
Bareksa — Harga minyak dunia melonjak ke level tertinggi dalam enam pekan pada Selasa (8/9), setelah serangan Houthi terhadap fasilitas energi Saudi Aramco dan meningkatnya ancaman eskalasi dari Iran memicu kekhawatiran gangguan pasokan. Brent sempat menyentuh US$99 per barel sebelum ditutup di US$97,92 (0,9%), sementara WTI naik 1,7% ke US$93,03 - masing-masing penutupan tertinggi sejak akhir Juli dan awal Juni.
Lonjakan harga minyak turut memperkuat ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed pada pertemuan FOMC 15-16 September, dengan probabilitas kenaikan menurut CME FedWatch mencapai sekitar 60%. Di tengah tekanan itu, pasar domestik menunjukkan ketahanan relatif dengan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang menguat dan rupiah yang stabil.
Ringkasan untuk Investor
|
Serangan Houthi menyasar sejumlah fasilitas di empat kota selatan Arab Saudi dan dilaporkan melukai lebih dari 70 orang. Ketegangan ini melanjutkan rangkaian gangguan pasokan di Timur Tengah sejak awal tahun, termasuk serangan terhadap kapal tanker di sekitar Selat Hormuz - jalur yang sebelumnya dilalui sekitar 20% pasokan minyak dunia, meski arus lalu lintasnya kini jauh berkurang.
Goldman Sachs menaikkan proyeksi harga minyak untuk akhir 2026 dan 2027, sembari memperingatkan Brent berpotensi menembus US$120 per barel apabila gangguan pasokan berlanjut.
Sumber: Investing, diolah Bareksa, indeks 100= awal peiode
Kenaikan harga minyak turut menekan bursa saham global. Wall Street ditutup melemah Selasa (8/9) - Dow Jones turun 1,18% ke 52.786,07, S&P 500 turun 0,58% ke 7.673,52, dan Nasdaq turun 0,32% ke 26.421,41 - di tengah kekhawatiran inflasi menjelang rilis data PPI (10/9) dan CPI (11/9) AS. Bursa Asia turut mayoritas memerah, dipimpin Nikkei 225 yang anjlok 1,7%, disusul Topix -1,83%, Kospi -0,58%, dan S&P/ASX 200 -1%.
Indikator | Data terbaru | Pembanding | Makna bagi investor |
Yield SBN RI 10Y | 7,088% (8 Sep) | 7,088% (7 Sep) | Flat 2 hari beruntun; ruang capital gain jangka pendek terbatas |
Yield UST 10Y | 4,792% (8 Sep) | 4,792% (7 Sep) | Flat; tekanan eksternal relatif stabil hari ini |
Spread SBN-UST | 229,6 bps (8 Sep) | 229,6 bps (7 Sep) | Tidak berubah |
USD/IDR | Rp17.593,9 (8 Sep) | Rp17.635,0 (7 Sep) | Rupiah menguat 0,23% |
Emas spot | US$4.355,55/oz (8 Sep) | US$4.423,16 (7 Sep) | Koreksi 1,53%; tertekan ekspektasi Fed hike |
Brent Crude | US$97,92/bbl (8 Sep) | Sempat US$99 | Tertinggi 6 pekan; risiko pasokan Timur Tengah |
Sumber: Investing.com; diolah Bareksa
Di tengah pelemahan bursa regional, IHSG justru menguat 1,01% ke posisi 6.686,44 pada perdagangan Selasa (8/9), didukung net buy asing Rp398,12 miliar dengan saham perbankan (BBCA, BBRI) dan pertambangan (AMMN) sebagai net buy terbesar. Sejumlah analis teknikal memperkirakan IHSG berpotensi menguji level 6.700-6.755 pada perdagangan berikutnya, ditopang membaiknya cadangan devisa Agustus dan penguatan harga komoditas.
Di pasar valuta asing, rupiah menguat tipis 0,23% ke Rp17.593,9 per dolar AS (8/9), berlawanan arah dengan tren pelemahan mata uang kawasan akibat penguatan dolar AS. Faktor domestik ini untuk sementara mampu menahan tekanan eksternal dari lonjakan harga minyak.
Harga emas spot bergerak berlawanan arah dengan minyak, terkoreksi 1,53% ke US$4.355,55 per ons pada Selasa (8/9) - penurunan ini terjadi karena ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed lebih mendominasi ketimbang permintaan aset aman akibat gejolak geopolitik. Meski demikian, permintaan struktural bank sentral tetap menjadi penopang jangka panjang: People's Bank of China menambah cadangan emas sebesar 20,2 ton pada Agustus, pembelian bulanan terbesar sejak Oktober 2023, sehingga total cadangan emas resmi China kini mencapai sekitar 2.387 ton.
Platform | Harga per gram |
Treasury | Rp2.512.597 |
Pegadaian | Rp2.514.000 |
Indogold | Rp2.477.832 |
Sumber: Bareksa Emas per 9/9/2026 pagi
Sukuk Ritel seri SR025 memasuki pekan terakhir masa penawaran, yang akan ditutup pada 16 September 2026 pukul 10.00 WIB. SR025-T3 (tenor 3 tahun) menawarkan kupon tetap 6,8% per tahun, sedangkan SR025-T5 (tenor 5 tahun) sebesar 6,9% per tahun, keduanya dibayarkan setiap bulan. Dengan sisa waktu penawaran kurang dari sepekan, investor yang berminat mengunci imbal hasil tetap disarankan tidak menunda keputusan, mengingat kuota pemesanan dapat habis sebelum masa penawaran resmi berakhir.
Fitur | SR025-T3 | SR025-T5 |
Tenor / jatuh tempo | 3 tahun / 10 Sep 2029 | 5 tahun / 10 Sep 2031 |
Kupon tetap | 6,8% per tahun | 6,9% per tahun |
Minimal pemesanan | Rp1 juta | Rp1 juta |
Maksimal pemesanan | Rp5 miliar | Rp10 miliar |
Mulai dapat diperdagangkan | 11 Oktober 2026 | 11 Oktober 2026 |
Sumber: DJPPR Kemenkeu, diolah Bareksa
Yield SBN 10 tahun RI relatif stabil di 7,088% sepanjang dua hari terakhir, sehingga ruang capital gain jangka pendek untuk reksadana pendapatan tetap (RDPT) cenderung terbatas dibanding beberapa hari sebelumnya. Namun demikian, reksadana pendapatan tetap masih relevan bagi investor dengan horizon menengah yang ingin memanfaatkan tingkat kupon domestik yang masih menarik.
Reksadana Pendapatan Tetap | Return 1 Bulan | Return 1 Tahun |
Syailendra Sharia Fixed Income Fund Kelas A | 1,39% | 7,28% |
Trimegah Dana Obligasi Nusantara | 1,33% | 6,68% |
Allianz USD Fixed Income Fund Kelas A | 0,15% | 1,6% |
STAR Fixed Income NEO AI Dollar | 0,19% | 3,11% (6 bln) |
Sumber: Bareksa.com, return per 7/9/2026
Kinerja masa lalu tidak mencerminkan atau menjamin kinerja masa depan.
Di tengah volatilitas pasar akibat lonjakan harga minyak dan ketegangan geopolitik, reksa dana pasar uang (RDPU) tetap menjadi andalan untuk kebutuhan likuiditas jangka pendek dengan risiko relatif rendah.
Reksadana Pasar Uang | Return 1 Tahun |
Insight Money | 5,21% |
Syailendra Dana Kas | 4,69% |
BRI Seruni Likuid Dolar | 3,19% |
Mandiri Money Market USD | 2,61% |
Sumber: Bareksa.com, kinerja per 7/9/2026
Kebutuhan | Instrumen yang dapat dicermati | Risiko utama |
Likuiditas jangka pendek | Reksadana pasar uang rupiah atau dolar AS sesuai kebutuhan mata uang | Imbal hasil menurun saat suku bunga turun; risiko nilai tukar untuk produk USD |
Pendapatan dan potensi capital gain | Reksadana pendapatan tetap dengan durasi sesuai profil risiko | Yield dapat naik kembali; nilai investasi berfluktuasi |
Arus kas tetap | SR025-T3 atau SR025-T5 | Risiko harga jika dijual sebelum jatuh tempo; likuiditas pasar sekunder |
Diversifikasi jangka panjang | Emas melalui pembelian bertahap | Harga volatil dan tidak menghasilkan kupon |
Lonjakan harga minyak akibat gejolak geopolitik Timur Tengah menjadi sentimen dominan yang menekan Wall Street dan sebagian besar bursa Asia, serta memperkuat ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed. Namun pasar domestik menunjukkan ketahanan relatif - IHSG menguat, rupiah stabil, dan yield SBN tidak banyak bergerak. Bagi investor, SR025 yang memasuki pekan terakhir masa penawaran layak dipertimbangkan bagi yang mencari kepastian kupon, reksadana pasar uang tetap relevan untuk kebutuhan likuiditas, reksadana pendapatan tetap cocok bagi horizon menengah, sementara emas dapat dicermati sebagai diversifier jangka panjang dengan strategi pembelian bertahap saat koreksi.
Bareksa adalah pioneer aplikasi investasi SBN resmi yang memudahkan pembelian obligasi negara seperti ORI, SR, ST, dan SBR. Kamu dapat membandingkan imbal hasil, memahami risiko, dan mengikuti jadwal penerbitan dengan jelas. Cocok untuk investor yang mencari investasi aman dengan dukungan negara, semuanya tersedia dalam satu aplikasi investasi terpercaya.
(Sigma Kinasih CTA, CFP/Ni Putu Kurniasari/AM)
Tentang Penulis
* Sigma Kinasih adalah Investment Strategist Bareksa dengan pengalaman lebih dari 12 tahun di industri pasar modal. Memegang lisensi WMI, WPPE, CTA, dan CFP, ia berfokus pada riset makroekonomi, strategi portofolio, serta analisis reksadana, saham, emas dan SBN. Sigma meraih gelar Magister Ekonomi dari Universitas Trisakti.
DISCLAIMER
Investasi mengandung risiko dan seluruhnya menjadi tanggung jawab pribadi. Bareksa membuat informasi ini dari materi dan sumber-sumber terpercaya, serta tidak dipengaruhi pihak manapun. Informasi ini bukan merupakan ajakan, ataupun paksaan untuk melakukan transaksi dan Bareksa tidak memberikan jaminan atas transaksi yang dilakukan.
Investasi melalui reksa dana mengandung risiko. Calon pemodal wajib membaca dan memahami prospektus sebelum memutuskan untuk berinvestasi melalui reksa dana. Kinerja masa lalu tidak mencerminkan kinerja masa datang.
Harga minyak melonjak setelah serangan Houthi ke fasilitas Saudi Aramco dan meningkatnya ketegangan dengan Iran memicu kekhawatiran gangguan pasokan. Brent sempat menyentuh US$99/barel, level tertinggi 6 pekan. Kenaikan ini turut mendorong ekspektasi inflasi dan kenaikan suku bunga The Fed, sehingga menekan Wall Street dan sebagian besar bursa Asia.
IHSG ditopang net buy asing Rp398,12 miliar terutama di saham perbankan besar, membaiknya cadangan devisa Agustus, dan penguatan harga komoditas seperti batu bara dan tembaga. Faktor domestik ini untuk sementara mampu menahan tekanan eksternal dari lonjakan harga minyak dan penguatan dolar AS.
Ya. Koreksi harga emas saat ini lebih dipicu penguatan ekspektasi suku bunga The Fed, bukan pelemahan permintaan jangka panjang. Pembelian bank sentral tetap kuat, tercermin dari pembelian PBoC 20,2 ton pada Agustus. Investor jangka panjang dapat memanfaatkan koreksi untuk strategi beli bertahap (DCA).
SR025 memasuki pekan terakhir masa penawaran yang akan ditutup 16 September 2026 pukul 10.00 WIB. Investor yang berminat disarankan tidak menunda keputusan karena kuota pemesanan dapat habis sebelum masa penawaran resmi berakhir.
Reksadana pasar uang cocok untuk kebutuhan likuiditas jangka pendek dengan risiko rendah. Reksadana pendapatan tetap cocok untuk horizon menengah dengan potensi capital gain saat yield SBN bergerak turun. SR025 memberi kepastian kupon tetap hingga jatuh tempo, namun kurang likuid dibanding reksa dana jika dijual sebelum jatuh tempo di pasar sekunder.