
Bareksa - Yield Surat Berharga Negara (SBN) 10 tahun naik dari 6,99% menjadi 7,229% pada Rabu (2/9/2026), menurut Investing.com. Kenaikan 23,9 basis poin dalam sehari menunjukkan tekanan jual pada obligasi karena harga dan yield bergerak berlawanan arah.
Tekanan diperkuat kenaikan Brent 1,04% ke US$95,6 dan WTI 0,88% ke US$91 per barel. Konflik AS-Iran meningkatkan kekhawatiran gangguan pasokan, sementara stok minyak mentah AS turun 4,5 juta barel. Minyak yang lebih mahal dapat menjaga tekanan inflasi dan membatasi ruang penurunan suku bunga. Yield UST 10 tahun juga masih tinggi di 4,794%.
Inflasi Indonesia naik dari 2,88% menjadi 3,19% secara tahunan pada Agustus. Meski demikian, rupiah menguat ke sekitar Rp17.695 per dolar AS dan IHSG naik sekitar 0,5% pada Kamis pagi. Artinya, tekanan obligasi belum berubah menjadi pelemahan menyeluruh pada aset domestik.
Sinyal pasar terkuat hari ini adalah tekanan minyak dan yield: Brent mencapai US$95,6 per barel, sedangkan yield SBN 10 tahun melonjak ke 7,229%.
Reksadana Pasar Uang menjadi fokus taktis: digunakan untuk menjaga likuiditas, bukan sebagai pelindung langsung dari pelemahan rupiah.
Reksadana pendapatan tetap dapat diakumulasi bertahap: sensitivitas terhadap lonjakan yield bergantung pada jenis obligasi dan durasi portofolionya.
SR025 memberi kepastian kupon: 6,8% untuk T3 dan 6,9% untuk T5 sampai jatuh tempo.
Emas tetap sebagai diversifikasi: harganya rebound, tetapi volatilitas masih tinggi.
Sumber: investing.com
*Grafik memakai indeks basis 100 agar lima seri berbeda satuan dapat dibandingkan. Angka terakhir merupakan data penutupan 2 September. Kenaikan USD/IDR berarti rupiah melemah.
Kenaikan minyak dapat meningkatkan biaya energi dan inflasi impor. Kondisi ini membuat investor meminta yield obligasi lebih tinggi untuk mengompensasi risiko inflasi. Sinyal hawkish Ketua The Fed Kevin Warsh dari Jackson Hole serta data tenaga kerja AS yang akan datang turut menjaga kehati-hatian pasar.
Harga komoditas
Indikator | Posisi 2 September | Perubahan |
Brent | US$95,6 per barel | +1,04% |
WTI | US$91 per barel | +0,88% |
Stok minyak mentah AS | Turun 4,5 juta barel | Menopang harga |
Sumber: riset Ciptadana Sekuritas
1. Reksadana Pasar Uang untuk Menjaga Likuiditas
Reksadana Pasar Uang | Return 1 Tahun |
Insight Money | 5,17% |
Syailendra Dana Kas | 4,64% |
BRI Seruni Likuid Dolar | 3,17% |
Mandiri Money Market USD | 2,59% |
Sumber: Bareksa, kinerja per 2/9/2026
Reksadana pasar uang sesuai untuk dana jangka pendek atau dana tunggu sebelum masuk bertahap ke obligasi. Produk USD lebih sesuai bagi investor yang memang memiliki kebutuhan dolar AS karena perubahan USD/IDR tetap dapat memengaruhi nilai investasi dalam rupiah.
2. Akumulasi reksadana pendapatan tetap secara Bertahap
Reksadana pendapatan tetap | Return 1 Bulan | Return 1 Tahun |
Syailendra Sharia Fixed Income Fund Kelas A | 1,43% | 7,15% |
Danamas Stabil | 0,46% | 6,35% |
Allianz USD Fixed Income Fund Kelas A | 0,18% | 1,72% |
STAR Fixed Income NEO AI Dollar | 0,54% | 1,98% (6 bulan) |
Sumber: Bareksa, kinerja per 2/9/2026
Syailendra Sharia Fixed Income Fund didominasi sukuk korporasi berdurasi pendek, dengan SBSN sebagai penyeimbang. Karakter ini membuat sensitivitasnya terhadap perubahan suku bunga relatif lebih rendah dibanding obligasi pemerintah berdurasi panjang.
Danamas Stabil memiliki mandat lebih luas pada obligasi pemerintah dan korporasi; alokasi obligasi pemerintah dapat mencapai 100%, sehingga potensi respons terhadap penurunan yield bergantung pada komposisi dan durasi terbarunya.
Kinerja produk USD memiliki periode berbeda sehingga tidak dibandingkan langsung. Yield UST yang masih tinggi dapat menekan obligasi USD, sementara STAR Fixed Income NEO AI Dollar juga memiliki eksposur saham AS. Investor perlu mencermati risiko NAB dan kurs.
3. SR025 untuk Mengunci Kupon Tetap
Seri | Tenor | Kupon Tetap | Masa Penawaran |
SR025-T3 | 3 tahun | 6,8% per tahun | Hingga 16 September 2026 |
SR025-T5 | 5 tahun | 6,9% per tahun | Hingga 16 September 2026 |
Sumber: DJPPR Kemenkeu
Berbeda dari reksadana pendapatan tetap, SR025 benar-benar memberikan kupon tetap sampai jatuh tempo. Pokok dan imbalannya dijamin negara sesuai ketentuan. Setelah minimum holding period pada 11 Oktober 2026, SR025 dapat diperdagangkan dengan harga yang bisa berada di atas atau di bawah nilai nominal. Artinya investor berpotensi meraih capital gain atau capital loss.
4. Emas sebagai Diversifikasi Bertahap
Emas rebound 1,3% ke US$4.385,74 per ons pada 2 September setelah koreksi tajam. Pelemahan dolar AS mendukung harga, tetapi yield UST yang tinggi masih menjadi tekanan. Investor dapat melakukan pembelian bertahap sesuai target alokasi.
Platform | Harga Beli per Gram |
Treasury | Rp2.569.813 |
Pegadaian | Rp2.521.000 |
Indogold | Rp2.428.296 |
Sumber: fitur Bareksa Emas, Harga per 3 September 2026 pagi.
Sinyal pasar belum satu arah. Reksadana pasar uang menjadi fokus taktis untuk likuiditas, sedangkan reksadana pendapatan tetap dapat diakumulasi bertahap sesuai komposisi dan durasinya. SR025 cocok untuk investor yang membutuhkan kupon tetap, sementara emas tetap menjadi diversifikasi dengan porsi terukur.
Bareksa adalah pioneer aplikasi investasi SBN resmi yang memudahkan pembelian obligasi negara seperti ORI, SR, ST, dan SBR. Kamu dapat membandingkan imbal hasil, memahami risiko, dan mengikuti jadwal penerbitan dengan jelas. Cocok untuk investor yang mencari investasi aman dengan dukungan negara, semuanya tersedia dalam satu aplikasi investasi terpercaya.
(Sigma Kinasih CTA, CFP/Ni Putu Kurniasari/AM)
Tentang Penulis
* Sigma Kinasih adalah Investment Strategist Bareksa dengan pengalaman lebih dari 12 tahun di industri pasar modal. Memegang lisensi WMI, WPPE, CTA, dan CFP, ia berfokus pada riset makroekonomi, strategi portofolio, serta analisis reksadana, saham, emas dan SBN. Sigma meraih gelar Magister Ekonomi dari Universitas Trisakti.
DISCLAIMER
Investasi mengandung risiko dan seluruhnya menjadi tanggung jawab pribadi. Bareksa membuat informasi ini dari materi dan sumber-sumber terpercaya, serta tidak dipengaruhi pihak manapun. Informasi ini bukan merupakan ajakan, ataupun paksaan untuk melakukan transaksi dan Bareksa tidak memberikan jaminan atas transaksi yang dilakukan.
Investasi melalui reksa dana mengandung risiko. Calon pemodal wajib membaca dan memahami prospektus sebelum memutuskan untuk berinvestasi melalui reksa dana. Kinerja masa lalu tidak mencerminkan kinerja masa datang.
Tidak langsung. NAB dapat turun saat yield naik, tetapi level yield yang lebih tinggi dapat menciptakan titik akumulasi jika kemudian melandai.
Tidak. Yield portofolio dan NAB berubah mengikuti pasar. Kupon tetap dapat dikunci melalui SR025.
Tidak otomatis. Produk USD tetap menghadapi risiko perubahan kurs ketika nilainya dihitung dalam rupiah.