Bareksa Insight: Peluang The Fed Naikkan Suku Bunga Mengecil, Cermati SBR015, Reksadana & Emas

Abdul Malik • 07 Oct 2026

an image
Ilustrasi kenaikan dan pemangkasan suku bunga AS, Fed Rate sangat berpengaruh ke pasar modal global, termasuk IHSG. (Shutterstock)

IHSG naik 1,21% pada Selasa (6/10) saat peluang kenaikan bunga The Fed turun ke 20,5%. Ini data, penyebab, dan produk investasi yang dapat dicermati.

Bareksa - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup naik 1,21% ke 6.192,93 pada Selasa (6/10/2026), tiga hari beruntun, tetapi masih turun 6,45% sejak 7 September. Kenaikan terjadi saat peluang The Fed (bank sentral AS) menaikkan bunga pada rapat 28 Oktober turun ke 20,5% dari 50,9% pekan lalu (CME FedWatch).

Ringkasan Penting untuk Investor

  • Yang terjadi: IHSG naik 1,21% ke 6.192,93, rupiah menguat 0,15% ke Rp17.865, emas dunia naik 0,78% ke US$4.166,81, dan imbal hasil obligasi AS 10 tahun turun ke 5,278%. Reksadana campuran Syailendra Balanced Opportunity naik 1,52% dan Danapathi Balance Fund naik 1,32% dalam sehari, tetapi investor asing masih jual bersih Rp629,87 miliar.

  • Penyebab utama: imbal hasil obligasi AS yang naik sejak September menekan saham dan emas, karena obligasi AS menjadi lebih menarik. Pekan ini tekanan mereda: data tenaga kerja AS yang lemah (2/10) menurunkan peluang kenaikan bunga The Fed.

  • Yang perlu dicermati: catatan rapat The Fed (7/10 waktu AS), rapat The Fed 28 Oktober, pemilu sela AS (pemilihan anggota parlemen) 3 November, dan keputusan MSCI soal status pasar Indonesia pada November. FTSE sudah mempertahankan status pasar berkembang Indonesia (7/10). Minyak Brent US$101,00 per barel; ketegangan AS-Iran dan Selat Hormuz masih jadi ketidakpastian.

  • Yang dapat dipertimbangkan: SBR015 (sampai 22 Oktober), reksadana pasar uang, reksadana pendapatan tetap bertahap, reksadana campuran dicicil untuk jangka panjang, dan emas, sesuai profil risiko.

Ringkasan Data Pasar

Indikator
Data per 6 Okt 2026
Perubahan

IHSG

6.192,93

Naik 1,21% harian; naik 1,16% sepekan; turun 6,45% sejak 7/9

Rupiah (USD/IDR)

Rp17.865

Menguat 0,15% harian; menguat 0,55% sepekan; melemah 1,31% sejak 7/9

Emas dunia

US$4.166,81 per ons

Naik 0,78% harian; turun 0,38% sepekan; turun 5,41% sejak 7/9

Minyak Brent (patokan harga minyak dunia)

US$101,00 per barel

Naik 0,68% harian; turun 1,55% sepekan; naik 4,12% sejak 7/9

Imbal hasil SBN 10 tahun (obligasi pemerintah RI)

7,167%

Datar harian; turun dari 7,219% sepekan lalu; naik dari 7,088% pada 7/9

Imbal hasil obligasi AS 10 tahun

5,278%

Turun dari 5,311% sehari sebelumnya; naik dari 5,255% sepekan lalu; naik dari 4,804% pada 8/9

Peluang The Fed naikkan bunga (28 Okt)

20,5% (ditahan 79,5%)

Turun dari 22,1% (5/10) dan 50,9% (29/9)

Sumber: Investing, Financial Times, CME FedWatch, diolah Bareksa

Sinyal Pasar Terkuat: Peluang Kenaikan Bunga The Fed Mengecil

Dalam sebulan, sinyal terkuat adalah naiknya imbal hasil (yield, keuntungan pemegang obligasi) obligasi AS 10 tahun, dari 4,804% (8/9) ke 5,278% (6/10). Imbal hasil tinggi membuat obligasi AS lebih menarik, sehingga dana dapat keluar dari saham dan emas.

Dalam sepekan muncul tanda pemulihan: peluang kenaikan bunga The Fed turun setelah hanya 29 ribu pekerjaan baru tercipta di AS pada September (Kitco News). Namun sebagian besar penurunan itu terjadi sebelum Selasa (22,1% pada 5/10), dan emas masih turun 0,38% sepekan.

Pada Selasa, IHSG juga ditopang saham GOTO, AMMN, dan BYAN, tetapi asing masih jual bersih (menjual saham lebih banyak daripada membeli). Reksadana campuran ikut naik sehari, namun keduanya masih turun dalam sebulan (-0,47% dan -1,90%), sehingga pemulihan baru tahap awal.

Grafik Pergerakan IHSG, USD/IDR, Emas Spot, Brent, Yield SBN 10 Tahun & Yield US Treasury

Apa Artinya bagi Investor?

SBN Ritel SBR015

SBR015 dapat dicermati selama masa penawaran 28 September-22 Oktober 2026. Kupon mengambang dengan batas bawah, tertinggi untuk SBR sejak 2020.

Seri
Tenor
Kupon minimal per tahun

SBR015T2

2 tahun

6,75%

SBR015T4

4 tahun

6,85%

Sumber: DJPPR Kemenkeu

Reksadana Pasar Uang

Reksadana pasar uang berinvestasi di instrumen jangka pendek yang relatif mudah dicairkan, sehingga dapat dicermati untuk dana jangka pendek.

Reksadana
Return 1 tahun​

Avrist Ada Kas Mutiara

4,81%

Setiabudi Dana Pasar Uang

5,23%

Sumber: Bareksa, kinerja per 6/10/2026

Reksadana Pendapatan Tetap

Reksadana pendapatan tetap dapat dicermati untuk masuk bertahap dengan tujuan jangka menengah. Nilainya dapat naik-turun mengikuti imbal hasil obligasi.

Reksadana
Return 1 tahun

Syailendra Sharia Fixed Income A

6,3%

Trimegah Dana Obligasi Nusantara

5,97%

Sumber: Bareksa, per 6/10/2026. Kinerja masa lalu tidak mencerminkan kinerja masa datang.

Reksadana Campuran

Reksadana campuran berisi saham, obligasi, dan pasar uang sehingga lebih fluktuatif. Dapat dicermati dengan dicicil untuk tujuan 3 tahun ke atas.

Reksadana
Return 1 hari
Return 1 tahun

Syailendra Balanced Opportunity

1,52%

10,97%

Danapathi Balance Fund

1,32%

17,82%

Sumber: Bareksa, per 6/10/2026.

Emas

Emas dunia ditutup di US$4.166,81 per ons (6/10). Membeli sedikit demi sedikit secara rutin (dollar cost averaging) dapat dicermati untuk jangka panjang.

Platform
Harga beli per gram

Treasury

Rp2.423.855

Pegadaian

Rp2.440.000

Indogold

Rp2.395.788

Sumber: Bareksa Emas, 7/10/2026 pagi.

Kesimpulan

Kenaikan IHSG dan sinyal awal di reksadana campuran belum menghapus tekanan dari imbal hasil obligasi AS yang masih tinggi dan jual bersih asing. Produk dapat dicermati sesuai profil risiko dan jangka waktu investasi: SBR015, pasar uang, pendapatan tetap, campuran (dicicil), dan emas.

Faktor Risiko

  • Bunga AS bisa naik lagi. Peluang kenaikan Desember masih tinggi (Kitco), sehingga rupiah, saham, dan emas dapat kembali tertekan.

  • Reksadana campuran dan pendapatan tetap bisa naik-turun. Nilai campuran mengikuti saham dan obligasi; nilai pendapatan tetap turun saat imbal hasil obligasi naik.

  • Kenaikan tiga hari belum tentu tren. Harga minyak sekitar US$101, serta pemilu sela AS dan keputusan MSCI pada November, dapat menambah ketidakpastian.

Investasi di Aplikasi SBN Ritel Terbaik - Bareksa

Bareksa adalah pioneer aplikasi investasi SBN resmi yang memudahkan pembelian obligasi negara seperti ORI, SR, ST, dan SBR. Kamu dapat membandingkan imbal hasil, memahami risiko, dan mengikuti jadwal penerbitan dengan jelas. Cocok untuk investor yang mencari investasi aman dengan dukungan negara, semuanya tersedia dalam satu aplikasi investasi terpercaya.

Investasi SBR015 di Sini

(Sigma Kinasih CTA, CFP/Ni Putu Kurniasari/AM)

Tentang Penulis

* Sigma Kinasih adalah Investment Strategist Bareksa dengan pengalaman lebih dari 12 tahun di industri pasar modal. Memegang lisensi WMI, WPPE, CTA, dan CFP, ia berfokus pada riset makroekonomi, strategi portofolio, serta analisis reksadana, saham, emas dan SBN. Sigma meraih gelar Magister Ekonomi dari Universitas Trisakti.

D​ISCLAIMER​​​​​​​​​

Investasi mengandung risiko dan seluruhnya menjadi tanggung jawab pribadi. Bareksa membuat informasi ini dari materi dan sumber-sumber terpercaya, serta tidak dipengaruhi pihak manapun. Informasi ini bukan merupakan ajakan, ataupun paksaan untuk melakukan transaksi dan Bareksa tidak memberikan jaminan atas transaksi yang dilakukan.

Investasi melalui reksa dana mengandung risiko. Calon pemodal wajib membaca dan memahami prospektus sebelum memutuskan untuk berinvestasi melalui reksa dana. Kinerja masa lalu tidak mencerminkan kinerja masa datang.

Pertanyaan Umum

Apa itu reksadana campuran?

Reksadana yang berinvestasi di saham, obligasi, dan pasar uang sekaligus. Risikonya di antara pasar uang dan saham.

Apakah reksadana dijamin?

Tidak. Reksadana bukan produk bank dan tidak dijamin LPS. Kinerja masa lalu tidak mencerminkan kinerja masa datang.

Profil Penulis

Abdul Malik

Abdul Malik adalah Managing Editor Bareksa dengan pengalaman lebih dari 20 tahun di jurnalisme pasar modal. Memegang lisensi WPPE, ia fokus pada analisis pasar modal, saham, reksadana, SBN, emas dan edukasi keuangan, serta merupakan peraih beberapa fellowship internasional.