
Bareksa - Tekanan dari pasar obligasi Amerika Serikat kembali membebani pasar saham dan rupiah. Yield (ekspektasi imbal hasil) Obligasi Pemerintah Amerika Serikat (AS) tenor 10 tahun naik 8,5 basis poin (bps) ke 5,195% pada Kamis (24/9), seiring menguatnya peluang kenaikan suku bunga The Fed pada Oktober.
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) turun 1,2% ke level 6.298,61, sementara rupiah melemah 0,52% ke Rp17.900,5 per dolar AS. Namun, pasar Surat Berharga Negara (SBN) tetap tangguh. Yield SBN 10 tahun stabil di 7%, ditopang arus masuk investor asing Rp2,4 triliun sepanjang September. Kondisi ini membuka peluang di reksa dana pendapatan tetap dan SBR015, sementara reksadana pasar uang berperan menjaga likuiditas.
Yield obligasi AS tenor 10 tahun naik 8,5 bps ke 5,195% pada 24 September 2026, seiring menguatnya peluang kenaikan suku bunga The Fed pada Oktober.
Yield SBN 10 tahun stabil di 7%, ditopang arus masuk asing Rp2,4 triliun sepanjang September.
IHSG turun 1,2% ke 6.298,61 dan rupiah melemah 0,52% ke Rp17.900,5 per dolar AS.
SBR015 menawarkan kupon minimal 6,75% (T2) dan 6,85% (T4) per tahun, tertinggi untuk SBR sejak 2020; masa penawaran 28 September-22 Oktober 2026.
Harga emas spot turun 0,5% ke US$4.265 per troy ons; investor jangka panjang bisa beli bertahap (DCA).
Prioritas: reksadana pendapatan tetap dan SBR015 untuk imbal hasil, reksadana pasar uang untuk menjaga likuiditas.
Sumber: Investing.com, diolah Bareksa. Indeks dinormalisasi ke 100 pada 24 Agustus 2026. Kenaikan USD/IDR berarti rupiah melemah.
Indikator | Data terkini (24/9/2026) | Sebulan lalu (24/8/2026) | Keterangan |
IHSG | 6.298,61 | 6.501,67 | Turun 1,2% harian; turun 3,1% sebulan |
USD/IDR | 17.900,5 | 17.710 | Rupiah melemah 0,52% harian; melemah 1,1% sebulan |
Emas spot (US$/troy ons) | 4.265 | 4.651,87 | Turun 0,5% harian; turun 8,3% sebulan |
Yield SBN 10Y | 7% | 7,04% | Stabil harian |
Yield UST 10Y | 5,195% | 4,704% | Naik 8,5 bps harian; naik 49,1 bps sebulan |
BI Rate | 5,75% | 5,75% | Ditahan pada RDG 22-23 September 2026 |
Sumber: Investing.com, Bank Indonesia, diolah Bareksa
Pendorong utama tekanan global adalah kenaikan yield obligasi AS. Dalam dua hari, yield 10 tahun naik sekitar 24 bps, dari 4,955% pada 22 September ke 5,195% pada 24 September. Yield obligasi AS tenor 30 tahun bahkan mencapai 5,489%, level tertinggi sejak 2004. Pemicunya data ekonomi AS yang solid, dengan klaim pengangguran mingguan turun ke 197.000, sehingga peluang kenaikan suku bunga The Fed pada Oktober kini sekitar 67-70%.
Meski begitu, pasar SBN relatif terjaga. Yield SBN 10 tahun stabil di 7%, didukung permintaan domestik dan arus masuk asing Rp2,4 triliun sepanjang September. Fundamental domestik juga membaik. OECD menaikkan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia 2026 menjadi 5,2% dari 4,7%, sementara target defisit APBN 2027 tetap di 2,40% PDB.
Satu hal yang perlu dicermati adalah selisih yield. Dengan yield SBN di sekitar 7% dan yield obligasi AS di 5,195%, selisihnya kini di bawah 200 bps. Selisih yang lebih tipis membuat rupiah rentan melemah. Harga minyak juga menjadi risiko. Brent diperdagangkan di sekitar US$105 per barel karena negosiasi terkait Selat Hormuz belum menunjukkan kemajuan.
1. Reksadana Pendapatan Tetap: Yield SBN di Atas 7% Jadi Bantalan
Stabilnya yield SBN di tengah tekanan global menunjukkan permintaan domestik yang kuat. Dengan yield di atas 7%, pendapatan kupon obligasi menjadi bantalan saat pasar bergejolak. Harga obligasi tetap bisa berfluktuasi bila tekanan global berlanjut, sehingga produk ini cocok untuk investor dengan horizon minimal 1-3 tahun.
Reksadana | Return 1 Tahun |
Syailendra Sharia Fixed Income Fund Kelas A | 6,74% |
Trimegah Dana Obligasi Nusantara | 5,92% |
Recapital Pendapatan Tetap Dana Gemilang | 4,96% |
Insight Renewable Energy Fund | 4,63% |
Avrist Emerald Stable Fund | 3,68% |
Sumber: Bareksa, kinerja per 24 September 2026. Kinerja masa lalu tidak menjamin kinerja masa depan.
2. SBR015: Kupon Minimal Tertinggi Sejak 2020
Pemerintah menetapkan kupon minimal SBR015 sebesar 6,75% per tahun untuk tenor 2 tahun (SBR015T2) dan 6,85% per tahun untuk tenor 4 tahun (SBR015T4), tertinggi untuk seri SBR sejak 2020. Kupon bersifat mengambang dengan batas bawah (floating with floor), ditinjau setiap tiga bulan mengikuti BI Rate. Artinya, kupon bisa naik jika BI Rate naik, namun tidak akan turun di bawah kupon minimal. Masa penawaran berlangsung 28 September-22 Oktober 2026.
Seri | Tenor | Kupon Minimal | Spread di atas BI Rate |
SBR015T2 | 2 tahun | 6,75% p.a | 100 bps |
SBR015T4 | 4 tahun | 6,85% p.a | 110 bps |
Sumber: DJPPR Kemenkeu, Bareksa
3. Reksadana Pasar Uang: Andalan Likuiditas saat Gejolak Pasar
Reksadana pasar uang berinvestasi di deposito dan surat utang jangka pendek, sehingga fluktuasinya rendah dan dana mudah dicairkan. Reksadana USD dapat menjadi pelindung nilai bagi investor yang memiliki kebutuhan dalam dolar AS saat rupiah melemah.
Reksadana | Return 1 Tahun |
Avrist Ada Kas Mutiara | 4,76% |
Syailendra Dana Kas | 4,6% |
BRI Seruni Likuid Dolar | 3,15% |
Mandiri Money Market USD | 2,54% |
Sumber: Bareksa, kinerja per 24 September 2026. Kinerja masa lalu tidak menjamin kinerja masa depan.
Emas: Koreksi Jadi Kesempatan Beli Bertahap
Harga emas spot turun 0,5% ke US$4.265 per ons. Dalam sebulan, emas sudah turun sekitar 8,3%. Dilansir Kitco News, yield obligasi AS yang tinggi dan dolar yang menguat menekan logam mulia yang tidak memberikan bunga. Meski begitu, Goldman Sachs memproyeksi emas mencapai US$4.900 per troy ons di akhir 2026, didukung pembelian bank sentral. Investor jangka panjang bisa menerapkan strategi beli bertahap saat koreksi (dollar cost averaging/DCA).
Harga Beli Emas Digital
Platform | Harga Beli/Gram |
Treasury | Rp2.528.745 |
Pegadaian | Rp2.474.000 |
Indogold | Rp2.449.452 |
Sumber: fitur Bareksa Emas, per 25/9/2026 pagi.
Kenaikan suku bunga The Fed pada Oktober dapat mendorong yield AS lebih tinggi dan menekan harga obligasi domestik.
Selisih yield SBN dan obligasi AS yang menyempit di bawah 200 bps dapat memicu arus keluar dana asing.
Harga minyak di atas US$100 per barel berisiko menaikkan inflasi dan kebutuhan subsidi.
Ketidakpastian geopolitik di Selat Hormuz.
Reksa dana bukan instrumen bebas risiko dan tidak dijamin LPS; nilai investasi dapat naik maupun turun.
Kenaikan yield obligasi AS ke 5,195% menekan IHSG dan rupiah pada 24 September 2026, namun pasar SBN tetap stabil di 7% berkat permintaan domestik dan arus masuk asing. Kondisi ini membuka peluang di reksa dana pendapatan tetap dan SBR015 yang menawarkan kupon minimal hingga 6,85% per tahun. RD Pasar Uang, baik IDR maupun USD, tetap menjadi andalan untuk menjaga likuiditas. Emas dapat diakumulasi bertahap sebagai diversifikasi jangka panjang.
Bareksa adalah pioneer aplikasi investasi reksa dana terpercaya yang telah berizin OJK sejak 2016. Dengan 160+ produk reksadana dari 35 manajer investasi, kamu bisa memilih sesuai tujuan dan profil risiko. Dilengkapi fitur pembanding performa, riset pasar, dan rekomendasi ahli, Bareksa membantu kamu mulai investasi reksadana dengan mudah, aman, dan terarah dalam satu aplikasi.
(Sigma Kinasih CTA, CFP/Ni Putu Kurniasari/AM)
Tentang Penulis
* Sigma Kinasih adalah Investment Strategist Bareksa dengan pengalaman lebih dari 12 tahun di industri pasar modal. Memegang lisensi WMI, WPPE, CTA, dan CFP, ia berfokus pada riset makroekonomi, strategi portofolio, serta analisis reksadana, saham, emas dan SBN. Sigma meraih gelar Magister Ekonomi dari Universitas Trisakti.
DISCLAIMER
Investasi mengandung risiko dan seluruhnya menjadi tanggung jawab pribadi. Bareksa membuat informasi ini dari materi dan sumber-sumber terpercaya, serta tidak dipengaruhi pihak manapun. Informasi ini bukan merupakan ajakan, ataupun paksaan untuk melakukan transaksi dan Bareksa tidak memberikan jaminan atas transaksi yang dilakukan.
Investasi melalui reksa dana mengandung risiko. Calon pemodal wajib membaca dan memahami prospektus sebelum memutuskan untuk berinvestasi melalui reksa dana. Kinerja masa lalu tidak mencerminkan kinerja masa datang.
Permintaan domestik yang kuat dan arus masuk asing Rp2,4 triliun sepanjang September menahan kenaikan yield SBN. Fundamental ekonomi Indonesia yang membaik juga menjaga kepercayaan investor.
Reksadana pendapatan tetap dikelola manajer investasi, bisa dicairkan kapan saja, namun nilainya berfluktuasi mengikuti harga obligasi. SBR015 dijamin negara dan dipegang hingga jatuh tempo dengan kupon bulanan.
Kupon SBR015 bisa naik jika BI Rate naik, tetapi tidak akan turun di bawah kupon minimal 6,75% (T2) atau 6,85% (T4). Investor terlindungi dari penurunan suku bunga.
Dollar cost averaging (DCA) adalah membeli secara rutin dengan nominal tetap, tanpa menebak harga terendah. Saat harga terkoreksi, investor mendapat gram emas lebih banyak.
Tidak. Reksadana bukan produk perbankan dan tidak dijamin LPS. Kinerja masa lalu tidak menjamin kinerja masa depan.