
Bareksa - Brent melonjak 6,3% menjadi US$107,63 per barel dan WTI naik 6,7% menjadi US$102,48 pada Kamis (10/9). Pada Jumat pagi, Brent sekitar US$108,68 dan WTI US$103,45. Keduanya berpeluang menutup pekan di atas US$100, pertama sejak pertengahan Mei.
Kenaikan minyak dan PPI Amerika Serikat yang naik 0,4% secara bulanan serta 5,4% secara tahunan mendorong yield UST 10 tahun ke 4,969% pada 10 September, mendekati 5%. Pasar berjangka memperkirakan peluang kenaikan Fed Rate 25 basis poin pada pertemuan 15-16 September sekitar 64%-71%.
Di dalam negeri, IHSG turun 1,33% ke 6.589,30 pada 10 September. Laporan Ciptadana mencatat net sell asing sekitar Rp1,9 triliun. Yield SBN 10 tahun berada di sekitar 7,10%, sedangkan rupiah sekitar Rp17.595 per dolar AS. Emas spot turun ke US$4.315,25 per ons.
Sinyal pasar dominan: minyak di atas US$100, PPI AS panas, dan yield UST tinggi memperkuat risiko higher for longer.
IHSG: tekanan jangka pendek meningkat; Ciptadana memperkirakan rentang 6.476-6.642.
Reksadana pasar uang: menjaga likuiditas ketika arah pasar belum jelas.
Reksadana pendapatan tetap: dicermati bertahap dengan memperhatikan durasi dan kualitas kredit.
SR025: kupon tetap 6,8% untuk T3 dan 6,9% untuk T5 hingga 16 September 2026.
Emas: diversifier, tetapi tetap sensitif terhadap yield dan Fed Rate.
Indikator | Data per 10/9 | Keterangan |
Brent | US$107,63/barel | Naik 6,3%; risiko inflasi energi |
WTI | US$102,48/barel | Naik 6,7%; risiko gangguan pasokan |
Yield UST 10Y | 4,969% | Mendekati 5%; tertinggi sejak akhir 2023 |
Yield SBN 10Y | 7,096% | Naik tipis dari 7,095% |
Spread SBN-UST | 2,127 poin persentase | Selisih indikatif penutupan |
IHSG | 6.589,30 | Turun 1,33%; net sell asing Rp1,9 triliun |
USD/IDR | Rp17.595,1 | Rupiah melemah 0,51% pada Investing |
Emas spot | US$4.315,25/oz | Turun 1,96%; tertekan yield |
Sumber: Investing, riset Ciptadana Sekuritas, Reuters, Kitco diolah
Sumber: Investing, diolah
Grafik dinormalisasi ke indeks 100 pada awal periode agar instrumen berbeda satuan dapat dibandingkan. Kenaikan USD/IDR berarti rupiah melemah.
Reuters melaporkan serangan di jalur pelayaran Timur Tengah meningkatkan kekhawatiran gangguan pasokan. Brent dan WTI naik sekitar 13% dalam sepekan. Kenaikan berkepanjangan dapat mendorong inflasi dan menekan obligasi berdurasi panjang serta saham bervaluasi tinggi.
Indeks Harga Produsen (PPI) AS yang meningkat memperkuat ekspektasi pengetatan The Fed. Yield UST yang lebih tinggi dapat menekan aset negara berkembang, tetapi yield SBN juga dipengaruhi permintaan domestik, arus asing, likuiditas, dan persepsi risiko Indonesia.
Reksadana pendapatan tetap dapat dicermati investor berhorizon menengah dengan akumulasi bertahap. Durasi, risiko kredit, dan likuiditas perlu diperiksa dalam fund fact sheet.
Reksadana Pendapatan Tetap | Return 1 bulan | Return 1 tahun |
Syailendra Sharia Fixed Income Fund Kelas A | 1,42% | 7,26% |
Trimegah Dana Obligasi Nusantara | 1,21% | 6,64% |
Allianz USD Fixed Income Fund Kelas A | 0,03% | 1,60% |
STAR Fixed Income NEO AI Dollar | 0,07% | 3,16% (6 Bulan) |
Sumber: Bareksa, kinerja per 10/9/2026
Reksadana pasar uang dapat digunakan untuk dana jangka pendek atau tempat parkir sementara. Produk USD memiliki tambahan risiko kurs jika kebutuhan investor dalam rupiah.
Reksadana Pasar Uang | Return 1 bulan | Return 1 tahun |
Insight Money | 0,47% | 5,16% |
Syailendra Dana Kas | 0,45% | 4,62% |
BRI Seruni Likuid Dolar | 0,21% | 3,17% |
Mandiri Money Market USD | 0,20% | 2,58% |
Sumber: Bareksa, kinerja per 10/9/2026 . Kinerja historis bukan jaminan hasil masa depan.
Fitur | SR025-T3 | SR025-T5 |
Tenor | 3 tahun | 5 tahun |
Kupon tetap | 6,8% per tahun | 6,9% per tahun |
Masa penawaran | 21 Agustus-16 September 2026 | 21 Agustus-16 September 2026 |
Sumber: DJPPR Kemenkeu
SR025 dapat dicermati investor yang membutuhkan kupon tetap dan mampu menahan investasi sesuai tenor. Imbal hasilnya di level tertinggi untuk kupon Sukuk Ritel sejak 2020. SR025 bisa dijual di pasar sekunder setelah masa minimum holding period (MHP) pada 11 Oktober 2026.
Penjualan sebelum jatuh tempo menghadapi risiko perubahan harga dan likuiditas di pasar sekunder. Investor juga perlu mencermati masa penawaran hanya tersisa 5 hari.
Emas spot turun hampir 6% dalam dua pekan dan ditutup US$4.315,25 per ons pada 10 September. Arus dana masuk ETF emas global US$18 miliar pada Agustus menunjukkan permintaan tetap ada, tetapi kenaikan yield Treasury meningkatkan biaya peluang memegang aset tanpa kupon. Investor jangka panjang dapat membeli bertahap saat koreksi.
Platform | Harga beli emas digital per gram |
Treasury | Rp2.496.520 |
Pegadaian | Rp2.501.000 |
Indogold | Rp2.466.996 |
Sumber: fitur Bareksa Emas, per 11/9/2026 pagi
Lonjakan minyak, data PPI AS yang panas, dan yield UST mendekati 5% memperkuat volatilitas global. Investor dapat menjaga likuiditas melalui reksadana pasar uang, mencermati reksadana pendapatan tetap secara bertahap, mempertimbangkan SR025 untuk kupon tetap, dan menggunakan emas sebagai diversifier sesuai tujuan serta toleransi risiko.
Bareksa adalah pioneer aplikasi investasi SBN resmi yang memudahkan pembelian obligasi negara seperti ORI, SR, ST, dan SBR. Kamu dapat membandingkan imbal hasil, memahami risiko, dan mengikuti jadwal penerbitan dengan jelas. Cocok untuk investor yang mencari investasi aman dengan dukungan negara, semuanya tersedia dalam satu aplikasi investasi terpercaya.
(Sigma Kinasih CTA, CFP/Ni Putu Kurniasari/AM)
Tentang Penulis
* Sigma Kinasih adalah Investment Strategist Bareksa dengan pengalaman lebih dari 12 tahun di industri pasar modal. Memegang lisensi WMI, WPPE, CTA, dan CFP, ia berfokus pada riset makroekonomi, strategi portofolio, serta analisis reksadana, saham, emas dan SBN. Sigma meraih gelar Magister Ekonomi dari Universitas Trisakti.
DISCLAIMER
Investasi mengandung risiko dan seluruhnya menjadi tanggung jawab pribadi. Bareksa membuat informasi ini dari materi dan sumber-sumber terpercaya, serta tidak dipengaruhi pihak manapun. Informasi ini bukan merupakan ajakan, ataupun paksaan untuk melakukan transaksi dan Bareksa tidak memberikan jaminan atas transaksi yang dilakukan.
Investasi melalui reksa dana mengandung risiko. Calon pemodal wajib membaca dan memahami prospektus sebelum memutuskan untuk berinvestasi melalui reksa dana. Kinerja masa lalu tidak mencerminkan kinerja masa datang.
Tidak. Dampaknya bergantung pada durasi kenaikan minyak, inflasi, suku bunga, arus asing, dan komposisi sektor IHSG.
Emas dapat menjadi diversifier jangka panjang. Pembelian bertahap mengurangi risiko masuk pada satu harga, tetapi tidak menghilangkan risiko penurunan.