Bareksa Insight: Imbal Hasil Obligasi AS Tembus 5,3%, Cermati SBR015, Reksadana & Emas

Abdul Malik • 06 Oct 2026

an image
Ilustrasi pasar obligasi AS yang terkoreksi dan berdampak pada pasar obligasi Indonesia yang digambarkan dengan grafik obligasi dan dolar AS. (Shutterstock)

IHSG naik 1,36% pada Senin (5/10), tetapi imbal hasil obligasi AS 10 tahun mencapai 5,3%. Ini data, penyebab, dan produk investasi yang dapat dicermati.

Bareksa - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup naik 1,36% ke 6.118,86 pada Senin (5/10/2026), tetapi masih turun 7,57% sejak 7 September. Imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun naik ke 5,304% dari 4,804% pada 8 September. Menurut Kitco News, level itu tertinggi sejak April 2002. Rupiah melemah 0,15% ke Rp17.900 per dolar AS, sedangkan emas dunia turun 0,08% ke US$4.139,53 per ons.

Ringkasan Penting untuk Investor

  • Yang terjadi: IHSG naik 1,36% ke 6.118,86 pada 5/10, tetapi masih turun 7,57% sejak 7 September. Rupiah melemah ke Rp17.900 per dolar AS, emas dunia turun ke sekitar US$4.139 per ons, dan imbal hasil obligasi AS 10 tahun naik ke 5,30%.

  • Penyebab utama: imbal hasil (keuntungan pemegang obligasi) AS yang tinggi membuat obligasi AS lebih menarik, sehingga dapat menekan saham dan emas. Harga minyak Brent sekitar US$100 per barel dan ketegangan AS-Iran juga masih dapat menambah tekanan.

  • Yang perlu dicermati: notulen rapat The Fed (7/10), rapat The Fed 28 Oktober, dan pemilu sela AS 3 November. Peluang The Fed menaikkan bunga 28 Oktober adalah 22,7% menurut CME FedWatch.

  • Yang dapat dipertimbangkan: SBR015 selama masa penawaran, reksadana pasar uang untuk dana jangka pendek, reksadana pendapatan tetap secara bertahap, dan emas untuk penyebaran investasi, sesuai profil risiko.

Ringkasan Data Pasar

Indikator

Per 5 Okt 2026

Perubahan

IHSG

6.118,86

Naik 1,36% harian; turun 0,47% sepekan; turun 7,57% sejak 7/9

Rupiah (USD/IDR)

Rp17.900

Melemah 0,15% harian; menguat 0,39% sepekan; melemah 1,50% sejak 7/9

Emas dunia

US$4.139,53 per ons

Turun 0,08% harian; naik 0,59% sepekan; turun 6,03% sejak 7/9

Minyak Brent

US$100,22 per barel

Turun 1,99% harian; turun 4,81% sepekan; naik 3,32% sejak 7/9

Imbal hasil SBN 10 tahun

7,167%

Naik dari 7,159% sehari sebelumnya; turun dari 7,196% sepekan lalu; naik dari 7,088% pada 7/9

Imbal hasil obligasi AS 10 tahun

5,304%

Naik dari 5,277% sehari sebelumnya, 5,242% sepekan lalu, dan 4,804% pada 8/9

Peluang The Fed menaikkan bunga (rapat 28 Okt)

22,7% (bunga ditahan 77,3%)

Pekan lalu sekitar 70% menurut Kitco; data pembanding CME tidak terbaca hari ini

Sumber: Investing, Financial Times, Kitco News, diolah Bareksa

Sinyal Pasar Terkuat: Imbal Hasil Obligasi AS Tertinggi sejak 2002

Imbal hasil (yield) adalah keuntungan yang diperoleh pemegang obligasi. Saat imbal hasil obligasi AS naik, obligasi AS menjadi lebih menarik dibanding aset lain, sehingga dapat menekan saham dan emas. Sinyal ini terkuat karena selama sebulan imbal hasil AS naik sekitar 0,5 poin persentase, sementara IHSG turun 7,57%, emas turun 6,03%, dan rupiah melemah 1,50%. Arah geraknya searah, dan angkanya paling besar.

Dalam sepekan, imbal hasil obligasi AS naik dari 5,242% ke 5,304%, tetapi rupiah menguat 0,39%, emas naik 0,59%, dan IHSG turun 0,47%. Pada Senin, saham ikut rebound karena harga minyak turun dan Wall Street naik: S&P 500 naik 0,7% dan Nasdaq naik 1,1%. Indeks dolar AS juga mendekati penutupan tertinggi sejak April 2025 (Kitco).

Peluang The Fed menaikkan bunga pada rapat 28 Oktober 2026 adalah 22,7%, sedangkan peluang bunga ditahan 77,3% (CME FedWatch). Peluang itu turun dari sekitar 70% pekan lalu setelah data tenaga kerja AS lemah (29 ribu pekerjaan baru pada September). Namun, indeks harga di sektor jasa AS naik ke 74,0, tertinggi sejak Juli 2022, sehingga risiko kenaikan bunga belum hilang. Notulen rapat The Fed akan terbit Rabu (7/10).

Di dalam negeri, investor asing mencatat jual bersih (net sell) Rp1,27 triliun pada Jumat (2/10) dan Rp205 miliar pada sesi I Senin. Artinya, asing menjual saham lebih banyak daripada membeli. Imbal hasil SBN 10 tahun relatif stabil di 7,167%. Pekan ini, data cadangan devisa (7/10), keyakinan konsumen (8/10), dan penjualan ritel (9/10) menjadi sorotan.

Grafik Pergerakan Pasar Sejak 7 September 2026

Apa Artinya bagi Investor?

Di tengah melonjaknya imbal hasil obligasi pemerintah AS dan gejolak pasar yang belum mereda saat ini, apa yang harus dilakukan investor? 

SBN Ritel SBR015

Surat Berharga Negara (SBN) Ritel jenis Savings Bond Ritel (SBR) seri SBR015 bisa dipertimbangkan investor untuk mengamankan dananya. Masa penawaran 28 September-22 Oktober 2026; SBR015 maenawarkan kupon (bunga) tertinggi sejak 2020.

Seri

Tenor

Kupon minimal per tahun

SBR015T2

2 tahun

6,75%

SBR015T4

4 tahun

6,85%

Sumber: DJPPR Kemenkeu

Reksadana Pasar Uang

Berinvestasi pada instrumen jangka pendek dan relatif mudah dicairkan seperti reksadana pasar uang juga bisa dicermati untuk dana jangka pendek.

Reksadana

Return 1 tahun

Avrist Ada Kas Mutiara

4,84%

Syailendra Dana Kas

4,66%

BRI Seruni Likuid Dolar

3,14%

Sucorinvest Money Market USD

3,68%

Sumber: Bareksa, kinerja per 5/10/2026

Reksadana Pendapatan Tetap

Reksadana pendapatan tetap bisa dicermati investor untuk masuk bertahap dengan tujuan investasi jangka menengah. Karena berinvestasi terutama di obligasi, sehingga nilai aktiva bersih (NAB) reksadana pendapatan tetap dapat naik-turun mengikuti imbal hasil obligasi.

Reksadana

Return 1 tahun

Syailendra Sharia Fixed Income A

6,33%

Trimegah Dana Obligasi Nusantara

6,06%

Recapital Pendapatan Tetap Dana Gemilang

4,81%

Insight Renewable Energy Fund

4,63%

Avrist Emerald Stable Fund

3,56%

Sumber: Bareksa, per 5/10/2026. Kinerja masa lalu tidak mencerminkan kinerja masa datang. 

Emas

Harga emas dunia ditutup di US$4.139,53 per ons pada 5/10, turun 0,08% dari hari sebelumnya. Membeli sedikit demi sedikit secara rutin (dollar cost averaging) dapat dicermati untuk investasi jangka panjang.

Harga Beli Emas Digital Bareksa 

Platform

Harga beli per gram

Treasury

Rp2.424.730

Pegadaian

Rp2.442.000

Indogold

Rp2.412.300

Sumber: Bareksa Emas, 6/10/2026 pagi. 

Faktor Risiko

  • Imbal hasil dan dolar AS tinggi. Dana dapat berpindah ke aset AS, sehingga rupiah, saham, dan emas berpotensi tertekan.

  • Harga minyak sekitar US$100. Ketegangan AS-Iran dan Selat Hormuz dapat mengerek biaya hidup (inflasi) dan memengaruhi arah bunga.

  • Nilai reksadana pendapatan tetap bisa naik-turun. Saat imbal hasil naik, harga obligasi cenderung turun.

  • Pergerakan satu hari belum tentu tren. Rebound Senin belum menghapus penurunan sebulan.

  • Pemilu sela AS pada 3 November 2026 dapat menambah ketidakpastian arah bunga dan dolar AS. 

Kesimpulan

IHSG rebound 1,36% pada Senin, tetapi masih turun 7,57% sejak 7 September. Imbal hasil obligasi AS yang tinggi dapat menekan saham dan emas, sementara rupiah melemah dan imbal hasil SBN relatif stabil. Investor dapat mencermati SBR015 selama masa penawaran, reksadana pasar uang untuk dana jangka pendek, reksadana pendapatan tetap secara bertahap, dan emas untuk penyebaran investasi, sesuai profil risiko.

Investasi di Aplikasi SBN Ritel Terbaik - Bareksa

Bareksa adalah pioneer aplikasi investasi SBN resmi yang memudahkan pembelian obligasi negara seperti ORI, SR, ST, dan SBR. Kamu dapat membandingkan imbal hasil, memahami risiko, dan mengikuti jadwal penerbitan dengan jelas. Cocok untuk investor yang mencari investasi aman dengan dukungan negara, semuanya tersedia dalam satu aplikasi investasi terpercaya.

Investasi SBR015 di Sini

(Sigma Kinasih CTA, CFP/Ni Putu Kurniasari/AM)

Tentang Penulis

* Sigma Kinasih adalah Investment Strategist Bareksa dengan pengalaman lebih dari 12 tahun di industri pasar modal. Memegang lisensi WMI, WPPE, CTA, dan CFP, ia berfokus pada riset makroekonomi, strategi portofolio, serta analisis reksadana, saham, emas dan SBN. Sigma meraih gelar Magister Ekonomi dari Universitas Trisakti.

D​ISCLAIMER​​​​​​​​​

Investasi mengandung risiko dan seluruhnya menjadi tanggung jawab pribadi. Bareksa membuat informasi ini dari materi dan sumber-sumber terpercaya, serta tidak dipengaruhi pihak manapun. Informasi ini bukan merupakan ajakan, ataupun paksaan untuk melakukan transaksi dan Bareksa tidak memberikan jaminan atas transaksi yang dilakukan.

Investasi melalui reksa dana mengandung risiko. Calon pemodal wajib membaca dan memahami prospektus sebelum memutuskan untuk berinvestasi melalui reksa dana. Kinerja masa lalu tidak mencerminkan kinerja masa datang.

Pertanyaan Umum

Apa arti asing jual bersih (net sell)?

Investor asing menjual saham lebih banyak daripada yang dibeli pada periode tertentu.

Apa itu imbal hasil (yield) obligasi?

Keuntungan yang diperoleh pemegang obligasi. Saat imbal hasil naik, harga obligasi biasanya turun.

Mengapa imbal hasil obligasi AS memengaruhi emas dan saham?

Obligasi AS yang imbal hasilnya tinggi menjadi pilihan menarik. Emas tidak memberi bunga, sehingga dapat tertekan.

Apakah reksadana dijamin?

Tidak. Reksadana bukan produk bank dan tidak dijamin LPS. Kinerja masa lalu tidak mencerminkan kinerja masa datang.

Profil Penulis

Abdul Malik

Abdul Malik adalah Managing Editor Bareksa dengan pengalaman lebih dari 20 tahun di jurnalisme pasar modal. Memegang lisensi WPPE, ia fokus pada analisis pasar modal, saham, reksadana, SBN, emas dan edukasi keuangan, serta merupakan peraih beberapa fellowship internasional.