Bareksa Insight: Harga Minyak Anjlok, Emas Tertekan, Ini Strategi Investasinya

Abdul Malik • 22 Sep 2026

an image
Ilustrasi kenaikan dan penurunan harga minyak dunia yang berpengaruh terhadap kinerja pasar saham, reksadana dan SBN. (Shutterstock)

Harga minyak turun ke level terendah 12 hari usai harapan diplomasi AS-Iran, sementara emas dan IHSG masih tertekan yield yang tinggi. Simak sinyal pasar terkini dan pilihan reksa dana yang dapat dicermati.

Bareksa - Sebulan terakhir Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melemah 2,16%, rupiah ikut tertekan 0,79%, dan emas dunia turun 5,45% - berlawanan dengan kebiasaannya sebagai aset aman.

Penyebabnya serupa: ekspektasi imbal hasil (yield) SBN 10 tahun naik 16bps ke 7,12%, dan yield US Treasury 10 tahun naik 21bps mendekati level psikologis 5%, usai The Fed menaikkan suku bunga 25bps ke 3,75-4% pada 16 September lalu.

Kabar baiknya datang dari pasar minyak. Brent dan WTI anjlok ke level terendah 12 hari pada Senin (21/9), masing-masing ke US$100,34 dan US$95,78 per barel, didorong harapan pembicaraan damai AS-Iran di sela Sidang Umum PBB serta lonjakan ekspor Arab Saudi lewat Selat Hormuz yang melonjak lebih dari 300%. 

Pelemahan harga minyak ini berpotensi meredakan tekanan inflasi dan memberi sedikit ruang bernapas bagi neraca fiskal negara pengimpor minyak seperti Indonesia.

Ringkasan untuk Investor

  • Harga minyak anjlok ke level terendah 12 hari usai harapan diplomasi AS-Iran dan pulihnya ekspor Saudi lewat Selat Hormuz.

  • IHSG melemah 0,88% ke 6.385 pada Senin (21/9), tertekan net sell asing Rp510 miliar; support 6.230, resistance 6.451.

  • Yield SBN 10 tahun 7,12% dan yield UST 10 tahun mendekati 5%, membuat spread sekitar 217bps - masih dalam rentang wajar.

  • Emas justru melemah 0,47% ke US$4.352/oz meski geopolitik masih panas, karena tertekan yield tinggi jangka pendek.

  • BI Rate diperkirakan tetap 5,75% pada rapat 22-23 September; reksa dana pasar uang tetap relevan untuk likuiditas, reksa dana pendapatan tetap disarankan lebih selektif pada durasi pendek.

Sumber: Investing.com, diolah Bareksa. Indeks dinormalisasi ke 100 pada 21 Agustus 2026 agar aset beda satuan dapat dibandingkan.

Data Kunci Pasar

Indikator

Data terkini (21/9)

Sebulan lalu

Keterangan

IHSG

6.385

6.526 (21/8)

Melemah 2,16%; momentum masih rawan koreksi

USD/IDR

Rp17.830

Rp17.690 (21/8)

Rupiah melemah 0,79%

Emas spot

US$4.352,48

US$4.603,56 (21/8)

Turun 5,45%; tertekan yield tinggi

Yield SBN 10Y

7,120%

6,960% (21/8)

Naik 16bps

Yield UST 10Y

4,948%

4,738% (21/8)

Naik 21bps, mendekati 5%

Spread SBN-UST

~217 bps

~222 bps

Relatif stabil, country risk RI terkendali

Brent Crude

US$100,34/bbl

-

Terendah 12 hari; risiko inflasi mereda

Sumber: Investing.com, Reuters, Kitco, diolah Bareksa.

Mengapa Emas dan IHSG Sama-sama Tertekan?

Emas biasanya diburu saat ketidakpastian tinggi, namun sebulan terakhir justru melemah 5,45% meski konflik geopolitik di Timur Tengah masih berlangsung. Analis Mark Thornton dari Ludwig von Mises Institute kepada Kitco News menyebut lonjakan utang terkait pembangunan infrastruktur kecerdasan buatan (AI) - lebih dari US$400 miliar tahun ini - sebagai risiko struktural bagi seluruh aset berdenominasi dolar, termasuk emas dalam jangka pendek, karena yield yang tinggi menaikkan biaya peluang memegang aset tanpa kupon seperti emas.

Sementara itu, IHSG masih dalam tekanan jual asing yang signifikan, dengan Ciptadana Sekuritas Asia memperkirakan indeks bergerak di kisaran 6.230-6.451 dengan bias negatif jangka pendek. Meski demikian, sejumlah analis tetap optimistis untuk jangka menengah-panjang. 

Axel Merk dari Merk Investments menilai kebijakan moneter The Fed yang lebih disiplin di bawah Ketua Kevin Warsh tidak serta-merta menghapus risiko fiskal AS yang masih membebani, sehingga emas tetap relevan sebagai alat diversifikasi jangka panjang.

Société Générale, seperti dilansir Kitco News, tetap mempertahankan pandangan bullish terhadap emas menjelang kuartal IV 2026, dengan proyeksi harga mencapai US$4.750 per ons pada akhir tahun sebelum naik ke US$5.000 pada kuartal II 2027 - didorong pembelian bank sentral yang berkelanjutan dan potensi penurunan suku bunga riil pada fase berikutnya.

Harga Emas Digital di Bareksa

Dengan tren jangka pendek yang masih tertekan namun proyeksi jangka menengah tetap positif, strategi pembelian bertahap (dollar-cost averaging/DCA) dinilai lebih sesuai dibanding membeli sekaligus dalam jumlah besar, terutama bagi investor dengan tujuan jangka panjang.

Platform

Harga Beli/Gram

Treasury

Rp2.546.372

Pegadaian

Rp2.512.000

Indogold

Rp2.470.092

Sumber: fitur Bareksa Emas, per 21/9/2026.

Reksadana Pendapatan Tetap: Lebih Selektif di Durasi Pendek

Yield obligasi yang masih tinggi membuat harga obligasi berdurasi panjang lebih sensitif terhadap perubahan ekspektasi suku bunga. Karena itu, reksadana pendapatan tetap dengan durasi relatif pendek dan eksposur obligasi korporasi berkualitas dinilai lebih tahan terhadap gejolak yield saat ini, meski investor tetap perlu mencermati fund fact sheet terbaru sebelum memutuskan.

Reksadana

Return 1 Tahun

Syailendra Sharia Fixed Income Fund Kelas A

7,07%

Trimegah Dana Obligasi Nusantara

5,84%

Recapital Pendapatan Tetap Dana Gemilang

5,00%

Insight Renewable Energy Fund

4,71%

Avrist Emerald Stable Fund

3,74%

Sumber: Bareksa, kinerja per 18/9/2026. Kinerja masa lalu tidak menjamin kinerja masa depan.

Reksadana Pasar Uang: Andalan untuk Likuiditas

Ketidakpastian arah suku bunga global, pergerakan rupiah, dan tekanan jual asing yang belum sepenuhnya reda membuat kebutuhan likuiditas tetap relevan. Reksadana pasar uang dapat digunakan untuk menempatkan dana jangka pendek sembari menunggu arah pasar saham dan obligasi lebih jelas, meski tetap bukan instrumen bebas risiko dan tidak dijamin LPS.

Reksadana

Return 1 Tahun

Avrist Ada Kas Mutiara

4,76%

Syailendra Dana Kas

4,61%

BRI Seruni Likuid Dolar

3,15%

Mandiri Money Market USD

2,54%

Sumber: Bareksa, kinerja per 18/9/2026. Kinerja masa lalu tidak menjamin kinerja masa depan.

Faktor Risiko Utama

  • Yield UST yang mendekati 5% dapat kembali menekan harga obligasi berdurasi panjang dan aset berisiko secara luas, termasuk emas dan saham negara berkembang.

  • Tekanan jual asing di IHSG belum sepenuhnya mereda, dengan net sell tercatat Rp510 miliar pada perdagangan terakhir.

  • Harga minyak yang turun tajam bisa berbalik naik jika perundingan diplomasi AS-Iran gagal, mengingat pipa Aramco yang rusak sejak 10 September belum sepenuhnya pulih.

  • Beban utang terkait pembangunan infrastruktur AI yang melonjak tajam berpotensi menambah volatilitas pasar aset berdenominasi dolar jika ekspektasi investor berubah.

  • Kinerja masa lalu reksa dana tidak menjamin hasil di masa depan; nilai investasi tetap dapat naik maupun turun mengikuti kondisi pasar.

Kesimpulan

Pelemahan harga minyak memberi sedikit ruang bernapas bagi tekanan inflasi global, namun yield obligasi AS dan Indonesia yang masih tinggi tetap menjadi penentu utama arah pasar dalam sepekan ke depan, termasuk keputusan BI Rate pada 22-23 September. Di tengah kondisi ini, reksa dana pasar uang tetap relevan untuk kebutuhan likuiditas, reksa dana pendapatan tetap disarankan lebih selektif pada durasi pendek, sementara emas dapat dicermati sebagai diversifikasi jangka panjang melalui pembelian bertahap saat harga terkoreksi.

Investasi di Aplikasi Reksadana Terbaik - Bareksa

Bareksa adalah pioneer aplikasi investasi reksa dana terpercaya yang telah berizin OJK sejak 2016. Dengan 160+ produk reksadana dari 35 manajer investasi, kamu bisa memilih sesuai tujuan dan profil risiko. Dilengkapi fitur pembanding performa, riset pasar, dan rekomendasi ahli, Bareksa membantu kamu mulai investasi reksadana dengan mudah, aman, dan terarah dalam satu aplikasi.

Investasi Reksadana di Sini

(Sigma Kinasih CTA, CFP/Ni Putu Kurniasari/AM)

Tentang Penulis

* Sigma Kinasih adalah Investment Strategist Bareksa dengan pengalaman lebih dari 12 tahun di industri pasar modal. Memegang lisensi WMI, WPPE, CTA, dan CFP, ia berfokus pada riset makroekonomi, strategi portofolio, serta analisis reksadana, saham, emas dan SBN. Sigma meraih gelar Magister Ekonomi dari Universitas Trisakti.

DISCLAIMER​​​​​​​​

Investasi mengandung risiko dan seluruhnya menjadi tanggung jawab pribadi. Bareksa membuat informasi ini dari materi dan sumber-sumber terpercaya, serta tidak dipengaruhi pihak manapun. Informasi ini bukan merupakan ajakan, ataupun paksaan untuk melakukan transaksi dan Bareksa tidak memberikan jaminan atas transaksi yang dilakukan.

Investasi melalui reksa dana mengandung risiko. Calon pemodal wajib membaca dan memahami prospektus sebelum memutuskan untuk berinvestasi melalui reksa dana. Kinerja masa lalu tidak mencerminkan kinerja masa datang.

Pertanyaan Umum

Mengapa harga minyak turun tajam belakangan ini?

Harga minyak anjlok ke level terendah 12 hari karena harapan diplomasi AS-Iran di sela Sidang Umum PBB, serta lonjakan ekspor Arab Saudi lewat Selat Hormuz yang naik lebih dari 300% usai kerusakan pipa darat sejak 10 September.

Kenapa emas justru melemah padahal geopolitik masih panas?

Kenaikan yield obligasi AS dan Indonesia menaikkan biaya peluang memegang emas, yang tidak memberikan kupon. Tekanan ini untuk sementara lebih dominan dibanding permintaan aset aman akibat risiko geopolitik dan fiskal.

Apakah IHSG masih berpotensi turun lebih dalam?

Ciptadana Sekuritas Asia melihat bias jangka pendek IHSG masih negatif dengan support di 6.230 dan resistance di 6.451. Penurunan di bawah area support dapat meningkatkan risiko koreksi lebih lanjut, meski hal ini bukan kepastian.

Bagaimana strategi reksadana yang tepat di kondisi ini?

Reksadana pasar uang dapat digunakan untuk menjaga likuiditas jangka pendek. Reksadana pendapatan tetap disarankan lebih selektif pada produk berdurasi pendek dengan eksposur obligasi korporasi berkualitas, karena lebih tahan terhadap gejolak yield dibanding durasi panjang.

Apakah sekarang waktu yang tepat membeli emas?

Tidak ada waktu yang pasti tepat untuk membeli aset apa pun. Dengan tren jangka pendek emas yang masih tertekan namun proyeksi jangka menengah tetap positif menurut sejumlah analis, strategi pembelian bertahap (DCA) dinilai lebih sesuai dibanding membeli dalam jumlah besar sekaligus.

Profil Penulis

Abdul Malik

Abdul Malik adalah Managing Editor Bareksa dengan pengalaman lebih dari 20 tahun di jurnalisme pasar modal. Memegang lisensi WPPE, ia fokus pada analisis pasar modal, saham, reksadana, SBN, emas dan edukasi keuangan, serta merupakan peraih beberapa fellowship internasional.