
Bareksa - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup di 6.036,89 pada Jumat (2/10/2026). Indeks naik 0,46% hari itu, tetapi turun 3,28% sepanjang pekan. Penyebabnya investor asing mencatat jual bersih (net sell) Rp4,32 triliun sepekan. Rupiah menguat 0,4% ke Rp17.873 per dolar AS, sedangkan emas dunia turun 0,86% ke US$4.142,96 per ons.
Pantau imbal hasil obligasi AS dan rapat The Fed 28 Oktober. Imbal hasil obligasi AS yang tinggi menjadi penekan utama saham dan emas. Peluang kenaikan suku bunga The Fed memang turun ke 22,1%, tetapi data ekonomi AS berikutnya masih dapat mengubah arah pasar.
Perhatikan batas waktu SBR015. Masa penawaran berakhir 22 Oktober 2026. Pokok dan kupon dijamin negara, dan kupon tidak akan turun di bawah batas minimal. SBR015 tidak dapat diperjualbelikan di pasar sekunder, jadi pastikan dananya tidak dibutuhkan sebelum jatuh tempo.
Bedakan karakter tiap reksadana. Return reksadana pasar uang berdenominasi dolar AS tidak dapat dibandingkan langsung dengan produk rupiah karena dipengaruhi kurs. Nilai reksadana pendapatan tetap dapat turun dalam jangka pendek saat imbal hasil obligasi naik, sehingga lebih cocok untuk tujuan jangka menengah dengan pembelian bertahap.
Bandingkan harga emas antarpenyedia. Harga beli per gram berbeda hingga Rp31.440 antarpenyedia. Pembelian rutin (dollar cost averaging) membantu mengurangi risiko membeli di harga puncak.
Sesuaikan dengan profil risiko dan tujuan. Seluruh data mencerminkan posisi per 2 dan 5 Oktober 2026 dan dapat berubah cepat. Informasi ini bersifat edukasi, bukan ajakan membeli atau menjual produk tertentu.
Indikator | Posisi 2 Okt 2026 | Perubahan |
|---|---|---|
IHSG | 6.036,89 | Naik 0,46% harian; turun 3,28% sepekan |
Rupiah (USD/IDR) | Rp17.873 | Rupiah menguat 0,40% harian; hampir tidak berubah sepekan |
Emas dunia | US$4.142,96 per ons | Turun 0,86% harian; turun 3,37% sepekan |
Minyak Brent | US$102,25 per barel | Datar harian |
Imbal hasil SBN 10 tahun | 7,159% | Tidak berubah harian; naik dari 7,083% sepekan lalu |
Imbal hasil obligasi AS 10 tahun | 5,277% | Naik dari 5,234% sehari sebelumnya dan 4,784% awal September |
Peluang The Fed menaikkan suku bunga (rapat 28 Okt) | 22,1% | Turun dari 64,2% pada 25 September |
Sumber: Investing, Financial Times, CME FedWatch, diolah
Imbal hasil (yield) adalah keuntungan yang diperoleh pemegang obligasi. Saat imbal hasil obligasi AS naik, obligasi AS menjadi lebih menarik dibanding aset lain, sehingga dapat menekan saham dan emas. Imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun naik ke 5,277% pada 2/10 dari 4,784% pada 4/9. Menurut Kitco News, imbal hasil yang tinggi dan dolar AS yang menguat membuat emas turun sepekan.
Laporan tenaga kerja AS menunjukkan hanya 29 ribu pekerjaan baru pada September, lebih rendah dari perkiraan. Peluang bank sentral AS (The Fed) menaikkan suku bunga pada rapat 28 Oktober turun ke 22,1% dari 64,2% pada 25 September (CME FedWatch). Meski begitu, imbal hasil, dolar AS, dan harga minyak masih tinggi.
Di dalam negeri, jual bersih asing terutama terjadi pada saham berkapitalisasi besar. Bursa Efek Indonesia juga menyesuaikan aturan, antara lain batas harga saham terendah dan fasilitas jual saham pinjaman (short selling) untuk lima saham. Rupiah dan imbal hasil SBN relatif stabil, sehingga tekanan terutama terlihat di saham dan emas.
Saat pasar bergejolak, kemudahan mencairkan dana (likuiditas) dan penyebaran investasi (diversifikasi) menjadi penting.
Surat Berharga Negara (SBN) Ritel jenis Savings Bond Ritel (SBR) seri SBR015 bisa dicermati untuk mengamankan dana di tengah gejolak pasar. Masa penawaran 28 September–22 Oktober 2026, SBR015 menawarkan kupon tertinggi untuk seri SBR sejak 2020.
Seri | Tenor | Kupon minimal per tahun |
|---|---|---|
SBR015T2 | 2 tahun | 6,75% |
SBR015T4 | 4 tahun | 6,85% |
Sumber: DJPPR Kemenkeu
Karena tergolong cukup likuid, reksadana pasar uang bisa dipertimbangkan untuk parkir dana jangka pendek di tengah gejolak pasar yang belum mereda.
Reksadana | Return 1 tahun |
|---|---|
Avrist Ada Kas Mutiara | 4,80% |
Syailendra Dana Kas | 4,63% |
BRI Seruni Likuid Dolar | 3,14% |
Sucorinvest Money Market USD | 3,69% |
Sumber: Bareksa, kinerja per 2/10/2026
Berinvestasi terutama di obligasi, sehingga nilai aktiva bersih (NAB) reksadana pendapatan tetap dapat naik-turun mengikuti imbal hasil obligasi. Namun investor bisa mencermati beli bertahap untuk tujuan jangka menengah atau diversifikasi.
Reksadana | Return 1 tahun |
|---|---|
Syailendra Sharia Fixed Income A | 6,3% |
Trimegah Dana Obligasi Nusantara | 6,07% |
Recapital Pendapatan Tetap Dana Gemilang | 4,89% |
Insight Renewable Energy Fund | 4,60% |
Avrist Emerald Stable Fund | 3,57% |
Sumber: Bareksa, per 2/10/2026. Kinerja masa lalu tidak mencerminkan kinerja masa datang.
Harga emas dunia ditutup di US$4.142,96 per ons pada 2/10. Pada pagi 5/10, harga emas dunia naik tipis 0,06% ke US$4.154 per ons. Membeli sedikit demi sedikit secara rutin (dollar cost averaging) dapat dicermati untuk investasi jangka panjang.
Platform | Harga beli per gram |
|---|---|
Treasury | Rp2.420.173 |
Pegadaian | Rp2.436.000 |
Indogold | Rp2.404.560 |
Sumber: Bareksa Emas, per 5/10/2026 pagi.
IHSG turun 3,28% sepekan meski naik pada Jumat, dan asing menjual saham Rp4,32 triliun. Imbal hasil obligasi AS yang tinggi menekan saham dan emas, sementara rupiah dan imbal hasil SBN relatif stabil. Investor dapat mencermati reksadana pasar uang untuk dana jangka pendek, SBR015 selama masa penawaran, reksadana pendapatan tetap secara bertahap, dan emas untuk penyebaran investasi, sesuai profil risiko dan tujuan masing-masing.
Dolar AS dan imbal hasil obligasi AS tinggi. Dana investor dapat berpindah ke aset di AS, sehingga rupiah berpotensi melemah dan harga saham serta emas tertekan.
Harga minyak tinggi. Biaya hidup dan biaya produksi dapat naik (inflasi), sehingga daya beli dan laba perusahaan berpotensi tertekan.
Nilai reksadana pendapatan tetap bisa naik-turun. Saat imbal hasil obligasi naik, harga obligasi cenderung turun, sehingga nilai reksadana pendapatan tetap dapat turun dalam jangka pendek.
Bareksa adalah pioneer aplikasi investasi SBN resmi yang memudahkan pembelian obligasi negara seperti ORI, SR, ST, dan SBR. Kamu dapat membandingkan imbal hasil, memahami risiko, dan mengikuti jadwal penerbitan dengan jelas. Cocok untuk investor yang mencari investasi aman dengan dukungan negara, semuanya tersedia dalam satu aplikasi investasi terpercaya.
(Sigma Kinasih CTA, CFP/Ni Putu Kurniasari/AM)
Tentang Penulis
* Sigma Kinasih adalah Investment Strategist Bareksa dengan pengalaman lebih dari 12 tahun di industri pasar modal. Memegang lisensi WMI, WPPE, CTA, dan CFP, ia berfokus pada riset makroekonomi, strategi portofolio, serta analisis reksadana, saham, emas dan SBN. Sigma meraih gelar Magister Ekonomi dari Universitas Trisakti.
DISCLAIMER
Investasi mengandung risiko dan seluruhnya menjadi tanggung jawab pribadi. Bareksa membuat informasi ini dari materi dan sumber-sumber terpercaya, serta tidak dipengaruhi pihak manapun. Informasi ini bukan merupakan ajakan, ataupun paksaan untuk melakukan transaksi dan Bareksa tidak memberikan jaminan atas transaksi yang dilakukan.
Investasi melalui reksa dana mengandung risiko. Calon pemodal wajib membaca dan memahami prospektus sebelum memutuskan untuk berinvestasi melalui reksa dana. Kinerja masa lalu tidak mencerminkan kinerja masa datang.
Investor asing menjual saham lebih banyak daripada yang dibeli pada periode tertentu.
Keuntungan yang diperoleh pemegang obligasi. Saat imbal hasil naik, harga obligasi biasanya turun.
Menurut Kitco, imbal hasil obligasi AS yang tinggi dan dolar AS yang menguat menekan emas, karena emas tidak memberikan bunga.
Tidak. Reksadana bukan produk bank dan tidak dijamin LPS. Kinerja masa lalu tidak mencerminkan kinerja masa datang.