Bareksa Insight: Geopolitik Panas, The Fed Hawkish, Ini Jurus Investasi Reksadana Pendapatan Tetap

Abdul Malik • 02 Sep 2026

an image
Ilustrasi kebijakan hawkish dan peluang kenaikan Bank Sentral Amerika Serikat (The Fed) berpengaruh ke pasar modal global, termasuk IHSG, reksadana, emas dan SBN. (Shutterstock)

Yield SBN turun ke 6,99% saat yield UST naik ke 4,786% dan konflik AS-Iran mengerek minyak. Simak strategi investasi reksadana pendapatan tetap, SR025, reksadana pasar uang dan emas.

Bareksa - Yield Surat Berharga Negara (SBN) 10 tahun berada di 6,99% pada 1 September 2026, turun sekitar 38 basis poin sepanjang Agustus. 

Sebaliknya, yield US Treasury 10 tahun naik ke 4,786%, nyaris menyentuh puncak 52 minggu 4,787%, setelah sikap hawkish Ketua The Fed Kevin Warsh menguatkan ekspektasi suku bunga tinggi.

Tekanan global bertambah ketika konflik AS-Iran mengerek Brent 2,71% ke US$90,49 dan WTI 2,83% ke US$85,76 per barel pada 31 Agustus. Kenaikan harga minyak dapat memanaskan inflasi dan membatasi ruang pelonggaran moneter. Meski demikian, IHSG masih naik 0,82% ke 6.578,75 pada 1 September, sedangkan rupiah berada di sekitar Rp17.724,6 per dolar AS.

Ringkasan untuk Investor:

  • Yield SBN domestik melandai, sehingga berpotensi mendukung NAV reksadana pendapatan tetap berbasis obligasi pemerintah.

  • Kenaikan yield UST, harga minyak, dan risiko geopolitik masih dapat memicu volatilitas.

  • Akumulasi reksadana pendapatan tetap sebaiknya bertahap serta disesuaikan dengan durasi dan isi portofolionya.

  • SR025 dapat dicermati untuk mengunci kupon tetap sesuai horizon 3–5 tahun.

  • Reksadana pasar uang berfungsi menjaga likuiditas, sedangkan emas tetap menjadi diversifikasi dengan pembelian bertahap.

Mengapa SBN dan UST bergerak berlawanan?

Pasar obligasi Indonesia mendapat dukungan dari inflasi Juli yang terkendali di 2,88% dan sentimen domestik yang relatif terjaga. 

Di sisi lain, pasar obligasi AS menghadapi kombinasi sikap The Fed yang hawkish, risiko minyak, dan kekhawatiran fiskal. Peluang kenaikan Fed Rate untuk FOMC 28 Oktober kembali naik dari 57% pada 24 Agustus menjadi 75% pada 31 Agustus, menurut CME FedWatch.

Proyeksi CORE Indonesia dan KB Valbury memprediksi yield SBN 10 tahun di kisaran 6,9%-7,35% di akhir 2026. Karena posisi 6,99% sudah masuk rentang tersebut, ruang penurunan berikutnya diperkirakan lebih terbatas dan bertahap.

Strategi Investasi Reksadana Basi obligasi korporasi dan SBN

Penurunan yield umumnya mendorong harga obligasi naik dan dapat menopang NAB reksadana pendapatan tetap. Namun sensitivitas setiap produk berbeda. 

Reksadana pendapatan tetap basis obligasi korporasi mengandalkan pendapatan kupon sebagai penopang, tetapi tetap menghadapi risiko kredit, likuiditas, dan konsentrasi. 

Reksadana pendapatan tetap basis SBN tenor menengah-panjang lebih peka terhadap perubahan yield: peluang kenaikannya dapat lebih besar saat yield turun, tetapi koreksinya juga bisa lebih dalam ketika yield berbalik naik.

Kinerja Reksadana Pendapatan Tetap Basis Obligasi Korporasi

Produk

AUM

Return 1 Bulan

Return 1 Tahun

Trimegah Dana Obligasi Nusantara

Rp171 juta

0,75%

6,42%

Danamas Stabil

Rp16,49 triliun

0,43%

6,41%

Syailendra Sharia Fixed Income Fund A

Rp2,26 triliun

1,03%

6,44%

Sumber: Bareksa, kinerja per 31/8/2026

Kinerja Reksadana Pendapatan Tetap Basis SBN

Produk

AUM

Return 1 Bulan

Return 1 Tahun

Majoris Sukuk Negara Indonesia

Rp282 juta

0,11%

5,05%

BNP Paribas Prima II Kelas RK1

Rp636 juta

-1,51%

1,59%

Allianz Fixed Income Fund 2 Kelas A

Rp88,46 juta

2,07%

1,47%

Sumber: Bareksa kinerja per 31/8/2026, Kinerja masa lalu tidak menjamin hasil masa mendatang.

Diversifikasi SR025 dan Reksadana Pasar Uang 

Sukuk Negara Ritel SR025 menawarkan kupon tetap tertinggi di antara seri Sukuk Ritel yang terbit sejak 2020. Kupon dibayarkan setiap bulan dan pokok serta imbalannya dijamin negara sesuai ketentuan. 

Investor tetap perlu menyesuaikan tenor dengan kebutuhan dana. Setelah minimum holding period pada 11 Oktober 2026, SR025 dapat diperdagangkan di pasar sekunder dengan harga yang dapat naik atau turun.

Seri

Tenor

Kupon Tetap

Masa Penawaran

SR025T3

3 tahun

6,8% per tahun

21 Agustus-16 September 2026

SR025T5

5 tahun

6,9% per tahun

21 Agustus-16 September 2026

Sumber: DJPPR Kemenkeu

Untuk dana jangka pendek, reksadana pasar uang dapat menjaga likuiditas tanpa harus menebak arah pasar obligasi.

Reksadana Pasar Uang

Return 1 Tahun

Insight Money

5,21%

STAR Money Market Kelas Utama

4,55%

Syailendra Dana Kas

4,68%

Majoris Pasar Uang Syariah Indonesia

4,51%

TRIM Kas 2 Kelas A

4,38%

Sumber: Bareksa, kinerja per 31/8/2026

Bagaimana dengan emas?

XAU/USD turun 3,18% pada 28 Agustus setelah pidato Warsh dan berada sekitar US$4.436,50 per ons pada 1 September. Kenaikan yield riil dan dolar menjadi tekanan jangka pendek, sedangkan geopolitik serta kekhawatiran fiskal tetap menopang prospek jangka menengah. 

Karena kedua sentimen berlawanan, pembelian bertahap lebih relevan daripada menentukan satu titik masuk.

Platform

Harga Beli per Gram

Treasury

Rp2.490.068

Pegadaian

Rp2.495.000

Indogold

Rp2.447.904

Sumber: fitur Bareksa Emas, harga per 2/9/2026

Kesimpulan

Investor tidak perlu memilih satu instrumen untuk semua kebutuhan. Reksadana pendapatan tetap dapat menjadi fokus untuk menangkap peluang dari yield domestik yang melandai, tetapi pemilihannya harus berdasarkan komposisi portofolio dan horizon. SR025 menawarkan kepastian kupon, reksadana pasar uang menjaga likuiditas, sedangkan emas melengkapi diversifikasi menghadapi risiko geopolitik.

Investasi di Aplikasi Reksadana Terbaik - Bareksa

Bareksa adalah pioneer aplikasi investasi reksa dana terpercaya yang telah berizin OJK sejak 2016. Dengan 160+ produk reksadana dari 35 manajer investasi, kamu bisa memilih sesuai tujuan dan profil risiko. Dilengkapi fitur pembanding performa, riset pasar, dan rekomendasi ahli, Bareksa membantu kamu mulai investasi reksadana dengan mudah, aman, dan terarah dalam satu aplikasi.

Investasi Reksadana di Sini

(Sigma Kinasih CTA, CFP/AM)

Tentang Penulis

* Sigma Kinasih adalah Investment Strategist Bareksa dengan pengalaman lebih dari 12 tahun di industri pasar modal. Memegang lisensi WMI, WPPE, CTA, dan CFP, ia berfokus pada riset makroekonomi, strategi portofolio, serta analisis reksadana, saham, emas dan SBN. Sigma meraih gelar Magister Ekonomi dari Universitas Trisakti.

DISCLAIMER​​​​​​​​

Investasi mengandung risiko dan seluruhnya menjadi tanggung jawab pribadi. Bareksa membuat informasi ini dari materi dan sumber-sumber terpercaya, serta tidak dipengaruhi pihak manapun. Informasi ini bukan merupakan ajakan, ataupun paksaan untuk melakukan transaksi dan Bareksa tidak memberikan jaminan atas transaksi yang dilakukan.

Investasi melalui reksa dana mengandung risiko. Calon pemodal wajib membaca dan memahami prospektus sebelum memutuskan untuk berinvestasi melalui reksa dana. Kinerja masa lalu tidak mencerminkan kinerja masa datang.

Pertanyaan Umum

Apakah yield SBN turun selalu membuat reksadana pendapatan tetap naik?

Tidak selalu. Dampaknya bergantung pada durasi, komposisi obligasi, risiko kredit, dan biaya pengelolaan setiap produk.

Mana yang lebih sensitif terhadap yield, reksadana pendapatan tetap obligasi korporasi atau SBN?

Reksadana pendapatan tetap basis SBN tenor panjang umumnya lebih sensitif. RDPT korporasi juga berfluktuasi dan memiliki risiko kredit serta likuiditas.

Apakah SR025 bisa dijual sebelum jatuh tempo?

Bisa setelah minimum holding period pada 11 Oktober 2026 di pasar sekunder. Harga jual dapat berada di atas atau di bawah nilai nominal.

Profil Penulis

Abdul Malik

Abdul Malik adalah Managing Editor Bareksa dengan pengalaman lebih dari 20 tahun di jurnalisme pasar modal. Memegang lisensi WPPE, ia fokus pada analisis pasar modal, saham, reksadana, SBN, emas dan edukasi keuangan, serta merupakan peraih beberapa fellowship internasional.