
Bareksa – Aliran modal asing yang deras ke pasar obligasi Indonesia memperkuat daya tarik instrumen pendapatan tetap di tengah keputusan Bank Indonesia (BI) mempertahankan BI Rate di level 5,75%.
Sepanjang kuartal II 2026, investasi portofolio asing mencatat net inflows US$8,5 miliar, terutama ke Surat Berharga Negara (SBN) dan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI), dan tren tersebut masih berlanjut hingga Juli.
Bagi investor, kondisi ini menjadi sinyal positif karena didukung yield SBN 10 tahun yang masih tinggi di 7,374%, jauh di atas yield US Treasury 10 tahun sebesar 4,669%, serta rupiah yang relatif stabil di Rp17.998 per dolar AS. Kombinasi tersebut berpotensi menopang prospek ORI030, reksadana pendapatan tetap berbasis obligasi pemerintah, sekaligus menjaga daya tarik aset pendapatan tetap di tengah ketidakpastian global.
Bank Indonesia menyatakan aliran investasi portofolio asing pada kuartal II 2026 mencapai US$8,5 miliar, terutama didorong investasi pada SBN dan SRBI. Memasuki triwulan III hingga 20 Juli 2026, arus dana asing masih berlanjut dengan net inflows ke SBN sebesar US$0,1 miliar, menunjukkan kepercayaan investor global terhadap pasar obligasi Indonesia tetap terjaga.
Sementara itu, BI mempertahankan BI Rate di 5,75% untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dan inflasi, sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi nasional di tengah ketidakpastian global.
Tingginya minat investor mendorong pemerintah menaikkan kuota ORI030 dari sebelumnya menjadi Rp40 triliun, terdiri atas:
Seri | Tenor | Kupon Tetap | Kuota |
ORI030-T3 | 3 Tahun | 6,9% | Rp34 triliun |
ORI030-T6 | 6 Tahun | 7% | Rp6 triliun |
Sumber: Kemenkeu, diolah Bareksa
Hingga 24 Juli 2026 pagi, sisa kuota diperkirakan hanya sekitar Rp3,99 triliun, yaitu:
ORI030-T3 : tersisa Rp3,2 triliun
ORI030-T6 : tersisa Rp786 miliar
Dengan masa penawaran yang berlangsung hingga 30 Juli 2026, investor yang berminat dapat mencermati perkembangan sisa kuota karena pemesanan akan ditutup apabila kuota telah terpenuhi.
Derasnya aliran dana asing ke pasar obligasi berpotensi menopang harga SBN. Kondisi tersebut dapat menjadi sentimen positif bagi reksadana pendapatan tetap yang mayoritas berinvestasi di obligasi pemerintah.
Beberapa produk yang dapat dicermati antara lain:
Reksadana Pendapatan Tetap Rupiah
Produk | Return |
Allianz Fixed Income Fund 2 | 0,61% (1 Tahun) |
BNP Paribas Prima II Kelas RK1 | 0,40% (1 Tahun) |
Sumber: Bareksa kinerja per 23/7/2026
Reksadana Pendapatan Tetap USD
Bagi investor yang ingin melakukan diversifikasi mata uang, tersedia pula reksa dana pendapatan tetap berbasis dolar AS.
Produk | Return |
STAR Fixed Income Neo AI Dollar | 0,74% (3 Bulan) |
BNP Paribas Prima USD Kelas RK1 | 0,93% (1 Tahun) |
Sumber: Bareksa kinerja per 23/7/2026
Harga emas spot turun 2,02% menjadi US$4.047,80 per ons troi pada 23 Juli 2026 akibat penguatan dolar AS dan kenaikan yield obligasi pemerintah AS. Meski demikian, harga emas masih bertahan di atas level psikologis US$4.000, sehingga koreksi tersebut dapat menjadi momentum diversifikasi bagi investor jangka panjang.
Harga beli emas digital per gram:
Platform | Harga |
Treasury | Rp2.412.239 |
Indogold | Rp2.423.652 |
Pegadaian | Rp2.518.688 |
Sumber: fitur Bareksa Emas, kinerja per 24/7/2026 pagi
Dengan spread yield SBN yang masih menarik dan arus modal asing yang terus mengalir, investor dapat mencermati peluang pada instrumen pendapatan tetap sesuai tujuan investasinya.
Beberapa langkah yang dapat dipertimbangkan antara lain:
Mencermati sisa kuota ORI030 sebelum masa penawaran berakhir pada 30 Juli 2026.
Memanfaatkan momentum inflow asing yang berpotensi menopang harga obligasi dan kinerja reksa dana pendapatan tetap.
Melakukan diversifikasi melalui reksadana pendapatan tetap rupiah maupun USD sesuai profil risiko.
Menjadikan koreksi harga emas sebagai bagian dari strategi diversifikasi portofolio jangka panjang.
Keputusan BI mempertahankan BI Rate di 5,75% disertai aliran modal asing US$8,5 miliar ke SBN dan SRBI memperlihatkan daya tarik pasar obligasi Indonesia masih kuat. Di sisi lain, pemerintah menaikkan kuota ORI030 menjadi Rp40 triliun, namun sisa kuotanya kini tinggal sekitar Rp4 triliun, menandakan tingginya minat investor terhadap SBN ritel.
Bagi investor, kombinasi inflow asing, stabilnya rupiah, dan spread yield SBN yang masih kompetitif dapat menjadi momentum untuk mencermati ORI030 maupun reksa dana pendapatan tetap. Sementara itu, koreksi harga emas tetap relevan sebagai alternatif diversifikasi bagi portofolio jangka panjang.
Bareksa adalah pioneer aplikasi investasi SBN resmi yang memudahkan pembelian obligasi negara seperti ORI, SR, ST, dan SBR. Kamu dapat membandingkan imbal hasil, memahami risiko, dan mengikuti jadwal penerbitan dengan jelas. Cocok untuk investor yang mencari investasi aman dengan dukungan negara, semuanya tersedia dalam satu aplikasi investasi terpercaya.
(Sigma Kinasih CTA, CFP/Ni Putu Kurniasari/Romainah/AM)
Tentang Penulis
* Sigma Kinasih adalah Investment Strategist Bareksa dengan pengalaman lebih dari 12 tahun di industri pasar modal. Memegang lisensi WMI, WPPE, CTA, dan CFP, ia berfokus pada riset makroekonomi, strategi portofolio, serta analisis reksadana, saham, emas dan SBN. Sigma meraih gelar Magister Ekonomi dari Universitas Trisakti.
***
DISCLAIMER
Investasi mengandung risiko dan seluruhnya menjadi tanggung jawab pribadi. Bareksa membuat informasi ini dari materi dan sumber-sumber terpercaya, serta tidak dipengaruhi pihak manapun. Informasi ini bukan merupakan ajakan, ataupun paksaan untuk melakukan transaksi dan Bareksa tidak memberikan jaminan atas transaksi yang dilakukan.
Investasi melalui reksa dana mengandung risiko. Calon pemodal wajib membaca dan memahami prospektus sebelum memutuskan untuk berinvestasi melalui reksa dana. Kinerja masa lalu tidak mencerminkan kinerja masa datang.
Untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah, mengendalikan inflasi, sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi nasional di tengah meningkatnya ketidakpastian global.
Pemerintah melakukan upsize karena tingginya permintaan investor selama masa penawaran. Meski kuota sudah dinaikkan, sisa kuotanya kini tinggal sekitar Rp3,99 triliun.
Pemerintah melakukan upsize karena tingginya permintaan investor selama masa penawaran. Meski kuota sudah dinaikkan, sisa kuotanya kini tinggal sekitar Rp3,99 triliun.
Masih. ORI030 masih ditawarkan hingga 30 Juli 2026 atau selama kuota belum habis. Investor dapat melakukan pemesanan secara online melalui Bareksa sebagai mitra distribusi resmi.
Arus modal asing yang masuk ke pasar obligasi dapat meningkatkan harga SBN sehingga menjadi sentimen positif bagi reksa dana pendapatan tetap yang memiliki portofolio obligasi pemerintah.