
Bareksa - Aksi jual besar-besaran obligasi global mendorong ekspektasi imbal hasil (yield) surat utang pemerintah di sejumlah negara maju ke level tertinggi dalam hampir dua dekade.
Laporan World Economic Forum (WEF), yang merangkum data Bloomberg dan Reuters, mencatat tekanan meluas di pasar AS, Jepang, Jerman, dan Inggris. Yield obligasi pemerintah Amerika Serikat (UST) tenor 10 tahun ditutup di 4,97% pada 14 September 2026, level tertinggi sejak Oktober 2023.
Yield obligasi Jepang tenor 10 tahun menembus 3% untuk pertama kalinya sejak 1996, yield obligasi Jerman melewati 3,5%, tertinggi sejak 2011. Sementara biaya pinjaman jangka panjang Inggris mencapai level yang terakhir terlihat pada akhir 1990-an.
Harga minyak Brent dan WTI masing-masing berada di sekitar US$107,6 dan US$102,4 per barel. Eskalasi konflik Timur Tengah meningkatkan kekhawatiran gangguan pasokan, inflasi, dan risiko stagflasi. Pasar juga menunggu rapat FOMC pada 15–16 September.
Di dalam negeri, yield Surat Berharga Negara (SBN) 10 tahun naik ke 7,156% di 11 September dari 7,096% sehari sebelumnya. IHSG turun 0,73% ke 6.541,38, sementara kurs USD/IDR naik ke Rp17.623 pada 14 September.
Yield UST 10 tahun mencapai 4,97%, sedangkan yield SBN 10 tahun berada di 7,156% di 11 September.
Brent sekitar US$107,6 per barel meningkatkan risiko inflasi dan menjaga sikap bank sentral tetap hawkish.
Reksadana pasar uang relevan untuk kebutuhan likuiditas; reksadana pendapatan tetap dapat dicermati bertahap dengan durasi dan kualitas kredit yang terukur.
SR025 menawarkan kupon tetap 6,8% untuk tenor 3 tahun dan 6,9% untuk tenor 5 tahun. Masa penawaran hingga 16 September 2026.
Emas dapat menjadi diversifier, tetapi volatilitas tinggi membuat pembelian bertahap lebih terukur.
Data Kunci Pasar
Indikator | Harga/Data Terbaru | Keterangan |
Yield UST 10Y | 4,970% (14 Sep) | Yield tinggi; menekan aset berisiko |
Yield SBN 10Y | 7,156% (11 Sep) | Naik dari 7,096% |
IHSG | 6.541,38 (11 Sep) | Turun 0,73% |
USD/IDR | Rp17.623 (14 Sep) | Rupiah melemah 0,23% |
Brent | US$107,6/barel | Risiko inflasi energi meningkat |
WTI | US$102,4/barel | Tertinggi dalam beberapa bulan |
Sumber: Investing, Reuters, CNBC, diolah
Sumber: Investing, diolah. Grafik disusun dengan Indeks 100 = 14 Agustus 2026.
Kenaikan harga energi mendorong ekspektasi inflasi sehingga pasar menilai pemangkasan suku bunga dapat tertunda. Penerbitan utang pemerintah dan obligasi korporasi yang besar juga menambah pasokan, membuat investor meminta imbal hasil lebih tinggi untuk menanggung risiko inflasi, fiskal, dan durasi.
OECD Global Debt Report 2026 memperkirakan nilai outstanding pasar obligasi global sekitar US$109 triliun, setara 93% PDB dunia. Reuters & World Economic Forum menyebut pasar fixed income global turun sekitar 4,2% sepanjang 2026. Jika 4,2% diterapkan secara ilustratif pada basis US$109 triliun, maka estimasi aksi jual obligasi global setara US$4,58 triliun atau dibulatkan US$4,6 triliun.
Reksadana | Jenis | Return 1 tahun |
Syailendra Sharia Fixed Income Fund Kelas A | RDPT | 7,24% |
Danamas Stabil | RDPT | 6,33% |
Insight Money | RDPU | 5,16% |
Avrist Ada Kas Mutiara | RDPU | 4,84% |
BRI Seruni Likuid Dolar | RDPU | 3,17% |
Mandiri Money Market USD | RDPU | 2,55% |
Sumber: Bareksa, kinerja per 11/9/2026
Investor bisa mempertimbangkan strategi investasi dengan memprioritaskan reksadana obligasi korporasi tenor pendek (< 3 thn) untuk mengurangi sensitivitas terhadap kenaikan yield, sekaligus memberikan potensi return dari kupon obligasi.
Adapun reksadana pasar uang bisa untuk diversifikasi sebagai penyeimbang di tengah gejolak pasar. Hindari terlalu agresif menambah obligasi berdurasi panjang hingga yield global mulai stabil. Sebelum berinvestasi, periksa durasi, komposisi surat utang, kualitas penerbit, biaya, serta profil risiko pada fund fact sheet.
Seri | Tenor | Kupon tetap | Masa penawaran |
SR025-T3 | 3 tahun | 6,8% per tahun | Hingga 16 Sep 2026 |
SR025-T5 | 5 tahun | 6,9% per tahun | Hingga 16 Sep 2026 |
Sumber: DJPPR Kemenkeu
Kupon SR025 tetap selama investor memegangnya hingga jatuh tempo. Jika dijual sebelum jatuh tempo di pasar sekunder, harga dan likuiditas dapat berubah. SR025 menawarkan imbal hasil Sukuk Ritel tertinggi sejak 2020. Masa penawaran SR025 sejak 21 Agustus dan berakhir pada 16 September, atau hanya tinggal 2 hari masa penawaran.
Harga emas masih volatil menjelang rapat FOMC pada 15–16 September. Data CME FedWatch menunjukkan peluang atau probabilitas kenaikan suku bunga The Fed sebesar 25 bps pada 16 September mencapai 86,5%.
Tekanan yield dan ekspektasi suku bunga tinggi dapat membatasi emas, meski ketidakpastian geopolitik tetap mendukung permintaan aset aman. Investor jangka panjang dapat menerapkan pembelian bertahap saat harga terkoreksi atau dollar-cost averaging (DCA).
Harga Beli Emas Digital
Platform | Harga beli per gram |
Treasury | Rp2.508.086 |
Pegadaian | Rp2.483.000 |
Indogold | Rp2.433.456 |
Sumber: fitur Bareksa Emas per 14/9/2026 pagi
Sinyal pasar terkuat berasal dari kombinasi harga minyak yang tinggi dan yield obligasi global yang mendekati level puncak. Investor dapat menjaga likuiditas melalui reksadana pasar uang, mencermati reksadana pendapatan tetap secara bertahap dengan durasi terukur, serta mempertimbangkan SR025 untuk kupon tetap. Emas dapat digunakan sebagai diversifikasi dengan strategi pembelian bertahap.
Bareksa adalah pioneer aplikasi investasi SBN resmi yang memudahkan pembelian obligasi negara seperti ORI, SR, ST, dan SBR. Kamu dapat membandingkan imbal hasil, memahami risiko, dan mengikuti jadwal penerbitan dengan jelas. Cocok untuk investor yang mencari investasi aman dengan dukungan negara, semuanya tersedia dalam satu aplikasi investasi terpercaya.
Bareksa adalah pioneer aplikasi investasi reksa dana terpercaya yang telah berizin OJK sejak 2016. Dengan 160+ produk reksadana dari 35 manajer investasi, kamu bisa memilih sesuai tujuan dan profil risiko. Dilengkapi fitur pembanding performa, riset pasar, dan rekomendasi ahli, Bareksa membantu kamu mulai investasi reksadana dengan mudah, aman, dan terarah dalam satu aplikasi.
(Sigma Kinasih CTA, CFP/Ni Putu Kurniasari/AM)
Tentang Penulis
* Sigma Kinasih adalah Investment Strategist Bareksa dengan pengalaman lebih dari 12 tahun di industri pasar modal. Memegang lisensi WMI, WPPE, CTA, dan CFP, ia berfokus pada riset makroekonomi, strategi portofolio, serta analisis reksadana, saham, emas dan SBN. Sigma meraih gelar Magister Ekonomi dari Universitas Trisakti.
DISCLAIMER
Investasi mengandung risiko dan seluruhnya menjadi tanggung jawab pribadi. Bareksa membuat informasi ini dari materi dan sumber-sumber terpercaya, serta tidak dipengaruhi pihak manapun. Informasi ini bukan merupakan ajakan, ataupun paksaan untuk melakukan transaksi dan Bareksa tidak memberikan jaminan atas transaksi yang dilakukan.
Investasi melalui reksa dana mengandung risiko. Calon pemodal wajib membaca dan memahami prospektus sebelum memutuskan untuk berinvestasi melalui reksa dana. Kinerja masa lalu tidak mencerminkan kinerja masa datang.
Kenaikan minyak meningkatkan risiko inflasi, sementara pasokan utang pemerintah dan korporasi yang besar membuat investor meminta imbal hasil lebih tinggi.
Masih dapat dicermati untuk horizon menengah, tetapi NAB dapat berfluktuasi. Perhatikan durasi dan kualitas kredit sebelum berinvestasi.
Kuponnya tetap, tetapi harga dan likuiditas dapat berubah jika dijual di pasar sekunder sebelum jatuh tempo.