
Bareksa – Risiko geopolitik kembali menjadi tekanan utama pasar global. Harga minyak Brent naik 1,4% menjadi US$88,91 per barel pada Selasa (11/8/2026), sedangkan WTI naik 1,3% ke US$83,20 per barel, setelah Iran menyatakan Selat Hormuz akan tetap ditutup selama Amerika Serikat belum memenuhi persyaratan Teheran. Kedua harga acuan tersebut mencatat penutupan tertinggi sejak 31 Juli.
Selat Hormuz memiliki peran strategis karena sebelum perang sekitar 20% pasokan minyak global melewati jalur tersebut. Aktivitas pelayaran juga menyusut drastis dibanding sebelum konflik, sehingga pasar masih memasukkan premi risiko pasokan ke harga energi.
Tekanan ikut terasa di pasar saham. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) anjlok 1,53% ke 6.267,88 pada 11 Agustus, melanjutkan penurunan 0,69% sehari sebelumnya. Dalam dua hari perdagangan, indeks terkoreksi sekitar 2,2% dari penutupan Jumat 7 Agustus.
Di Wall Street, S&P 500 turun 0,4%, Nasdaq melemah 0,6%, dan Dow Jones terkoreksi 0,3% ketika investor mencermati kombinasi risiko Selat Hormuz dan data inflasi AS.
Investor saat ini bukan hanya menghadapi satu sumber volatilitas. Ada tiga katalis besar yang berpotensi menentukan arah pasar dalam waktu dekat:
Selat Hormuz dan harga minyak, yang berpotensi menghidupkan kembali tekanan inflasi global.
Inflasi AS, yang akan memengaruhi ekspektasi kebijakan suku bunga The Federal Reserve.
Review indeks MSCI, yang menjadi salah satu katalis penting bagi saham Indonesia dan arah aliran dana asing.
Kombinasi tersebut membuat strategi investasi tidak harus diarahkan hanya pada satu aset. Likuiditas dapat dijaga melalui reksadana pasar uang, peluang obligasi dapat dicermati melalui reksadana pendapatan tetap, sementara emas dapat berfungsi sebagai diversifikasi di tengah ketidakpastian geopolitik.
IHSG ditutup 6.267,88 pada Selasa, setelah sehari sebelumnya berada di 6.365,37 dan Jumat 7 Agustus masih di 6.409,65. Penurunan tersebut memperlihatkan sentimen risiko domestik kembali meningkat.
Pasar juga menanti hasil review MSCI yang dijadwalkan keluar Kamis dini hari, 13 Agustus 2026. Perubahan komposisi indeks berpotensi memengaruhi saham tertentu melalui penyesuaian portofolio dana yang mengikuti indeks MSCI.
Karena itu, investor dengan profil lebih konservatif dapat mempertimbangkan mempertahankan sebagian dana pada instrumen yang lebih likuid sembari menunggu arah pasar menjadi lebih jelas.
Di tengah koreksi IHSG dan kenaikan harga minyak, rupiah belum menunjukkan tekanan ekstrem. USD/IDR ditutup sekitar Rp17.827 per US$ pada 11 Agustus, melemah tipis 0,16%. Pada Rabu pagi, rupiah masih berada di kisaran Rp17.828 per US$.
Stabilitas rupiah menjadi faktor penting karena kenaikan minyak dunia dapat meningkatkan kebutuhan valuta asing untuk impor energi apabila berlangsung berkepanjangan.
Yield SBN tenor 10 tahun naik ke 7,226% pada 11 Agustus, dari 7,188% sehari sebelumnya. Kenaikan yield berarti harga obligasi bergerak berlawanan atau tertekan. Namun bagi investor yang memiliki horizon lebih panjang, level yield yang kembali naik juga dapat membuka titik masuk yang lebih menarik apabila pasar obligasi kembali stabil.
Yield US Treasury tenor 10 tahun berada di sekitar 4,686%, sehingga selisih imbal hasil dengan SBN Indonesia masih sekitar 254 basis poin.
Investor perlu mengingat bahwa kenaikan yield lebih lanjut dapat menekan NAV reksadana pendapatan tetap dalam jangka pendek. Karena itu, strategi masuk bertahap dapat lebih relevan dibanding mengejar momentum.
Menjelang rilis data inflasi AS, review MSCI dan masih tingginya risiko geopolitik, reksadana pasar uang dapat menjadi salah satu alternatif untuk menempatkan dana yang belum ingin dialokasikan ke aset yang lebih volatil.
Reksadana Pasar Uang (Return 1 Tahun)
Produk | Return |
Insight Money | 5,20% |
Syailendra Dana Kas | 4,65% |
Sucorinvest Money Market USD | 3,48% |
BRI Seruni Likuid Dolar | 3,32% |
Sumber: Bareksa, kinerja berdasarkan NAV 11 Agustus 2026.
Reksadana berbasis dolar dapat dipertimbangkan investor yang memang memiliki kebutuhan atau tujuan investasi dalam dolar AS. Namun, investor tetap perlu mempertimbangkan risiko nilai tukar apabila sumber dana dan kebutuhan akhirnya menggunakan rupiah.
Kenaikan yield SBN ke sekitar 7,23% membuat reksadana pendapatan tetap rupiah tetap menarik untuk dipantau, terutama produk yang memiliki eksposur pada obligasi pemerintah.
Reksadana Pendapatan Tetap (Return 1 Tahun)
Produk | Return |
Allianz Fixed Income Fund 2 Kelas A | 0,75% |
BNP Paribas Prima II Kelas RK1 | 0,70% |
STAR Fixed Income NEO AI Dollar | 2,90% (6 bulan) |
Allianz USD Fixed Income Fund Kelas A | 1,84% |
Sumber: Bareksa, kinerja berdasarkan NAV 11 Agustus 2026.
Return historis yang rendah dalam satu tahun terakhir bukan jaminan kinerja berikutnya, tetapi kenaikan yield dapat menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan investor karena yield dan harga obligasi memiliki hubungan berlawanan.
Apabila yield kemudian turun, harga obligasi berpotensi naik dan dapat menjadi sentimen positif bagi NAV reksadana pendapatan tetap.
Investor dengan tujuan keuangan berbasis dolar juga dapat mencermati reksadana pendapatan tetap USD. Meski begitu, reksadana ini tetap memiliki risiko perubahan harga obligasi serta pergerakan pasar global.
Emas masih menunjukkan daya tahan di tengah gejolak geopolitik. Harga emas spot sempat mencapai US$4.435,47 per troy ounce pada 11 Agustus, tertinggi sejak awal Juni, sebelum terkoreksi 0,39% dan ditutup sekitar US$4.371,67 per ounce. Rabu pagi, emas kembali bergerak di sekitar US$4.380 per ounce.
Koreksi setelah kenaikan tajam tidak menghilangkan fungsi emas sebagai diversifikasi, tetapi sekaligus menunjukkan investor sebaiknya tidak menganggap aset safe haven selalu bergerak naik.
Harga emas tetap dapat dipengaruhi oleh:
arah suku bunga AS;
yield Treasury;
dolar AS;
geopolitik;
aksi ambil untung setelah reli.
Bagi investor jangka panjang, pembelian bertahap atau Dollar Cost Averaging (DCA) dapat dipertimbangkan untuk mengurangi risiko menentukan waktu masuk hanya berdasarkan pergerakan harga harian.
Harga Beli Emas Digital
Platform | Harga Beli per Gram |
Treasury | Rp2.571.999 |
Pegadaian | Rp2.601.000 |
Indogold | Rp2.562.972 |
Sumber: fitur Bareksa Emas per 12/8/2026 pagi
Harga antarpenyedia dapat berbeda karena masing-masing memiliki mekanisme penentuan harga, spread, biaya dan kebijakan operasional yang berbeda.
Kondisi saat ini menunjukkan satu pesan: diversifikasi kembali menjadi penting ketika arah pasar ditentukan oleh beberapa katalis sekaligus. Bagi investor yang mengutamakan likuiditas, reksadana pasar uang dapat digunakan sebagai tempat menunggu arah pasar lebih jelas.
Investor yang memiliki kebutuhan dolar dapat mempertimbangkan reksadana pasar uang USD, tanpa mengabaikan risiko kurs. Investor dengan horizon menengah dapat mencermati reksadana pendapatan tetap, terutama ketika yield SBN berada di level relatif tinggi, sedangkan reksadana pendapatan tetap USD dapat digunakan untuk diversifikasi mata uang sesuai tujuan investasi.
Sementara itu, emas dapat berfungsi sebagai pelengkap diversifikasi di tengah risiko geopolitik, tetapi kenaikan harga yang sudah tinggi membuat strategi bertahap lebih prudent dibanding mengejar harga.
Penutupan Selat Hormuz kembali menaikkan premi risiko pasar global. Brent sudah mencapai US$88,91 per barel, sementara IHSG terkoreksi 1,53% ke 6.267,88 pada 11 Agustus. Pasar sekarang menghadapi kombinasi tiga katalis: geopolitik dan minyak, inflasi AS, serta review MSCI.
Di tengah kondisi itu, tidak semua investor perlu mengambil posisi agresif. Reksadana pasar uang dapat dicermati untuk menjaga likuiditas, reksadana pendapatan tetap dapat memanfaatkan peluang dari yield SBN yang kembali berada di sekitar 7,23%, reksadana USD memberi alternatif diversifikasi dolar, sedangkan emas dapat menjadi pelengkap diversifikasi ketika risiko geopolitik tetap tinggi.
Yang paling penting, pilihan instrumen perlu disesuaikan dengan tujuan investasi, horizon dan profil risiko, bukan semata mengikuti pergerakan pasar dalam satu atau dua hari.
Bareksa adalah pioneer aplikasi investasi reksa dana terpercaya yang telah berizin OJK sejak 2016. Dengan 160+ produk reksadana dari 35 manajer investasi, kamu bisa memilih sesuai tujuan dan profil risiko. Dilengkapi fitur pembanding performa, riset pasar, dan rekomendasi ahli, Bareksa membantu kamu mulai investasi reksadana dengan mudah, aman, dan terarah dalam satu aplikasi.
(Sigma Kinasih CTA, CFP/Ni Putu Kurniasari/AM)
Tentang Penulis
* Sigma Kinasih adalah Investment Strategist Bareksa dengan pengalaman lebih dari 12 tahun di industri pasar modal. Memegang lisensi WMI, WPPE, CTA, dan CFP, ia berfokus pada riset makroekonomi, strategi portofolio, serta analisis reksadana, saham, emas dan SBN. Sigma meraih gelar Magister Ekonomi dari Universitas Trisakti.
***
DISCLAIMER
Investasi mengandung risiko dan seluruhnya menjadi tanggung jawab pribadi. Bareksa membuat informasi ini dari materi dan sumber-sumber terpercaya, serta tidak dipengaruhi pihak manapun. Informasi ini bukan merupakan ajakan, ataupun paksaan untuk melakukan transaksi dan Bareksa tidak memberikan jaminan atas transaksi yang dilakukan.
Investasi melalui reksa dana mengandung risiko. Calon pemodal wajib membaca dan memahami prospektus sebelum memutuskan untuk berinvestasi melalui reksa dana. Kinerja masa lalu tidak mencerminkan kinerja masa datang.
Karena sebelum konflik sekitar 20% pasokan minyak global melewati jalur tersebut. Gangguan berkepanjangan dapat menambah risiko pasokan dan tekanan harga energi.
IHSG melemah 1,53% di tengah meningkatnya risk-off akibat geopolitik dan menjelang sejumlah katalis penting, termasuk review MSCI.
RDPU memiliki karakter volatilitas yang umumnya lebih rendah dibanding reksadana saham atau obligasi berdurasi panjang dan dapat digunakan untuk menjaga likuiditas. Namun RDPU tetap merupakan produk investasi dan memiliki risiko.
Dalam jangka pendek kenaikan yield dapat menekan harga obligasi dan NAV RDPT. Namun yield yang lebih tinggi dapat membuka potensi titik masuk apabila kemudian pasar obligasi stabil atau yield kembali turun.
Emas dapat digunakan sebagai diversifikasi ketika risiko geopolitik meningkat, tetapi harganya tetap dapat terkoreksi sehingga tidak menjamin keuntungan.