
Bareksa – Eskalasi konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran kembali memanas setelah AS melancarkan serangan terhadap target-target Iran. Ketegangan tersebut memicu kekhawatiran terganggunya pasokan minyak melalui Selat Hormuz sehingga harga minyak dunia menguat lebih dari 1%, dengan WTI naik ke US$74,34 per barel dan Brent mencapai US$78,89 per barel pada Kamis pagi (9/7/2026).
Kenaikan harga minyak turut menjaga yield Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun Indonesia bertahan di atas 7%, yakni 7,25% pada 8 Juli. Di tengah kondisi tersebut, investor memburu Surat Berharga Negara (SBN) Obligasi Negara Rirel seri ORI030 yang menawarkan kupon tetap hingga 7%.
Hingga Kamis pagi (9/7), pemesanan nasional telah mencapai sekitar Rp3,12 triliun, terdiri dari ORI030T3 sebesar Rp2,36 triliun (19,7% dari target Rp12 triliun) dan ORI030T6 sebesar Rp760 miliar (9,5% dari target Rp8 triliun).
Ketidakpastian geopolitik biasanya meningkatkan volatilitas di pasar keuangan. Karena itu, investor dapat mempertimbangkan diversifikasi portofolio dengan memadukan instrumen berpendapatan tetap, reksadana pasar uang, dan emas sesuai profil risiko masing-masing.
Di tengah yield obligasi yang masih tinggi, ORI030 menjadi pilihan bagi investor yang ingin mengunci kupon tetap hingga jatuh tempo.
ORI030T3 : Kupon tetap 6,9% per tahun (tenor 3 tahun)
ORI030T6 : Kupon tetap 7% per tahun (tenor 6 tahun)
Selain kupon bulanan, investor juga berpeluang memperoleh capital gain apabila yield obligasi turun setelah ORI030 diperdagangkan di pasar sekunder.
Bagi investor yang masih menunggu perkembangan pasar, reksadana pasar uang dapat menjadi pilihan untuk menjaga likuiditas.
Reksadana Pasar Uang IDR
Produk | Return 1 Bulan | Return 1 Tahun |
Insight Money Syariah | 0,33% | 5,33% |
Syailendra Dana Kas | 0,41% | 4,7% |
Sumber: Bareksa, kinerja per 8/7/2026
Reksadana Pasar Uang USD
Produk | Return 1 Bulan | Return 1 Tahun |
Bahana Likuid USD | 0,23% | 2,76% |
Mandiri Money Market USD | 0,22% | 2,66% |
Sumber: Bareksa, kinerja per 8/7/2026
Kinerja reksadana pendapatan tetap dalam sebulan terakhir mulai menunjukkan perbaikan meski investor masih perlu mencermati volatilitas pasar obligasi.
Reksadana Pendapatan Tetap IDR
Produk | Return 1 Bulan | Return 1 Tahun |
Trimegah Dana Obligasi Nusantara | 1,06% | 6,48% |
Syailendra Sharia Fixed Income Fund Kelas A | 0,86% | 6,39% |
Sumber: Bareksa, kinerja per 8/7/2026
Bagi investor yang ingin melakukan diversifikasi ke aset berdenominasi dolar AS melalui obligasi pemerintah (INDON/INDOIS), beberapa pilihan yang dapat dicermati antara lain:
Produk | Return 1 Bulan |
Investa Dana Dollar Mandiri Kelas A | 0,55% |
STAR Fixed Income Neo AI Dollar | 1,04% |
Sumber: Bareksa, kinerja per 8/7/2026
Harga emas spot turun 0,74% ke US$4.076,04 per ons pada penutupan 8 Juli setelah risalah rapat The Fed yang bernada hawkish mendorong kenaikan yield US Treasury dan penguatan indeks dolar AS.
Meski demikian, World Gold Council (WGC) menilai prospek emas pada semester II 2026 masih positif. Dalam skenario dasar, harga emas diperkirakan bergerak sideways, namun berpotensi kembali menguat apabila pertumbuhan ekonomi global melambat, risiko geopolitik meningkat, atau bank sentral melonggarkan kebijakan moneternya.
WGC juga memperkirakan aksi bargain hunting akan muncul apabila harga emas terkoreksi lebih dari 10% dari level saat ini. Secara teknikal, support emas berada di US$4.075 per ons dan resistance di US$4.306 per ons.
Harga Beli Emas Digital (9 Juli 2026)
Treasury : Rp2.434.967
Pegadaian : Rp2.528.663
Indogold : Rp2.442.228*
Di tengah meningkatnya ketidakpastian geopolitik, investor dapat mempertimbangkan strategi diversifikasi. ORI030 menawarkan kupon tetap hingga 7% untuk mengunci imbal hasil, reksadana pasar uang dapat membantu menjaga likuiditas, reksadana pendapatan tetap mulai menunjukkan pemulihan kinerja, sementara pelemahan harga emas dapat menjadi peluang akumulasi bertahap bagi investor jangka panjang.
Bareksa adalah pioneer aplikasi investasi SBN resmi yang memudahkan pembelian obligasi negara seperti ORI, SR, ST, dan SBR. Kamu dapat membandingkan imbal hasil, memahami risiko, dan mengikuti jadwal penerbitan dengan jelas. Cocok untuk investor yang mencari investasi aman dengan dukungan negara, semuanya tersedia dalam satu aplikasi investasi terpercaya.
(Sigma Kinasih CTA, CFP/Rahmat Hidayat/Ni Putu Kurniasari/AM)
Tentang Penulis
* Sigma Kinasih adalah Investment Strategist Bareksa dengan pengalaman lebih dari 12 tahun di industri pasar modal. Memegang lisensi WMI, WPPE, CTA, dan CFP, ia berfokus pada riset makroekonomi, strategi portofolio, serta analisis reksadana, saham, emas dan SBN. Sigma meraih gelar Magister Ekonomi dari Universitas Trisakti.
*Rahmat Hidayat adalah Investment Specialist Bareksa dengan pengalaman lebih dari 7 tahun di bidang investasi dan produk finansial digital. Ia aktif mengembangkan produk pasar modal dan memberikan edukasi keuangan kepada masyarakat, serta memegang lisensi WPPE.
***
DISCLAIMER
Investasi mengandung risiko dan seluruhnya menjadi tanggung jawab pribadi. Bareksa membuat informasi ini dari materi dan sumber-sumber terpercaya, serta tidak dipengaruhi pihak manapun. Informasi ini bukan merupakan ajakan, ataupun paksaan untuk melakukan transaksi dan Bareksa tidak memberikan jaminan atas transaksi yang dilakukan.
Investasi melalui reksa dana mengandung risiko. Calon pemodal wajib membaca dan memahami prospektus sebelum memutuskan untuk berinvestasi melalui reksa dana. Kinerja masa lalu tidak mencerminkan kinerja masa datang.
ORI030 menawarkan kupon tetap 6,9% untuk tenor 3 tahun dan 7% untuk tenor 6 tahun. Di tengah yield obligasi pemerintah yang masih bertahan di atas 7%, instrumen ini menjadi pilihan untuk mengunci imbal hasil sekaligus berpotensi memperoleh capital gain jika yield turun.
Hingga Kamis pagi (9/7), pemesanan nasional ORI030 mencapai sekitar Rp3,12 triliun, terdiri dari ORI030T3 Rp2,36 triliun dan ORI030T6 Rp760 miliar.
Investor dapat mempertimbangkan reksadana pasar uang untuk menjaga likuiditas, sementara reksadana pendapatan tetap dapat menjadi pilihan bagi investor yang ingin memanfaatkan peluang di pasar obligasi sesuai profil risikonya.
Harga emas melemah karena kenaikan yield US Treasury dan penguatan dolar AS setelah risalah rapat The Fed memperkuat ekspektasi suku bunga tetap tinggi. Namun, World Gold Council menilai prospek emas semester II 2026 masih positif.
Investor dapat menerapkan strategi diversifikasi, misalnya memadukan ORI030 untuk pendapatan tetap, reksa dana pasar uang untuk likuiditas, reksa dana pendapatan tetap untuk potensi kenaikan harga obligasi, serta melakukan akumulasi bertahap pada emas apabila harga kembali melemah.