
Bareksa - Pasar keuangan domestik tertekan pada Kamis (1/10/2026). Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) turun 1,02% ke 6.009,50, level terendah dalam dua bulan dan penurunan hari keenam berturut-turut. Rupiah melemah ke Rp17.963 per dolar AS, dan imbal hasil (yield) SBN 10 tahun naik ke 7,159% dari 7,106% sehari sebelumnya. Yield adalah imbal hasil obligasi dan bergerak berlawanan dengan harga. Saat yield naik, harga obligasi turun.
Apa yang terjadi: IHSG, rupiah, dan SBN tertekan bersamaan.
Mengapa: dolar AS menguat, harga minyak Brent sekitar US$103 per barel, dan reshuffle kabinet memunculkan ketidakpastian kebijakan.
Apa artinya: reksadana pendapatan tetap bisa berfluktuasi dalam jangka pendek, sementara reksadana pasar uang relatif lebih stabil.
Produk yang bisa dicermati: SBR015, reksadana pasar uang, reksadana pendapatan tetap, dan emas.
Indikator | 30 Sep 2026 | 1 Okt 2026 | Arah |
|---|---|---|---|
IHSG | 6.071,14 | 6.009,50 | Turun 1,02% |
USD/IDR | Rp17.855 | Rp17.963 | Rupiah melemah 0,60% |
Yield SBN 10 tahun | 7,106% | 7,159% | Naik |
Yield UST 10 tahun | 5,293% | 5,246% | Turun 0,89% |
Emas spot (XAU/USD) | US$4.156 | US$4.178 | Naik 0,54% |
Sumber: Investing.com. Angka sumber lain dapat berbeda tipis karena waktu pengambilan.
IHSG turun enam hari beruntun. Analis menyebut reshuffle kabinet pada 1 Oktober memunculkan ketidakpastian arah kebijakan. Menteri Keuangan tidak diganti, tetapi ada pergantian wakil menteri keuangan dan sejumlah menteri lain. Investor asing tercatat jual bersih sekitar Rp1,61 triliun pada 30 September dan Rp204,3 miliar pada sesi I 1 Oktober. Sepanjang September, IHSG turun 7,95%.
Indeks dolar AS menguat ke level tertinggi dua bulan, sementara yield obligasi AS 10 tahun masih berada di kisaran tertinggi sejak 2007, yaitu sekitar 5,2%-5,3%. Harga minyak Brent juga bertahan di atas US$100 per barel, dan permintaan dolar akhir kuartal menambah tekanan pada rupiah. Saat investor global menuntut imbal hasil lebih tinggi, yield SBN ikut terdorong naik.Apa artinya bagi investor?
Kondisi pasar yang bergejolak membuat likuiditas dan diversifikasi lebih penting. Informasi berikut bukan rekomendasi dan perlu disesuaikan dengan profil risiko masing-masing.
1. SBN ritel SBR015
Masa penawaran 28 September-22 Oktober 2026. Kupon SBR tertinggi sejak 2020.
Seri | Tenor | Kupon minimal (per tahun) |
|---|---|---|
SBR015T2 | 2 tahun | 6,75% |
SBR015T4 | 4 tahun | 6,85% |
Sumber: DJPPR Kemenkeu
2. Reksadana pasar uang
Relatif cocok untuk menjaga likuiditas saat pasar bergejolak. Tidak dijamin LPS.
Reksadana | Return 1 tahun |
|---|---|
Avrist Ada Kas Mutiara | 4,81% |
Syailendra Dana Kas | 4,62% |
BRI Seruni Likuid Dolar | 3,14% |
Sucorinvest Money Market USD | 3,69% |
Sumber: Bareksa, kinerja per 1/10/2026
3. Reksadana pendapatan tetap
Sensitif terhadap pergerakan yield: saat yield naik, harga obligasi turun, sehingga nilai bisa naik-turun dalam jangka pendek.
Reksadana | Return 1 tahun |
|---|---|
Syailendra Sharia Fixed Income Fund Kelas A | 6,3% |
Trimegah Dana Obligasi Nusantara | 6,07% |
Recapital Pendapatan Tetap Dana Gemilang | 4,98% |
Insight Renewable Energy Fund | 4,61% |
Avrist Emerald Stable Fund | 3,6% |
Sumber; Bareksa, return per 30/9/2026. Kinerja masa lalu tidak mencerminkan kinerja masa datang.
4. Emas
Dapat dicermati sebagai diversifikasi. Harga emas spot naik 0,54% ke US$4.178 per ons setelah turun 0,64% sehari sebelumnya. Pembelian bertahap (DCA) membantu mengurangi risiko salah waktu masuk.
Platform | Harga beli per gram |
|---|---|
Treasury | Rp2.449.994 |
Pegadaian | Rp2.444.000 |
Indogold | Rp2.404.044 |
Sumber: fitur Bareksa Emas, harga beli emas digital per 2/10/2026 pagi
Ketidakpastian kebijakan, penguatan dolar AS, harga minyak yang tinggi, dan arus jual investor asing dapat menekan pasar lebih lanjut. Pergerakan satu hari belum tentu menjadi tren.
Pada 1 Oktober 2026, IHSG turun enam hari beruntun, rupiah melemah, dan yield SBN 10 tahun naik ke 7,159%. Pemicunya dolar AS yang menguat, harga minyak Brent di atas US$100 per barel, dan ketidakpastian setelah reshuffle kabinet. Saat yield naik, harga obligasi turun, sehingga reksadana pendapatan tetap bisa berfluktuasi dalam jangka pendek.
Dalam kondisi ini, investor dapat mencermati reksadana pasar uang untuk likuiditas, SBR015 selama masa penawaran hingga 22 Oktober 2026, serta emas sebagai diversifikasi, disesuaikan dengan profil risiko dan tujuan masing-masing. Pergerakan satu hari belum tentu menjadi tren, sehingga perkembangan pasar perlu terus dipantau.
Bareksa adalah pioneer aplikasi investasi SBN resmi yang memudahkan pembelian obligasi negara seperti ORI, SR, ST, dan SBR. Kamu dapat membandingkan imbal hasil, memahami risiko, dan mengikuti jadwal penerbitan dengan jelas. Cocok untuk investor yang mencari investasi aman dengan dukungan negara, semuanya tersedia dalam satu aplikasi investasi terpercaya.
(Sigma Kinasih CTA, CFP/Ni Putu Kurniasari/AM)
Tentang Penulis
* Sigma Kinasih adalah Investment Strategist Bareksa dengan pengalaman lebih dari 12 tahun di industri pasar modal. Memegang lisensi WMI, WPPE, CTA, dan CFP, ia berfokus pada riset makroekonomi, strategi portofolio, serta analisis reksadana, saham, emas dan SBN. Sigma meraih gelar Magister Ekonomi dari Universitas Trisakti.
DISCLAIMER
Investasi mengandung risiko dan seluruhnya menjadi tanggung jawab pribadi. Bareksa membuat informasi ini dari materi dan sumber-sumber terpercaya, serta tidak dipengaruhi pihak manapun. Informasi ini bukan merupakan ajakan, ataupun paksaan untuk melakukan transaksi dan Bareksa tidak memberikan jaminan atas transaksi yang dilakukan.
Investasi melalui reksa dana mengandung risiko. Calon pemodal wajib membaca dan memahami prospektus sebelum memutuskan untuk berinvestasi melalui reksa dana. Kinerja masa lalu tidak mencerminkan kinerja masa datang.
Ya, keduanya bergerak berlawanan.
Tidak. Reksadana bukan produk perbankan dan tidak dijamin LP
Membeli secara bertahap dalam nominal tetap pada interval teratur.
Masa penawaran berlangsung 28 September-22 Oktober 2026.