. Jika pejabatnya melihat bunga masih bisa naik, imbal hasil obligasi AS cenderung naik. Emas yang tidak memberi bunga bisa jadi kurang menarik, sehingga harganya tertekan.

Apakah emas pasti naik ke US$5.000 seperti survei LBMA?

Tidak. Angka itu rata-rata perkiraan peserta konferensi, bukan jaminan, dan perkiraan tahun lalu meleset. Harga emas tetap bisa naik-turun, jadi pembelian bertahap lebih sesuai untuk jangka panjang.

Apakah reksadana campuran cocok saat IHSG turun?

Nilainya mengikuti saham dan obligasi, jadi bisa naik-turun cukup tajam. Jika dipilih, sebaiknya dicicil untuk tujuan 3 tahun ke atas dan sesuai profil risiko.

Profil Penulis

Abdul Malik

Abdul Malik adalah Managing Editor Bareksa dengan pengalaman lebih dari 20 tahun di jurnalisme pasar modal. Memegang lisensi WMI dan WPPE, ia fokus pada analisis pasar modal, saham, reksadana, SBN, emas dan edukasi keuangan, serta merupakan peraih beberapa fellowship internasional.