
Bareksa - Kenaikan yield (ekspektasi imbal hasil) Obligasi Pemerintah AS menjadi sinyal terkuat pasar pada Senin (28/9), dipicu kekhawatiran inflasi akibat harga minyak Brent yang menembus US$106 per barel. Yield adalah imbal hasil yang diterima pemegang obligasi. Yield Treasury tenor 10 tahun naik ke 5,235%, level tertinggi dalam 19 tahun dan bursa Wall Street melemah.
Tekanan menjalar ke dalam negeri. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) turun 1,51% ke 6.147,86, rupiah melemah 0,48% ke Rp17.970 per dolar AS atau sedikit lagi menembus Rp18.000, dan yield Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun naik ke 7,196% dari 7,083%, atau naik sekitar 11 basis poin (bps), yang berarti harga obligasi turun.
Yield Obligasi Pemerintah AS tenor 10 tahun naik ke 5,235%, tertinggi dalam 19 tahun. Kenaikan ini dipicu kekhawatiran inflasi akibat harga minyak Brent di atas US$106 per barel, dan menjadi pemicu utama tekanan pasar.
Wall Street melemah: Dow turun 0,67%, S&P 500 turun 0,77%, Nasdaq turun 0,92%.
IHSG turun 1,51% ke 6.147,86 pada Senin (28/9), dan rupiah melemah 0,48% ke Rp17.970 per dolar AS.
Yield SBN 10 tahun naik ke 7,196% dari 7,083% pada penutupan Jumat (25/9). Saat yield naik, harga obligasi turun.
Emas dunia turun 3,13% ke US$4.127,38 per ons akibat pasar memperkirakan suku bunga The Fed naik lagi.
SBR015 dibuka 28 September-22 Oktober 2026 dengan kupon minimal 6,75% (2 tahun) dan 6,85% (4 tahun).
Sumber: Investing.com, diolah Bareksa. Indeks dinormalisasi ke 100 pada 31 Agustus 2026 agar aset berbeda satuan dapat dibandingkan.
Indikator | Data terakhir (28/9) | Sebulan lalu (31/8) | Keterangan |
|---|---|---|---|
IHSG | 6.147,86 | 6.525,48 | Turun 1,51% harian; turun sekitar 5,8% dalam sebulan |
USD/IDR | Rp17.970 | Rp17.715 | Rupiah melemah 0,48% harian |
Emas spot (XAU/USD) | US$4.127,38 | US$4.448,92 | Turun 3,13% harian |
Yield SBN 10Y | 7,196% | 6,990% | Naik sekitar 11 bps harian |
Yield UST 10Y | 5,235% | 4,758% | Naik dari 5,199% pada sesi sebelumnya |
BI Rate | 5,75% | 5,75% | Ditahan pada RDG September 2026 |
Sumber: Investing.com, Bank Indonesia; diolah Bareksa.
Yield obligasi AS yang tinggi menjadi pembanding bagi investor di seluruh dunia. Ketika obligasi AS menawarkan imbal hasil lebih besar, sebagian investor dapat memindahkan dana dari aset yang lebih berisiko, termasuk saham dan obligasi negara berkembang. Karena itu, kenaikan yield AS sering berdampak pada pasar Indonesia.
Menurut Kitco News, kebuntuan negosiasi di Selat Hormuz mendorong yield dan dolar AS lebih tinggi. Melansir Yahoo Finance, harga minyak mentah kontrak November berada di US$93,23 per barel, naik 0,68%, yang memperkuat kekhawatiran inflasi. Kekhawatiran inflasi tersebut membuat pasar memperkirakan suku bunga The Fed dapat naik lagi.
Selisih yield SBN 10 tahun (7,196%) terhadap Treasury AS 10 tahun (5,235%) sekitar 196 bps. Indeks volatilitas VIX, yang mengukur tingkat kekhawatiran pasar, naik 8,07% ke 16,07, menurut Yahoo Finance.
Di tengah gejolak pasar global dan domestik, investor bisa mempertimbangkan untuk mencermati instrumen Surat Berharga Negara (SBN) Ritel Savings Bond Ritel (SBR) seri SBR015 yang menawarkan kupon 6,75-6,85%. Besaran kupon tersebut merupakan tertinggi di seri SBR sejak 2020 atau 6 tahun terakhjr.
Penawaran SBR015 berlangsung pada 28 September pukul 09.00 WIB hingga 22 Oktober 2026 pukul 10.00 WIB. Kupon dibayar setiap tanggal 10, dengan pembayaran pertama 10 Desember 2026. Sifat kupon SBR015 ialah floating with floor atau mengambang dengan batas minimal. Artinya kupon SBR015 bisa naik mengikuti kenaikan BI Rate, tapi tidak bisa turun lebih rendah dari batas minimalnya yakni 6,75-6,85%.
Seri | Tenor | Kupon minimal (per tahun) | Acuan |
|---|---|---|---|
SBR015T2 | 2 tahun | 6,75% | BI Rate + 1% |
SBR015T4 | 4 tahun | 6,85% | BI Rate + 1,1% |
Sumber: Memorandum Informasi
Reksadana pasar uang berinvestasi pada instrumen jangka pendek dan dapat dipertimbangkan investor yang mengutamakan untuk menjaga likuiditas saat pasar bergejolak.
Reksadana | Return 1 Tahun |
|---|---|
Avrist Ada Kas Mutiara | 4,81% |
Syailendra Dana Kas | 4,64% |
BRI Seruni Likuid Dolar | 3,17% |
Mandiri Money Market USD | 2,49% |
Sumber: Bareksa, kinerja per 28/9/2026. Kinerja masa lalu tidak menjamin kinerja masa depan.
Reksadana pendapatan tetap berinvestasi terutama pada obligasi. Saat yield naik, harga obligasi turun sehingga nilai reksadana dapat berfluktuasi dalam jangka pendek. Investor dapat mempertimbangkan pembelian bertahap sesuai profil risiko dan jangka waktu investasi masing-masing.
Reksadana | Return 1 Tahun |
|---|---|
Syailendra Sharia Fixed Income Fund Kelas A | 6,69% |
Trimegah Dana Obligasi Nusantara | 6,09% |
Recapital Pendapatan Tetap Dana Gemilang | 5,06% |
Insight Renewable Energy Fund | 4,66% |
Avrist Emerald Stable Fund | 3,69% |
Sumber: Bareksa, kinerja per 28/9/2026. Kinerja masa lalu tidak menjamin kinerja masa depan.
Emas spot turun 3,13% ke US$4.127,38 per ons pada penutupan 28 September. Kitco News menyebut tekanan datang dari ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed yang mendorong penguatan yield obligasi dan dolar AS, sehingga menekan harga emas.
Aakash Doshi dari State Street Investment Management memperkirakan emas berpotensi turun ke sekitar US$4.000 per ons dalam sepekan, tetapi masih melihat peluang kenaikan menuju US$5.000 per ons dalam enam bulan. Sementara itu, analis Société Générale menempatkan area support berikutnya di sekitar US$4.095 per ons.
Pandangan analis tersebut merupakan proyeksi, bukan jaminan pergerakan harga emas.
Platform | Harga Beli/Gram |
|---|---|
Treasury | Rp2.441.316 |
Pegadaian | Rp2.457.000 |
Indogold | Rp2.401.464 |
Sumber: fitur Bareksa Emas, per 29/9/2026 pagi.
Ketegangan di Selat Hormuz dan harga minyak yang tinggi.
Kenaikan suku bunga The Fed dan yield obligasi AS yang berlanjut.
Pelemahan rupiah dan tekanan pada pasar saham dan SBN.
Fluktuasi harga emas dan nilai tukar.
Reksa dana bukan instrumen bebas risiko dan tidak dijamin LPS.
Pada 28 September, kenaikan yield obligasi AS menekan pasar: IHSG turun 1,51%, rupiah melemah, dan yield SBN naik ke 7,196%. Reksadana pasar uang dapat dipertimbangkan untuk menjaga likuiditas, reksadana pendapatan tetap dapat dibeli bertahap sesuai profil risiko, dan SBR015 dapat menjadi salah satu pilihan selama masa penawaran hingga 22 Oktober 2026. Setiap keputusan investasi sebaiknya disesuaikan dengan tujuan keuangan dan toleransi risiko masing-masing.
Bareksa adalah pioneer aplikasi investasi SBN resmi yang memudahkan pembelian obligasi negara seperti ORI, SR, ST, dan SBR. Kamu dapat membandingkan imbal hasil, memahami risiko, dan mengikuti jadwal penerbitan dengan jelas. Cocok untuk investor yang mencari investasi aman dengan dukungan negara, semuanya tersedia dalam satu aplikasi investasi terpercaya.
(Sigma Kinasih CTA, CFP/Ni Putu Kurniasari/AM)
Tentang Penulis
* Sigma Kinasih adalah Investment Strategist Bareksa dengan pengalaman lebih dari 12 tahun di industri pasar modal. Memegang lisensi WMI, WPPE, CTA, dan CFP, ia berfokus pada riset makroekonomi, strategi portofolio, serta analisis reksadana, saham, emas dan SBN. Sigma meraih gelar Magister Ekonomi dari Universitas Trisakti.
DISCLAIMER
Investasi mengandung risiko dan seluruhnya menjadi tanggung jawab pribadi. Bareksa membuat informasi ini dari materi dan sumber-sumber terpercaya, serta tidak dipengaruhi pihak manapun. Informasi ini bukan merupakan ajakan, ataupun paksaan untuk melakukan transaksi dan Bareksa tidak memberikan jaminan atas transaksi yang dilakukan.
Investasi melalui reksa dana mengandung risiko. Calon pemodal wajib membaca dan memahami prospektus sebelum memutuskan untuk berinvestasi melalui reksa dana. Kinerja masa lalu tidak mencerminkan kinerja masa datang.
IHSG turun 1,51% ke 6.147,86 di tengah kenaikan yield obligasi AS ke 5,235% dan pelemahan bursa AS.
Yield SBN naik berarti harga obligasi turun. Yield SBN 10 tahun naik ke 7,196% dari 7,083%.
Reksadana pasar uang berinvestasi pada instrumen jangka pendek dan dapat dipertimbangkan untuk menjaga likuiditas. Reksadana pendapatan tetap dapat dibeli bertahap. Pilihan tetap perlu disesuaikan dengan profil risiko.
Minimal 6,75% per tahun untuk SBR015T2 (2 tahun) dan 6,85% per tahun untuk SBR015T4 (4 tahun), dengan masa penawaran 28 September-22 Oktober 2026.
Menurut Kitco News, pasar memperkirakan suku bunga The Fed naik lagi, sehingga yield obligasi dan dolar AS menguat dan menekan emas yang turun 3,13% ke US$4.127,38 per ons.